Saepul Rohman Sulap Galon Bekas Jadi Dekorasi Merah Putih di Gang Duren Tiga
Feryanto Hadi August 14, 2026 05:34 PM

 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Ramadhan L Q

WARTAKOTALIVE.COM, PANCORAN - Tumpukan galon bekas bagi sebagian orang mungkin hanya dianggap sebagai sampah.

Namun, di tangan Saepul Rohman (62), barang yang tak lagi terpakai itu disulap menjadi pot bunga, burung-burungan, hingga berbagai karakter yang mempercantik lingkungan.

Pria yang akrab disapa Bang Ipul itu memanfaatkan galon bekas untuk menghias Gang Jalan Timo Terusan, RT 011 RW 3, Kelurahan Duren Tiga, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

Kreasi tersebut dibuat dengan nuansa merah putih untuk menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia. Galon yang telah dihias kemudian digantung melintang di atas gang sehingga menciptakan suasana berbeda.

Berawal dari Galon Bekas yang Menumpuk

Saepul mengatakan, ide tersebut muncul setelah melihat banyak galon bekas yang tidak terpakai.

Ia kemudian berpikir untuk mengubahnya menjadi pot agar lingkungan sekitar terlihat lebih hijau dan menarik.

"Ya awalnya banyak ini, galon-galon bekas ya gitu kan. Saya kepikiran, ah bikin pot aja dah, biar bagus ini, tempat lingkungan, biar bagus, biar hijau gitu kan," ujar Saepul saat ditemui dekat rumahnya, Jumat (14/8/2026).

Dari pot bunga, kreativitasnya berkembang. Ia mulai membuat berbagai bentuk, seperti burung-burungan dan karakter lainnya.

Kegiatan tersebut awalnya hanya dilakukan sebagai pengisi waktu luang. Saepul bukan perajin yang menjadikan karya barang bekas sebagai pekerjaan utama.

Sehari-hari, ia bekerja di bidang dekorasi, terutama dekorasi pernikahan.

"Saya bukan kerja di sini. Pekerjaan saya di wedding. Kalau ini bukan fokus, istilahnya iseng saja," katanya.

Meski hanya berawal dari keisengan, karya Saepul perlahan mendapat perhatian warga.

Galon bekas hiasan HUT RI
MANFAATKAN BARANG BEKAS - Tumpukan galon bekas bagi sebagian orang mungkin hanya berakhir sebagai sampah. Namun, di tangan Saepul Rohman (62), benda-benda yang tak lagi terpakai itu berubah menjadi pot bunga, burung-burungan, hingga berbagai karakter yang menghiasi lingkungan. (Dok: Ramadhan L Q)

Warga Ikut Mengumpulkan Galon Bekas

Saepul mulai memanfaatkan galon bekas sekitar empat tahun lalu. Pada awalnya, ia harus mencari sendiri bahan yang diperlukan. Sesekali ia bahkan membeli galon bekas dari pemulung dengan harga sekitar Rp5.000.

Namun, kebiasaan tersebut akhirnya diketahui warga. Kini, warga justru ikut menyimpan galon bekas untuk diberikan kepadanya.

"Ipul, nih ada galon banyak. Ada 15, ada 10," kata Saepul menirukan warga yang memberikan galon bekas.

Dukungan warga membuatnya lebih mudah memperoleh bahan. Galon yang telah selesai dihias biasanya diberikan kembali kepada warga atau digunakan untuk mempercantik lingkungan.

Untuk kreasi sederhana seperti pot bunga, Saepul mematok harga sekitar Rp5.000. Bahkan, jika ada warga yang membutuhkan, ia tidak keberatan memberikan secara cuma-cuma.

"Kalau yang sudah jadi, kalau ada yang mau silakan ambil," ujarnya.

Pesanan dari luar lingkungan juga mulai berdatangan. Namun, Saepul tidak selalu bisa memenuhi permintaan dalam jumlah banyak karena tidak memiliki pemasok galon bekas khusus.

"Bukan saya tidak mau. Waktunya mepet. Saya harus cari bahannya dulu," katanya.

Modal Utama Hanya Cat dan Lem

Berbeda dengan usaha kerajinan pada umumnya, Saepul tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk mendapatkan bahan utama. Sebagian besar galon bekas diperoleh dari pemberian warga.

Pengeluaran yang harus disiapkan terutama untuk membeli cat dan perlengkapan sederhana seperti lem.

"Cat beli sendiri. Saya tidak pernah minta sama warga. Ke mana pun saya tidak mau," ujarnya.

Bagi Saepul, kegiatan tersebut bukan sekadar mencari keuntungan. Ia menikmati proses mengubah barang yang dianggap tidak berguna menjadi sesuatu yang memiliki nilai estetika.

Karena itu, ia tidak keberatan menjual hasil karyanya dengan harga murah atau memberikannya kepada warga yang membutuhkan.

Tak Hanya Galon, Pernah Bikin Ondel-ondel

Kreativitas Saepul tidak terbatas pada galon. Wadah bekas cat bangunan juga pernah dimanfaatkannya menjadi media gambar dan pot.

Karya yang paling rumit adalah sepasang ondel-ondel dari barang bekas. Untuk membuat satu pasang, Saepul membutuhkan waktu hingga dua hari.

Proses pembuatannya juga membutuhkan ketelitian. Beberapa bagian material yang cukup keras harus dilubangi menggunakan besi yang dipanaskan.

"Yang paling lama itu ondel-ondel. Bisa satu pasang dua hari," katanya.

Sementara itu, kreasi sederhana seperti pot dapat diselesaikan sekitar 10 menit untuk satu buah.

Seluruh proses pengerjaan dilakukan seorang diri. Saepul tidak memiliki kru khusus untuk membantunya.

"Semua saya sendiri. Tidak ada yang bantu," ujarnya.

Berbekal Hobi Menggambar Sejak SD

Kemampuan Saepul dalam membuat berbagai kreasi tidak muncul secara tiba-tiba. Ia mengaku telah gemar menggambar sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Kegemarannya itu bahkan membuatnya kerap mendapat nilai tinggi dalam pelajaran menggambar.

"Ya kalau dari SD kecil ya gambar, tukang gambar doang gitu kan. Istilahnya dapat nilai 8, 9, 8, 9 gitu aja enggak sampai 10 sih, ada yang lebih bagus lagi ya gitu kan," tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, Saepul mempelajari berbagai keterampilan. Ia pernah bekerja di bidang bangunan dan kayu sebelum menekuni dunia dekorasi.

"Saya cari ini ilmunya aja gitu, bidang kayu gimana, bidang ini gimana, oh saya tahu. Saya lepas, terus masuk ke bidang kayu, oh tahu caranya gitu. Masuk ke dekor ini gitu kan tahu caranya," sambungnya.

Ia juga pernah bergabung dengan kru perfilman di kawasan Mampang Prapatan dan membuat berbagai replika dari styrofoam.

Berbagai pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal bagi Saepul dalam menekuni pekerjaan dekorasi pernikahan hingga sekarang.

Bagi Saepul, barang bekas bukan sekadar benda yang harus dibuang. Dengan kreativitas dan keterampilan, benda tersebut masih bisa diubah menjadi karya yang memperindah lingkungan sekaligus menginspirasi warga

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.