RAPBN 2027, Menteri Purbaya: Defisit Dirancang 2,40 Persen
Seno Tri Sulistiyono August 14, 2026 08:35 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dengan defisit maksimal sebesar 2,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dalam RAPBN 2027, pendapatan negara diproyeksikan mencapai Rp3.426 triliun.

Angka tersebut tumbuh 6,8 persen dibandingkan outlook 2026, dengan rasio terhadap PDB sebesar 12,25 persen.

Baca juga: Prabowo Targetkan Pertumbuhan Ekonomi RI 2027 Sebesar 6 Persen, Rupiah Rp17.500 

"Target pendapatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuatkan pusat fiskal secara bertahap dan berkelanjutan," kata Purbaya saat Konferensi Pers RAPBN 2027 dan Nota Keuangan di Direktorat Jenderal Pajak, Jumat (14/8/2026).

Penerimaan perpajakan diperkirakan mencapai Rp2.908 triliun, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) ditargetkan sekitar Rp517,4 triliun. Menurut Purbaya, kinerja penerimaan pajak hingga saat ini menunjukkan perkembangan positif.

"Pajak kita sudah mencapai 30 persen, jadi jauh lebih baik dibanding tahun lalu dan kedepan saya pikir kita akan tetap bisa memperbaiki tax ratio kita secara signifikan," tutur dia.

Sementara itu, belanja pemerintah pusat (BPP) dalam RAPBN 2027 direncanakan sebesar Rp3.362,2 triliun.
Anggaran tersebut meningkat 3,6 persen dibandingkan outlook 2026. Purbaya mengatakan kebijakan fiskal 2027 tetap dirancang ekspansif, meskipun peningkatan belanja tidak terlalu besar.

"Jadi fiskal kita tetap dirancang untuk ekspansif walaupun tidak besar sekali. Tapi yang jelas dari pemerintah akan ada dorongan kepada perekonomian 2027," jelasnya.

Purbaya menegaskan bahwa belanja pemerintah pusat akan diarahkan untuk meningkatkan kualitas belanja, menjaga pelayanan publik, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mendukung keberlanjutan pembangunan. 

Pemerintah juga akan mengoptimalkan belanja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas layanan publik.

"Kebijakan belanja pemerintah pusat ini ditempuh pertama dikosongkan untuk mendukung pencapaian target PKPN tahun 2027, kemudian untuk optimalisasi belanja untuk mendukung kebijakan pemerintah, mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas layanan publik dan SDM, serta menjaga daya pendidikan masyarakat," tegasnya.

Berikut asumsi dasar ekonomi makro tahun 2027:

- Pertumbuhan ekonomi: 6 persen 

- Inflasi: 2,5 persen 

- Nilai tukar rupiah: Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS)

- Tingkat suku bunga SBN 10 tahun: 6,9 persen

- Harga minyak mentah Indonesia (ICP): 75 dolar AS per barel 

- Lifting minyak bumi: 610.000 barel per hari 

- Lifting gas bumi: 954.000 barel setara minyak per hari 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.