Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sejumlah pelatih tim futsal dari berbagai sekolah di wilayah Soloraya berharap agar kompetisi Tribun Putih Abu-Abu Futsal (TPAAF) bisa menjadi agenda turnamen antar-SMA/SMK tahunan.
Harapan itu diungkapkan oleh sejumlah pelatih tim futsal sekolah yang menjadi peserta TPAAF 2026 Seri Solo yang digelar di GOR UTP Karanganyar mulai Selasa (11/8/2026) hingga Selasa (18/8/2026).
Bukan tanpa alasan, menurut sejumlah pelatih, TPAAF 2026 membawa warna baru dibandingkan dengan kompetisi futsal yang sudah ada di wilayah Soloraya.
Salah satu yang cukup diapresiasi adalah penerapan waktu 20 menit per babak. Penerapan aturan itu dinilai sangat membantu pengembangan atlet futsal muda.
Pelatih SMA Negeri 3 Solo, Sabdoadi Dany Saputro, menganggap penyelenggaraan TPAAF 2026 bisa menjadi ajang meningkatkan pengalaman bermain para pemain.
"Saya sebagai pelatih senang banget dan sangat support karena memang level anak-anak ini masih grassroot dan butuh jam terbang sangat banyak. Jadi waktu 20 menit (per babak) sangat membantu anak untuk berkembang," ungkap Sabdoadi.
"Kebanyakan turnamen 10 menitan per babak. Kalau 20 menit semua bisa bermain lebih lama lagi," lanjutnya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Pelatih SMA Wali Songo Sragen, Meica Henriyana, yang menganggap penerapan aturan seperti yang dilakukan di TPAAF 2026 bisa diikuti oleh penyelenggara turnamen futsal lainnya di Soloraya.
"Buat saya sebagai pelatih, mengapresiasi event Tribun Putih Abu-Abu agar semua event yang lain bisa mengikuti. Bukan tentang jumlah penonton, tapi tentang kualitas pertandingan, kualitas penyelenggaraan bisa mencontoh event Tribun Putih Abu-Abu," terang dia.
Sementara itu, Pelatih SMA Negeri 4 Solo, Muhammad Rifai, menyebut penyelenggaraan TPAAF 2026 sudah mendekati kompetisi futsal profesional.
"Saya sangat mengapresiasi, ini baru pertama kali di Kota Solo dengan regulasi yang menurut saya mendekati profesional. Ini harusnya bisa menjadi target anak-anak ke depannya. Semoga bisa dilaksanakan per tahun," kata Rifai.
Pelatih SMA Negeri Kebakkramat Karanganyar, Tony Anang, juga mengapresiasi keberanian panitia TPAAF 2026 dengan menerapkan aturan 20 menit per babak.
Menurut Tony, penerapan 20 menit per babak sangat membantu para pemain muda mengimplementasikan taktik yang diarahkan pelatih. Dengan demikian, taktik atau skema permainan bisa semakin jelas dipahami para pemain.
Bahkan, penerapan aturan itu juga berpengaruh pada mental bermain para pemain.
Baca juga: Hasil TPAAF Solo Series 16 Besar: SMA Kebakkramat Tekuk SMAN 3 Surakarta 3-1, Melaju ke 8 Besar
"Bagus banget. Soalnya sangat jarang banget turnamen di Solo maupun di Jawa Tengah, 20 menit itu sangat enak banget buat taktikal, buat rotasi pemain. Biasanya di Solo itu 10 menit per babak. Dan beda banget dari anak-anak menyesuaikan diri di lapangan, rasa tergesa-gesa karena waktu terus berjalan," urai Tony.
Ungkapan serupa juga disampaikan Pelatih SMA Batik 1 Solo, Mahesa Ceppy, yang mengatakan selama 10 tahun melatih tim tersebut dan mengikuti berbagai turnamen futsal antarsekolah, penyelenggaraan TPAAF 2026 bisa menjadi ajang para pemain naik level menuju profesional.
"Dari seluruh turnamen selama 10 tahun saya melatih, ini turnamen untuk jenjang SMA paling keren karena sudah menggunakan aturan 2 kali 20 menit. Semoga turnamen lainnya bisa mencontoh ini," jelas dia.
Sementara itu, Pelatih SMA ABBS Solo, Bagus Abid, menyebut dalam pengembangan atlet muda, rasa menikmati pertandingan menjadi hal yang utama bagi para pemain.
Menurutnya, penyelenggaraan turnamen futsal seperti TPAAF 2026 Seri Solo yang menerapkan aturan 20 menit per babak mampu menunjang hal tersebut.
"Saya rasa anak-anak jadi lebih menikmati game, bisa merasakan benar-benar real futsal," pungkasnya. (*)