Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sulvi Sofiana
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Layar film menjadi cara baru Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya membicarakan persoalan yang selama ini kerap dianggap sensitif di lingkungan kampus.
Lewat film pendek 'Kita yang Menulis Cerita', Untag Surabaya mengangkat isu kekerasan seksual sekaligus mengajak mahasiswa melihat pentingnya empati, keberanian bersikap, dan tanggung jawab sosial ketika menghadapi persoalan di lingkungan perguruan tinggi.
Film tersebut berkisah tentang sekelompok mahasiswa yang menghadapi dilema moral saat mengerjakan karya antologi.
Dari persoalan yang muncul dalam cerita, mahasiswa diajak memahami bagaimana sebuah masalah seharusnya disikapi dengan tetap berpegang pada nilai-nilai yang menjadi landasan kampus.
Rektor Untag Surabaya, Dr Harjo Seputro mengatakan penggunaan film merupakan pendekatan baru kampus untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Ini pemikiran baru kita untuk mengenalkan Untag Surabaya, mengenalkan nilai-nilai Untag Surabaya melalui film,” kata Harjo, Jumat (14/8/2026).
Baca juga: Atasi Banjir Tahunan, UNISLA Gandeng UTHM Malaysia & Untag Surabaya Gelar KKN Biopori di Lamongan
Menurut Harjo, film tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Untag menginternalisasi lima basis nilai yang diusung kampus. Nilai itu mencakup kejujuran, keberadaban, kreativitas, dan kebangsaan.
Melalui karya audiovisual, kampus ingin membuka ruang pembicaraan terhadap berbagai persoalan yang mungkin terjadi di lingkungan pendidikan tinggi. Termasuk kekerasan seksual dan perundungan.
“Ini bagian dari komitmen kami Untag Surabaya untuk berani jujur, terbuka, dan tidak tabu mendiskusikan hal-hal yang sensitif, tidak ada kekerasan seksual, bullying, dan lain-lain,” ujarnya.
Harjo menilai pendekatan melalui film lebih dekat dengan karakter generasi muda. Selama ini, pengenalan perguruan tinggi kepada masyarakat banyak dilakukan melalui pola promosi konvensional.
Film dinilai dapat menjadi medium alternatif untuk menyampaikan identitas dan nilai kampus dengan cara yang lebih kreatif.
Produksi film juga melibatkan mahasiswa dari sejumlah unit kegiatan mahasiswa (UKM). Di antaranya UKM sinematografi, teater, fotografi, dan musik.
“Produksi film melibatkan sejumlah unit kegiatan mahasiswa (UKM). Mulai dari sinematografi, teater, fotografi, dan musik,” ungkapnya.
Keterlibatan mahasiswa tidak hanya menjadi bagian dari proses produksi. Harjo menyebut kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang pembelajaran untuk mengasah kompetensi kreatif dan pengalaman mahasiswa dalam menghasilkan karya audiovisual.
Film Kita yang Menulis Cerita nantinya tidak hanya dinikmati sivitas akademika. Setelah dipublikasikan, karya tersebut juga dapat disaksikan masyarakat umum.
Wakil Rektor II Untag Surabaya, Supangat mengatakan cerita dalam film mengambil fenomena yang berkembang secara nasional. Namun, persoalan tersebut kemudian dikemas melalui sudut pandang mahasiswa dan dikaitkan dengan nilai-nilai Untag.
Menurut Supangat, pesan utama film bukan sekadar menggambarkan persoalan, melainkan menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat mengambil sikap ketika menghadapi masalah di lingkungan kampus.
“Andaikata mungkin nanti akan terjadi di kampus, bagaimana kita menyikapi sebuah masalah itu, nah itu bisa ada solusinya seperti dari alur tadi,” jelasnya.