TRIBUNJATIM.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprakirakan cuaca di sejumlah wilayah Jawa Timur pada Sabtu (15/8/2026) didominasi dengan kondisi cuaca cerah berawan hingga berawan.
Suhu di sejumlah wilayah Jawa Timur berada di kisaran 19–33 derajat Celsius, sehingga masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan memperhatikan kebutuhan cairan tubuh.
Selain itu, secara umum, potensi hujan di Jawa Timur relatif rendah karena wilayah Indonesia sedang memasuki puncak musim kemarau dan BMKG menyebut kondisi El Niño semakin kuat.
Sebanyak 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim telah memasuki musim kemarau, sementara pengaruh El Niño turut mendukung kondisi yang lebih kering.
Untuk wilayah pesisir selatan Jawa Timur, masyarakat yang beraktivitas di laut perlu memperhatikan kondisi gelombang karena BMKG mencantumkan potensi gelombang tinggi hingga sekitar 3,5 meter pada periode 15–17 Agustus.
Baca juga: 8 Provinsi Masuk Kategori Awas Kekeringan BMKG, Berlaku hingga 20 Agustus 2026
Berikut data prakiraan cuaca Jawa Timur untuk Sabtu, 15 Agustus 2026 berdasarkan layanan BMKG Stasiun Meteorologi Juanda:
BMKG Stasiun Meteorologi Juanda juga mengingatkan bahwa prakiraan dapat mengalami perubahan mengikuti perkembangan kondisi atmosfer.
Karena itu, masyarakat disarankan selalu mengecek pembaruan informasi resmi BMKG sebelum beraktivitas.
Baca juga: Musim Kemarau 2026 Kapan Berakhir? BMKG Ungkap Jadwal Musim Hujan dan Daerah Rawan Karhutla
Di sisi lain, BMKG sebelumnya telah merilis prakiraan kemunculan El Nino pada Maret 2026.
Karena fenomena tersebut muncul setelah pertengahan tahun, dampak utamanya diperkirakan baru terasa menjelang berakhirnya musim kemarau.
"Yang paling mungkin terjadi adalah awal musim hujan bisa mengalami kemunduran," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno.
Meski demikian, Anung mengingatkan bahwa musim kemarau tidak selalu berarti tidak terjadi hujan sama sekali.
Dinamika atmosfer masih memungkinkan munculnya hujan dalam waktu tertentu akibat berbagai gangguan cuaca.
"Di tengah musim kemarau masih tetap bisa terjadi hujan. Ada pengaruh Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, dan gangguan atmosfer lainnya yang dapat memunculkan hujan dalam periode singkat," katanya.
Anung menjelaskan dampak El Nino secara umum dirasakan hampir di seluruh wilayah selatan garis khatulistiwa.
Namun, kondisi geografis dan morfologi wilayah menyebabkan tingkat pengaruhnya tidak sama.
Wilayah pegunungan seperti lereng selatan Gunung Semeru maupun kawasan sekitar Gunung Lawu termasuk daerah nonzona musim yang secara klimatologis memiliki curah hujan relatif tinggi sepanjang tahun.
"Di wilayah seperti itu, meskipun terjadi El Nino, hujan tetap ada. Hanya saja jumlahnya menjadi lebih sedikit dibanding kondisi normal," jelasnya.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com