Oleh:Ikhsan Alhaque, Pegiat Literasi di Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- Lima abad adalah rentang waktu yang cukup panjang untuk menyaksikan lahir, tumbuh, berubah, bahkan runtuhnya banyak kota di dunia.
Dalam kurun waktu itu, Banjarmasin telah mengalami berbagai babak sejarah: dari bandar perdagangan di tepian sungai, pusat Kesultanan Banjar, masa kolonial, era kemerdekaan, hingga menjadi kota modern yang terus mencari bentuknya di tengah perubahan zaman.
Namun sesungguhnya, yang paling menarik untuk dipelajari bukanlah panjangnya perjalanan itu, melainkan bagaimana kota ini mampu terus bertahan melewati berbagai perubahan yang silih berganti.
Sering kali kita memperlakukan sejarah sebagai kumpulan peristiwa yang telah selesai. Kita menghafal tahun, nama tokoh, atau pergantian kekuasaan, tetapi lupa bahwa sejarah sesungguhnya adalah jejak dari keputusan-keputusan yang pernah diambil manusia pada zamannya.
Setiap keputusan meninggalkan akibat, membentuk arah perkembangan kota, bahkan menentukan pilihan-pilihan yang masih kita hadapi hingga hari ini. Karena itu, memperingati lima abad Banjarmasin semestinya bukan hanya menjadi kesempatan untuk mengenang masa lalu.
Peringatan ini juga merupakan momentum untuk bertanya dengan jujur: pelajaran apa yang sebenarnya diwariskan sejarah kepada kita, dan bagaimana pelajaran itu dapat menjadi kompas dalam menyiapkan lima abad berikutnya.
Sejarah adalah Rangkaian Keputusan
Sejarah sering dipahami sebagai deretan peristiwa yang telah berlalu. Padahal, di balik setiap peristiwa selalu ada keputusan-keputusan yang diambil oleh manusia pada zamannya. Ada keputusan yang membawa sebuah masyarakat melangkah maju, ada pula yang meninggalkan persoalan yang baru terasa dampaknya puluhan bahkan ratusan tahun kemudian. Dengan kata lain, sejarah bukan sekadar catatan tentang apa yang pernah terjadi, melainkan juga jejak pilihan yang membentuk arah sebuah peradaban.
Sejarawan Arnold J. Toynbee dalam A Study of History (Vol. I, 1934) menjelaskan bahwa kebangkitan maupun kemunduran sebuah peradaban sangat ditentukan oleh kualitas responsnya terhadap berbagai tantangan. Peradaban yang mampu merespons perubahan secara kreatif akan bertahan, sedangkan yang gagal menyesuaikan diri perlahan akan kehilangan daya hidupnya.
Bila pandangan itu kita letakkan dalam perjalanan Banjarmasin, maka lima abad usia kota ini sesungguhnya bukanlah kisah tentang keadaan yang selalu sama. Sebaliknya, sejarah Banjarmasin adalah sejarah tentang kemampuan untuk terus beradaptasi.
Kota ini telah melewati perubahan pusat kekuasaan, pergeseran jalur perdagangan, kolonialisme, kemerdekaan, perubahan administrasi pemerintahan, hingga berbagai dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan. Namun, di tengah semua perubahan itu, ada satu benang merah yang tetap terjaga: kemampuan masyarakatnya untuk menemukan cara baru tanpa sepenuhnya melepaskan akar yang telah membentuk jati dirinya.
Sungai Mengajarkan Cara Bertahan
Jika ada satu guru yang paling setia menemani perjalanan panjang Banjarmasin selama lima abad, maka guru itu adalah sungai. Bukan hanya karena sungai menjadi jalur transportasi, urat nadi perdagangan, atau sumber kehidupan masyarakat Banjar. Tapi karena sungai mengajarkan satu hal yang jauh lebih mendasar: kemampuan untuk hidup berdampingan dengan perubahan.
