Laporan Wartawan TribunJatim.com, Pramita Kusumaningrum
TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO — Persediaan pangan di wilayah Kabupaten Ponorogo berada dalam kondisi sangat aman.
Perum Bulog Kantor Cabang (Kancab) Ponorogo mencatat ketersediaan beras di gudang storage saat ini mencapai 102.000 ton setara beras.
Jumlah persediaan tersebut menjadi rekor terbanyak sepanjang sejarah berdirinya Kancab Bulog Ponorogo.
Stok ini diproyeksikan mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun, bahkan bertahan sampai momen Lebaran 2027 mendatang.
Pimpinan Cabang Bulog Ponorogo, Budiwan Susanto, menegaskan bahwa ketersediaan pangan di wilayahnya sangat melimpah dan siap menghadapi potensi kemarau panjang.
Baca juga: Disnaker Jadi Favorit, 39 Pelamar JPT Pemkab Ponorogo Lolos Administrasi Termasuk Pejabat Madiun
“Stok di gudang kami melimpah, bisa bertahan sampai awal Lebaran 2027. Sangat-sangat aman. Ini stok terbanyak sepanjang sejarah Bulog Ponorogo berdiri,” tegas Budiwan Susanto, Jumat (14/8/2026).
Kondisi stok yang aman ini menjadi angin segar di tengah ancaman fenomena El Nino 2026 yang diprediksi meningkatkan potensi kemarau lebih kering dan panjang pada Agustus hingga September.
Budiwan menjelaskan, tingginya cadangan beras tersebut tidak lepas dari keberhasilan program modernisasi sektor pertanian di daerah, seperti masifnya bantuan pompanisasi dan percepatan masa tanam oleh para petani.
“Mekanisasi dan pompanisasi dari dinas pertanian sangat berpengaruh. Daerah yang awalnya panen satu atau dua kali, sekarang bisa dua sampai empat kali setahun,” jelasnya.
Selain stok beras yang menumpuk di gudang, capaian penyerapan beras/gabah petani oleh Bulog Ponorogo sepanjang tahun 2026 juga hampir menyentuh angka sempurna.
Dari target yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar 79.200 ton, Bulog Ponorogo telah menyerap 78.500 ton atau setara 99 persen.
Meskipun target hampir 100 persen tuntas, Bulog memastikan akan terus menyerap hasil panen masyarakat di beberapa kecamatan yang baru memasuki masa panen musim kedua, seperti di wilayah Kauman, Sukorejo, dan Babadan.
“Instruksi pemerintah pusat mewajibkan Bulog untuk tetap menyerap sepanjang tahun. Artinya, ketika masih ada potensi panen dari petani, kami akan terus menyerap meskipun target awal sudah terpenuhi 100 persen,” pungkas Budiwan.