WARTAKOTALIVE.COM, KUNINGAN — PT PLN (Persero) melalui PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jakarta Raya Regional Jakarta Pusat menggelar Multi Stakeholder Forum 2026 untuk membahas kesiapan ketenagalistrikan dalam mendukung pertumbuhan industri data center dan ekosistem digital.
Forum bertema “Kesiapan Ketenagalistrikan Dalam Rangka Mendukung Ekosistem Digital yang Andal dan Kompetitif Tahun 2026” itu berlangsung di Ballroom Manhattan Hotel Jakarta, Kuningan, Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan PLN dengan sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Ichsan Zukarnaen, Chairman Indonesia Data Center Provider (IDPRO) Hendra Suryakusuma, serta pelanggan PLN dari industri data center.
Acara ini juga dihadiri sejumlah manajer UP3 PLN UID Jaya, di antaranya Manajer PLN UP3 Menteng Robin Septavyn, Manajer PLN UP3 Bulungan Ari Tirtaprawita, Manajer PLN UP3 Cempaka Putih Supriyadi, Manajer PLN UP3 Jatinegara Andi Seno Hendriatmoko, Manajer PLN UP3 Lenteng Agung Yuniar Budi Satrio, Manajer Layanan Prioritas dan PAE PLN UID Jaya Agus Salim, Manajer Logistik dan Transportasi Elise Juanita, serta Assistant Manager Pemasaran dan Bisnis Inovatif PLN Electricity Services Unit Pelaksana 5 DKI dan Banten Bintang Dewan Tomo.
Manager PLN UP3 Lenteng Agung Yuniar Budi Satrio, selaku keynote speaker dalam acara ini, mengatakan, kebutuhan industri data center terhadap listrik bukan hanya menyangkut ketersediaan daya.
Menurutnya, industri tersebut membutuhkan pasokan listrik yang andal, berkualitas, memiliki kepastian, serta fleksibel mengikuti kebutuhan bisnis.
“Tak hanya sekadar daya, lebih dari itu industri data center membutuhkan keandalan, kualitas, kepastian, dan tentunya fleksibilitas layanan, serta kemampuan untuk tumbuh bersama memenuhi kebutuhan bisnis pelanggannya,” ujar Yuniar.
Dia juga mengatakan perkembangan ekonomi digital, cloud computing, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dan transformasi digital membuat data center menjadi salah satu infrastruktur strategis bagi perekonomian nasional.
Karena itu, PLN berupaya memperkuat perannya tidak hanya sebagai penyedia listrik, tetapi juga sebagai mitra energi bagi industri data center.
“Untuk itu, PLN ingin menempatkan diri bukan hanya sebagai electricity provider, namun juga sebagai strategic energy partner bagi industri data center,” ungkapnya.
Dalam hal ini PLN juga mendukung industri digital ini lewat dukungan dari subholding PLN Electricity Services (ES) dan PLN Icon Plus sebagai dukungan hilirisasi investasi.
PT PLN ES merupakan anak usaha PT PLN (Persero) yang bergerak di bidang penyedia solusi layanan operasi, pemeliharaan, serta konstruksi dan manajemen aset untuk instalasi pembangkitan, transmisi, dan distribusi tenaga listrik.
Sementara PLN Icon Plus adalah anak usaha PLN yang bergerak di bidang teknologi informasi dan komunikasi.
Peluang Besar di Industri Digital
Sementara, Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Ichsan Zukarnaen menyambut positif forum yang mempertemukan pemerintah, PLN, pelaku industri, dan pemangku kepentingan sektor digital tersebut.
Menurut Ichsan, forum semacam ini penting agar pemerintah dapat mengetahui secara langsung kebutuhan industri, termasuk target dan tantangan yang dihadapi pelaku usaha.
“Kami berharap bahwa pertemuan-pertemuan seperti ini terus digalakkan agar kami dari pemerintah juga bisa menangkap apa yang sebetulnya akan menjadi kebutuhan dan juga target-target yang diharapkan oleh masyarakat, khususnya terkait dengan sektor digital ini,” ujar Ichsan.
Ia mengatakan Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan industri digital karena didukung pasar pengguna internet yang besar serta ruang kebijakan yang masih dapat dikembangkan.
“Kita memiliki pasar yang sangat besar, pasar pengguna internet yang besar, kita memiliki ruang kebijakan yang juga cukup besar, jadi kita akan berusaha untuk terus menutup gap antara kebutuhan dan juga kapasitas yang ada,” katanya.
Meski demikian, Ichsan menyebut masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan, terutama menyangkut ketersediaan infrastruktur dan sumber daya manusia.
“Pertama tentu saja adalah ketersediaan infrastruktur ya, jadi ada infrastruktur terkait dengan ketersediaan listrik, energi, kemudian juga ketersediaan sumber daya manusia,” ujarnya.
Butuh Energi Besar
Sementara itu, Chairman IDPRO Hendra Suryakusuma mengatakan industri data center merupakan sektor yang memiliki kebutuhan energi sangat besar.
Kebutuhan tersebut semakin meningkat seiring dengan implementasi AI yang membutuhkan kapasitas komputasi lebih tinggi.
“Industri kami adalah industri yang sangat power hungry dengan adanya AI implementation yang lebih banyak di industri kami,” ujar Hendra.
Menurut Hendra, peluang pengembangan data center di Indonesia masih sangat besar. Pertumbuhan jumlah pengguna internet turut meningkatkan volume data yang harus diproses, dianalisis, ditransfer, dan disimpan.
“Jadi ada 212 juta penduduk yang sudah menggunakan internet. Artinya jumlah data yang di generate, di transfer, di proses, di analisa dan disimpan ini makin besar dan semuanya itu butuh data center,” kata Hendra.
Ia menjelaskan, perkembangan AI juga mengubah kebutuhan komputasi industri data center. Beban komputasi yang sebelumnya banyak mengandalkan CPU kini semakin bergeser ke GPU.
“Jadi kalau kita lihat yang tadinya kita melakukan compute load berdasarkan CPU server sekarang sudah di GPU server dan tentunya itu membutuhkan data center yang jauh lebih besar lagi kapasitasnya,” ujarnya.
Perubahan tersebut turut berdampak pada kebutuhan daya listrik pada data center.
Hendra menyebut kebutuhan daya yang sebelumnya berada di kisaran 10 kilowatt per rak server kini dapat meningkat hingga lebih dari 135 kilowatt.
“Tentunya ini butuh energi yang besar untuk industri data center ke depannya,” katanya.
Hendra menilai PLN memiliki posisi strategis dalam menopang perkembangan industri data center di Indonesia karena energi merupakan salah satu komponen utama dalam ekosistem digital.
“Komponen terbesar dari pilar kedaulatan digital adalah kedaulatan energi dan PLN di Indonesia adalah pemain utamanya,” pungkasnya. (dip)