Tribunlampung.co.id, Pesawaran – UPTD Museum Ketransmigrasian Lampung di Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, menutup sementara layanan kunjungan masyarakat pada 14-18 Agustus 2026.
Baca juga: Rumah Tua Kolonial Bagelen Pesawaran, Saksi Bisu Transmigrasi Belanda 1905
Penutupan dilakukan karena museum tengah melaksanakan kegiatan fumigasi koleksi sebagai bagian dari upaya perawatan dan pelestarian benda-benda koleksi museum.
Kasi Teknis UPTD Museum Ketransmigrasian Lampung, Nurhani mengatakan, fumigasi dilakukan untuk menjaga kondisi koleksi agar tetap terawat dan terhindar dari kerusakan akibat hama maupun faktor lainnya.
"Penutupan sementara ini karena sedang dilaksanakan kegiatan fumigasi koleksi museum," kata Nurhani kepada Tribun Lampung, Jumat (14/8/2026).
Fumigasi merupakan proses pengendalian hama menggunakan bahan tertentu dalam bentuk gas atau uap untuk membasmi organisme pengganggu yang berpotensi merusak benda koleksi.
Proses ini menjadi salah satu upaya perawatan untuk menjaga koleksi museum, terutama benda-benda yang rentan mengalami kerusakan akibat hama.
Nurhani menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari perawatan koleksi agar benda-benda bersejarah yang tersimpan di Museum Ketransmigrasian Lampung tetap terjaga.
Selama proses fumigasi berlangsung, masyarakat untuk sementara tidak dapat melakukan kunjungan ke museum.
Penutupan dilakukan agar proses perawatan koleksi dapat berjalan dengan baik.
Museum Ketransmigrasian Lampung akan kembali dibuka untuk kunjungan masyarakat mulai 19 Agustus 2026.
Nurhani berharap masyarakat dapat memahami penutupan sementara tersebut karena dilakukan untuk kepentingan perawatan dan pelestarian koleksi museum.
“Setelah kegiatan selesai, museum akan kembali dibuka untuk kunjungan pada 19 Agustus 2026,” ujarnya.
Museum Ketransmigrasian Lampung merupakan salah satu tempat yang menyimpan berbagai koleksi dan informasi mengenai sejarah transmigrasi, khususnya perjalanan transmigrasi di Lampung.
Perawatan koleksi menjadi bagian penting untuk menjaga warisan sejarah tersebut agar tetap dapat dipelajari dan dinikmati masyarakat.
( Tribunlampung.co.id / Oky Indrajaya )