POSBELITUNG.CO, BANGKA -- PT PLN (Persero) terus mengembangkan pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) dari proses pembangkitan untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan dan ekonomi sirkular. Di Bangka Belitung, pemanfaatan FABA telah dikembangkan melalui berbagai sektor, mulai dari pertanian, konstruksi, hingga lingkungan.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari kunjungan Ketua Komisi XII DPR RI Dr. Bambang Patijaya, S.E., M.M., bersama Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero) Rizal Calvary Marimbo, ke PLN UPK Bangka Belitung, Kamis (13/8).
Salah satu pengembangan FABA di Bangka Belitung dilakukan melalui kolaborasi PLN dengan Forum Masyarakat Petani (FORMAP) Bangka Belitung yang telah berjalan selama lebih dari tiga tahun. Melalui kolaborasi tersebut, FABA dikembangkan sebagai bahan pendukung pupuk dan pembenah tanah untuk sektor pertanian.
Program tersebut telah menunjukkan hasil yang konkret. Pemanfaatan FABA melalui FORMAP mencapai hingga 100 ton per bulan, dengan produksi lebih dari 25 ribu karung pupuk FABA sepanjang 2026. Pemanfaatan FABA sebagai bahan pupuk juga tercatat mampu menekan biaya produksi hingga 58,3 persen.
Ketua Umum FORMAP Bangka Belitung, M. Syarif Hidayatullah, mengatakan pengembangan pemanfaatan FABA bersama PLN terus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Bangka Belitung.
“Kami ingin terus meningkatkan produktivitas agar pertanian di Bangka Belitung benar-benar dapat menuju swasembada pangan. Mudah-mudahan dengan dukungan PLN, pengembangan ini bisa memberikan manfaat yang semakin besar bagi pertanian di Bangka Belitung,” ujar Syarif.
Dalam pengembangannya, FORMAP juga memanfaatkan berbagai sumber daya lokal, termasuk limbah pasar, limbah masyarakat, dan unsur laut Bangka Belitung untuk menghasilkan bioenzim yang digunakan sebagai bahan pendukung dalam proses pengolahan FABA menjadi pupuk.
Menurut Syarif, pemanfaatan sumber daya lokal tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan produk yang sesuai dengan karakteristik dan potensi Bangka Belitung.
“Bioenzim yang kami kembangkan berasal dari limbah pasar, limbah masyarakat, dan unsur laut yang ada di Bangka Belitung. Bahan ini kami gunakan untuk membantu proses penguraian FABA dalam pengolahan menjadi pupuk,” katanya.
Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero) Rizal Calvary Marimbo mengatakan pengembangan yang telah dilakukan di Bangka Belitung menunjukkan bahwa PLTU memiliki peluang untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di sekitar pembangkit.
“PLTU ini tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga bisa menjadi sentra-sentra pangan di sekitarnya. Hal ini sesuai dengan arahan dari Ketua Komisi XII DPR RI Bapak Bambang Patijaya. Nantinya kita akan memperbesar skala ini menjadi nasional, menerapkan ke PLTU-PLTU lainnya,” ujar Rizal.
Rizal mengatakan PLN akan mendorong praktik pemanfaatan FABA yang telah dikembangkan di Bangka Belitung untuk dapat diterapkan di pembangkit lainnya dengan menyesuaikan potensi masing-masing wilayah.
“Saya akan menjadikan sebuah gerakan bahwa PLTU-PLTU kita juga nanti akan mendukung ketahanan pangan, minimal akan membantu masyarakat sekitarnya,” katanya.
Hal tersebut sejalan dengan peran PLTU Bangka dalam mendukung sistem kelistrikan sekaligus potensi pengembangan manfaat di sekitar pembangkit. Hingga Juli 2026, PLTU Bangka mencatat total produksi listrik sebesar 149.288 MWh, termasuk 7.244 MWh produksi energi hijau berbasis co-firing biomassa, serta berkontribusi sekitar 17,79 persen terhadap kebutuhan listrik Bangka.
