Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Di depan halaman SD Trinitas Bandar Lampung yang berlokasi di Jl. Mr. Moch Roem No. 15, Sumur Putri, Kecamatan Telukbetung Selatan, Kota Bandar Lampung, Lampung 35221, tampak dua orang anak mengenakan pakaian wushu lengkap Jumat (14/8/2026).
Baca juga: Cerita 2 Siswa SMP Global Madani Tekuni Renang hingga Sukses Kumpulkan Medali
Masing-masing memegang tongkat dan pedang sebagai perlengkapan latihan. Keduanya berdiri dengan sikap siap dan penuh percaya diri untuk memperagakan beberapa jurus wushu.
Usia yang masih belia tidak menjadi penghalang bagi Nathaniel Barnabas Wirya dan Jocelyn Nathania Susanto untuk menekuni olahraga Wushu.
Di tengah kesibukan sebagai pelajar, keduanya terus berlatih, mengikuti berbagai kejuaraan, dan mengoleksi medali.
Nathaniel Barnabas Wirya, siswa kelas 3 SD Trinitas, telah menekuni Wushu sejak duduk di Taman Kanak-kanak (TKA), saat usianya sekitar empat tahun. Artinya, sudah sekitar empat tahun Nathaniel menjalani perjalanan di dunia Wushu.
“Saya ikut wushu dari TK karena tertarik saat melihat video wushu di televisi,” tuturnya Jumat (14/8/2026).
Ketertarikannya bermula dari keinginan sederhana untuk mencoba. Setelah menekuni wushu selama beberapa bulan, ia memberanikan diri untuk mengikuti perlombaan.
Dari pengalaman pertama mengikuti perlombaan, Nathaniel justru semakin menyukai Wushu karena menurutnya olahraga tersebut seru dan membuatnya bisa bertemu banyak teman.
Perjalanan Nathaniel pun diwarnai kemenangan sekaligus kekalahan. Ia mengaku pernah merasa sedih ketika kalah dalam pertandingan. Namun, rasa kecewa itu tidak membuatnya menyerah.
“Saat kalah tentunya sedih, tapi nggak nyerah,” demikian semangat Nathaniel saat menceritakan pengalamannya mengikuti perlombaan.
Untuk menghadapi kompetisi, intensitas latihan Nathaniel bisa meningkat. Jika tidak ada lomba, ia berlatih sekitar empat kali dalam seminggu.
Menjelang perlombaan, frekuensi latihan dapat bertambah menjadi lima kali seminggu. Selain itu, ia juga tetap berlatih di rumah setiap hari bersama sang mama.
Menariknya, sang mama bukan atlet Wushu. Ia mendampingi Nathaniel berlatih dengan memanfaatkan video-video latihan yang tersedia di YouTube.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Nathaniel dalam mengembangkan kemampuannya.
Saat tampil di depan banyak orang, Nathaniel juga memiliki cara sederhana untuk mengatasi rasa gugup. Ia berusaha menganggap suasana perlombaan seperti sedang menjalani latihan biasa.
“Anggap seperti latihan,” menjadi salah satu cara Nathaniel menjaga konsentrasi ketika harus tampil di hadapan banyak orang.
Kerja keras tersebut membuahkan sejumlah prestasi. Pada Dragons Competition yang berlangsung 6–9 Juli 2026, Nathaniel berhasil meraih Juara 1 dan medali emas.
Sebelumnya, ia juga mencatat prestasi di berbagai kejuaraan Wushu, termasuk Siger Bandar Lampung Champion dan Wushu School and Traditional Championship.
Berikut sejumlah prestasi Nathaniel:
Bagi Nathaniel, perjalanan mengikuti perlombaan juga membawanya ke berbagai daerah. Salah satu pengalaman yang paling jauh adalah mengikuti perlombaan di Surabaya.
Selain Nathaniel, Jocelyn juga sudah empat tahun menekuni Wushu. Semangat yang sama juga terlihat pada Jocelyn Nathania Susanto, siswi kelas 2 SD Trinitas.
Jocelyn telah mengikuti latihan Wushu secara rutin dan hingga kini telah mengantongi sejumlah prestasi dari berbagai kejuaraan.
Dalam persiapannya menghadapi lomba, Jocelyn menjalani latihan sekitar tiga kali dalam seminggu. Latihan tersebut menjadi rutinitas yang harus dijalani dengan disiplin, terutama ketika mendekati pertandingan.
Menjalani latihan secara rutin sejak usia dini bukan perkara mudah. Namun, Jocelyn tetap menikmati prosesnya. Dukungan keluarga dan semangat untuk terus belajar menjadi bagian dari perjalanannya sebagai atlet cilik.
Prestasi Jocelyn juga terus berkembang dari tahun ke tahun. Ia berhasil meraih medali perak dalam beberapa kejuaraan dan kemudian kembali naik podium dengan medali perunggu.
Prestasi Jocelyn antara lain:
Bagi Nathaniel dan Jocelyn, Wushu bukan sekadar tentang memenangkan pertandingan dan membawa pulang medali.
Latihan rutin mengajarkan mereka disiplin, keberanian tampil di depan umum, serta kemampuan untuk menerima kemenangan maupun kekalahan.
Bagi mereka, setiap pertandingan menjadi pengalaman baru. Menang tentu membahagiakan, tetapi kalah bukan alasan untuk berhenti.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)