POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Semangat merawat bumi diwujudkan secara nyata oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Gerakan Ekoteologi Bersih Pantai di pesisir Pantai Pasir Panjang, Kota Kupang, Rabu (12/8/2026).
Bersama Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Kantor Kementerian Agama Kota Kupang, dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kupang, jajaran Kementerian Agama turun langsung membersihkan kawasan pesisir dari sampah yang ditemukan di sepanjang area kegiatan.
Gerakan tersebut dilaksanakan dalam rangka menyongsong Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 15 Agustus 2026, Kaum Sederhana Tak Pernah Diperlakukan Secara Tulus
Lebih dari sekadar aksi bersih pantai, kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan ekoteologi, yakni upaya menghadirkan nilai-nilai keagamaan dalam sikap dan tindakan nyata untuk menjaga kelestarian alam.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, Fransiskus Kariyanto, mengapresiasi keterlibatan seluruh pihak dalam gerakan tersebut. Ia menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak boleh berhenti pada pesan-pesan moral, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan lingkungan.
“Ekoteologi tidak boleh berhenti sebagai sebuah gagasan atau wacana. Ia harus hadir dalam tindakan nyata. Ketika kita memungut sampah, menjaga pantai, dan merawat lingkungan, sesungguhnya kita sedang mewujudkan tanggung jawab kita sebagai manusia yang dipercayakan untuk menjaga ciptaan Tuhan,” ujar Fransiskus.
Menurutnya, manusia bukanlah pihak yang berdiri di luar alam, melainkan bagian dari ciptaan yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dan keberlangsungannya. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan perlu dibangun menjadi kesadaran bersama yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
“Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan bukan hanya untuk kepentingan kita hari ini. Apa yang kita lakukan sekarang merupakan bentuk tanggung jawab kepada generasi yang akan datang. Kita ingin meninggalkan lingkungan yang lebih baik, bukan mewariskan persoalan lingkungan kepada anak-anak kita,” lanjutnya.
Baca juga: Gubernur NTT Melki Laka Lena Gerak Cepat Pantau Dampak Gempa di Flores
Dalam kegiatan tersebut, para peserta menyusuri kawasan pesisir Pantai Pasir Panjang dan memungut berbagai jenis sampah yang ditemukan di area pantai. Sampah yang berhasil dikumpulkan tidak ditimbang secara khusus karena seluruh hasil pembersihan langsung dimasukkan dan ditampung pada bak sampah portabel yang telah disediakan di lokasi.
Meski tidak dapat menyebutkan jumlah sampah dalam satuan kilogram, volume sampah yang terkumpul menjadi gambaran bahwa persoalan kebersihan kawasan pesisir membutuhkan perhatian dan keterlibatan banyak pihak secara berkelanjutan.
Bagi Kementerian Agama, aksi tersebut sekaligus menjadi ruang edukasi publik. Pesan yang ingin dibangun adalah bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai keagamaan dan kehidupan sosial. Menjaga kebersihan pantai, mengurangi sampah, serta membangun kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan merupakan tindakan sederhana yang memiliki dampak lebih luas bagi keberlangsungan lingkungan.
Fransiskus berharap Gerakan Ekoteologi tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau aksi bersih lingkungan yang dilakukan pada momentum tertentu. Sebaliknya, gerakan tersebut perlu tumbuh menjadi budaya yang melekat dalam perilaku masyarakat maupun aparatur Kementerian Agama.
“Kita ingin gerakan ini menjadi budaya. Bukan hanya hari ini kita membersihkan pantai, tetapi setelah kegiatan ini kita tetap memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan di mana pun kita berada. Ekoteologi harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari tindakan-tindakan sederhana dan dilakukan secara konsisten,” tegasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan lintas satuan kerja dan lembaga keagamaan dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan ruang bersama yang dapat mempertemukan berbagai pihak. Semangat merawat bumi dapat menjadi bagian dari penguatan kerukunan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Gerakan Ekoteologi Bersih Pantai di Pasir Panjang pun menjadi pengingat bahwa merawat alam tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Memungut sampah, menjaga kebersihan, dan mengajak orang lain untuk peduli merupakan langkah sederhana yang, jika dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan, dapat membentuk budaya baru dalam memperlakukan lingkungan.
Dari Pantai Pasir Panjang, Kementerian Agama NTT ingin menegaskan satu pesan: merawat ciptaan bukan sekadar kewajiban ekologis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia.***