Air tidak pernah melawan perubahan. Ia mengikuti pasang dan surut, mengenali musim, mencari alur baru ketika menghadapi rintangan, tetapi tetap mengalir menuju muara. Dari bentang alam seperti inilah, nini datu urang Banjar membangun cara hidupnya.
Mereka tidak memaksakan alam tunduk kepada manusia, melainkan belajar membaca irama alam agar kehidupan dapat berlangsung secara selaras. Dari pengalaman yang diwariskan turun-temurun itulah lahir apa yang dapat kita sebut sebagai kecerdasan ekologis: kemampuan memahami bahwa bertahan hidup bukan ditentukan oleh siapa yang paling kuat, melainkan oleh siapa yang paling mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah. Karena itu, identitas Banjarmasin sesungguhnya tidak pernah dibangun di atas penolakan terhadap perubahan. Sebaliknya, kota ini tumbuh melalui kemampuan untuk terus menyesuaikan diri terhadap berbagai tantangan zamannya.
Kota ini tidak bertahan karena berhasil mempertahankan segala sesuatu tetap sama. Sebaliknya, ia mampu melewati berbagai zaman justru karena terus memperbarui dirinya mengikuti perubahan yang datang.
Modal terbesar Banjarmasin sesungguhnya bukan hanya letak geografisnya, bukan pula sumber daya alam yang dimilikinya. Modal yang paling berharga adalah kapasitas sosial masyarakatnya untuk terus belajar, kemampuan budayanya untuk beradaptasi, dan keberaniannya memperbarui cara berpikir tanpa kehilangan jati diri.
Tongkat Estafet Peradaban
Pada akhirnya, setiap generasi hanya menempati satu bagian kecil dari perjalanan panjang sebuah kota. Kita menikmati hasil kerja keras generasi-generasi yang telah mendahului, sebagaimana generasi yang akan datang kelak akan hidup dengan berbagai konsekuensi dari keputusan-keputusan yang kita ambil hari ini. Karena itu, sejarah sesungguhnya bukan hanya tentang hubungan antara masa lalu dan masa kini, melainkan juga tentang tanggung jawab moral kepada masa depan.
Yuval Noah Harari dalam Sapiens: A Brief History of Humankind (2014) mengingatkan bahwa yang membedakan manusia dari spesies lain bukan semata kecerdasannya, melainkan kemampuannya mewariskan pengetahuan, pengalaman, dan gagasan melintasi banyak generasi.
Peradaban berkembang karena setiap generasi tidak selalu memulai dari titik nol, tetapi melanjutkan, memperbaiki, dan memperkaya warisan yang diterimanya. Dalam konteks itulah, memperingati lima abad Banjarmasin memperoleh makna yang lebih dalam. Apa yang sedang kita rayakan bukan semata panjangnya usia sebuah kota, melainkan keberhasilan begitu banyak generasi menjaga kesinambungan sebuah peradaban.
Mereka mewariskan bukan hanya rumah, jalan, pasar, atau bangunan, tetapi juga nilai-nilai, cara hidup, dan kebijaksanaan yang memungkinkan kota ini terus bertahan menghadapi perubahan.
Kita yang hidup hari ini bukanlah generasi terakhir dalam perjalanan Banjarmasin. Kita adalah pewaris dari mereka yang telah mendahului, sekaligus generasi yang berkewajiban menyerahkan tongkat estafet peradaban kepada mereka yang akan datang.
Sejarah sebagai kompas, masa depan sebagai amanah. Barangkali, itulah makna terdalam memperingati lima abad Banjarmasin. Bukan sekadar mensyukuri panjangnya usia kota ini, melainkan memastikan bahwa kebijaksanaan yang membuatnya mampu melewati berbagai zaman tetap hidup dalam cara berpikir generasi-generasi berikutnya. Dan ketika kelak, seratus tahun dari sekarang, generasi baru kembali memperingati perjalanan kota ini, semoga mereka tidak hanya mewarisi kota yang lebih maju, tetapi juga mewarisi kebijaksanaan untuk terus memuliakan sungai, merawat kebudayaan, dan menjaga peradaban yang telah dititipkan kepada mereka. (*)