Selain untuk pertanian, PLN telah mengembangkan pemanfaatan FABA untuk berbagai kebutuhan konstruksi dan lingkungan. Di PLTU Air Anyir, produksi FABA rata-rata mencapai 26.802 ton per tahun dan pemanfaatannya terus dioptimalkan untuk berbagai produk, antara lain pupuk atau pembenah tanah, batako, material subgrade, serta kebutuhan konstruksi lainnya.
General Manager UIK Dwipantara, Rita Triani, mengatakan pemanfaatan FABA di PLTU Bangka terus dikembangkan agar dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, termasuk melalui kolaborasi dengan masyarakat dan pembentukan kelompok binaan di sekitar pembangkit.
“Pemanfaatan FABA ini terus kami optimalkan, termasuk untuk pupuk yang sudah menghasilkan lebih dari 25 ribu karung dan telah dimanfaatkan di berbagai wilayah Bangka Belitung. Ke depan, kami ingin pemanfaatannya semakin berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Rita.
General Manager PLN UIW Bangka Belitung, Ira Savitri, mengatakan pemanfaatan FABA yang dikembangkan di Bangka Belitung merupakan bagian dari upaya PLN untuk memberikan manfaat yang lebih luas dari proses pembangkitan kepada masyarakat.
“Kami ingin apa yang sudah dikembangkan di Bangka Belitung ini terus memberikan manfaat dan dapat berkembang bersama masyarakat. Kolaborasi yang sudah terbangun akan terus kami dorong agar pemanfaatan FABA semakin optimal dan memberikan nilai tambah bagi lingkungan maupun masyarakat,” ujar Ira.
Sementara itu, Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengapresiasi kolaborasi PLN dengan FORMAP yang telah berjalan selama beberapa tahun dan menunjukkan perkembangan dalam pemanfaatan FABA untuk sektor pertanian.
Menurutnya, pengembangan yang dilakukan PLN di Bangka Belitung menunjukkan bahwa FABA yang sebelumnya banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan konstruksi juga memiliki potensi untuk mendukung sektor pertanian.
“Kami berharap kerja sama ini dapat kita tingkatkan dan optimalkan. FABA yang sebelumnya banyak dikembangkan untuk kebutuhan konstruksi, ternyata juga dapat dimanfaatkan untuk pupuk. Hasilnya menggembirakan dan biaya pemupukannya juga lebih murah,” ujar Bambang.
Bambang berharap pengembangan yang telah dilakukan PLN bersama FORMAP di Bangka Belitung dapat terus diperkuat dan menjadi contoh bagi pengembangan pemanfaatan FABA di wilayah lainnya.
“Kami berharap dari kerja sama ini dapat menjadi satu program nasional, PLN dapat melakukan optimalisasi hilirisasi FABA untuk mendukung pangan,” katanya.
Selain melalui FORMAP, PLN juga mengembangkan pemanfaatan FABA melalui berbagai program TJSL di Bangka Belitung. Di antaranya Kampung Bahari Nusantara TNI AL Bangka Belitung, dengan pemanfaatan FABA sebagai pemberat attractor pada rumpon hybrid untuk mendukung restocking dan budidaya cumi berkelanjutan. FABA juga dimanfaatkan sebagai pupuk dalam program penanaman 12.500 pohon Kaliandra di Gunung Asam, Belinyu.
Berbagai inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya PLN mengembangkan pemanfaatan FABA secara lebih luas melalui kolaborasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan. Dari proses pembangkitan, FABA terus diarahkan menjadi material yang memberikan nilai tambah bagi pertanian, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan ekonomi sirkular.
Melalui pengembangan yang telah berjalan di Bangka Belitung, PLN terus mendorong pemanfaatan FABA secara optimal agar manfaatnya dapat dirasakan semakin luas oleh masyarakat, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. (*/E88)