Sosok Ni Luh Djelantik dan Arya Wedakarna, 2 Anggota DPD yang Beda Sikap Soal Penjahit Rasis di Bali
Musahadah August 15, 2026 01:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Ini lah sosok Ni Luh Djelantik dan Arya Wedakarna, dua anggota DPD RI asal Bali yang berbeda pendapat soal kasus penjahit diduga rasis di Bali. 

Meski pun sudah ada mediasi antara penjahit dan korban rasis yakni Hilda, perempuan asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), namun polemik belum selesai. 

Arya Wedakarna menyinggung kemungkinan usaha pasangan penjahit tersebut ditutup akibat persoalan yang terjadi.

“Bapak ibu ini suami istri sama-sama penjahit lho, punya anak masih sekolah. Kalau kamu emosi, warungnya ditutup misalkan, mau kamu kasih makan? Mau tanggung jawab gak? Ayo dong ngomong depan kami,” ujar Arya dalam video yang diunggah di akun media sosial Instagramnya. 

Sikap Arya dalam video tersebut kemudian menuai kritik dan dinilai sebagian pihak sebagai bentuk tekanan atau intimidasi terhadap Hilda.

Baca juga: Sosok Selebgram Bali yang Jalankan Arisan Fiktif, Korbannya Banyak, Transaksi Tembus Rp 71 Miliar

Tidak berhenti pada persoalan usaha penjahit, Arya juga menyampaikan bahwa pihak keluarga penjahit memiliki hak untuk melaporkan Hilda terkait penyebaran video.

 “Kalau pihak keluarga mau melaporkan UU ITE boleh, walaupun hari ini udah damai, tapi pihak keluarga berhak ngelaporin kamu, karena kamu nyebarin video orang,” tutur Arya.

Pernyataan tersebut ikut memicu perdebatan di media sosial.

Sejumlah pihak mempertanyakan posisi Arya dalam proses mediasi dan menilai perkataannya justru membuat Hilda berada dalam posisi tertekan.

Ni Luh Djelantik Bela Hilda

Kasus ini turut mendapat perhatian anggota DPD RI asal Bali lainnya, Ni Luh Djelantik.

Ia menyoroti dugaan rasisme dan intimidasi yang dialami Hilda, perempuan asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. 

Melalui akun Instagram @niluhdjelantik pada Jumat, 14 Agustus 2026, Ni Luh mempertanyakan mengapa persoalan yang menurutnya berawal dari tindakan penjahit justru berkembang menjadi persoalan panjang terhadap Hilda.

“Ini bukan masalah seribu rupiah. Ini masalah ada di penjahit yang sudah mencaci maki, menyerang suku, mengancam pelanggan dengan kata-kata kasar. Hilda hanya meminta haknya. Mengapa urusan jadi panjang begini?” tegas Ni Luh dalam unggahannya. 

Sorotan Ni Luh tersebut menambah perhatian publik terhadap video mediasi yang memperlihatkan perdebatan antara Hilda dan pihak lainnya.

Siapakah Arya Wedakarna? 

Kolase foto Arya Wedakarna, Anggota DPD RI yang Dipecat Karena Langgar Etik. Simak profil dan biodatanya.
Kolase foto Arya Wedakarna, Anggota DPD RI yang Dipecat Karena Langgar Etik. Simak profil dan biodatanya. (kolase Tribun Bali)

Arya Wedakarna memiliki nama lengkap Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa.

Ia lahir di Denpasar, Bali, pada 23 Agustus 1980.

Arya dikenal sebagai politikus sekaligus akademisi.

Ia juga pernah terjun ke dunia hiburan sebagai model, penyiar radio, pemeran, dan penyanyi.

Saat muda, Arya pernah menjadi cover boy majalah Aneka serta bergabung dalam trio grup vokal FBI bersama Indra Bekti dan Roy Jordy.

Di dunia politik, Arya pernah menjadi anggota DPD RI periode 2014-2019.

Ia kemudian kembali terpilih pada Pemilu 2024 untuk mewakili Bali.

Berdasarkan penetapan KPU, Arya memperoleh 378.300 suara pada Pemilu DPD RI 2024 dan berada di posisi kedua perolehan suara calon anggota DPD RI dari Bali.

Sementara pada Pemilu 2019, perolehan suaranya tercatat mencapai 742.781 suara.

Arya menempuh pendidikan dasar hingga perguruan tinggi di Indonesia dan Australia.

Berikut riwayat pendidikan yang tercantum dalam data profilnya:

  • SD Cipta Dharma Denpasar, lulus 1992.
  • SMP Negeri 3 Denpasar, lulus 1995.
  • SMA Negeri 1 Denpasar, lulus 1998.
  • Melbourne Language Center, Australia, 2000.
  • S1 Universitas Trisakti, Jurusan Manajemen Transportasi Udara, 2002.
  • S2 Universitas Satyagama Jakarta, Magister Ilmu Pemerintahan, 2004.
  • S3 Universitas Satyagama Jakarta, Doktor Ilmu Pemerintahan, 2007.

Sosok Ni Luh Djelantik

Sebelum menjadi anggota DPD RI, Ni Luh Djelantik sudah dikenal luas sebagai pengusaha dan juga perancang sepatu handmade kulit asal Bali.

Niluh Djelantik lahir di Bangli pada tanggal 15 Juni 1975.

Setamat SMA di tahun 1994, Niluh Djelantik melanjutkan pendidikan di Jakarta.

Atas keinginan ibunya, Niluh Djelantik kuliah jurusan Manajemen Keuangan di Universitas Gunadarma.

Di tahun 1995, Niluh Djelantik mendapatkan pekerjaan profesional pertamanya sebagai operator telepon di sebuah perusahaan tekstil asal Swiss.

Sudah bisa berpenghasilan membuat Niluh Djelantik teringat hasratnya ingin memiliki sepatu yang pas di kaki.

Gaji pertamanya langsung Niluh Djelantik gunakan untuk membeli sepatu di kawasan Blok M, Jakarta.

Pilihan Niluh Djelantik jatuh pada sepatu bertumit tinggi seharga Rp 15 ribu untuk bekerja di kantor.

Akhir tahun 2001, Niluh Djelantik kembali ke Bali dan mendapatkan pekerjaan di perusahaan fesyen Paul Ropp milik pengusaha Amerika Serikat.

Saat itu Niluh Djelantik dipercaya memegang kendali sebagai Direktur Marketing dan membuat Paul Ropp berkembang pesat.

Di tahun 2002, penjualan naik hingga 330 persen, butik pun bertambah hingga 10 lokasi.

Namun di tahun 2003 Niluh Djelantik meninggalkan pekerjaannya sebagai marketing dalam rangka ekspansi perusahaan.

Ekspansi perusahaan membuat Niluh Djelantik mengkompensasikan dengan jam kerjanya yang panjang dan berpergian keluar negeri setiap saat untuk melakukan trade show dan juga membuka pasar bagi perusahaan itu.

Karena pekerjaan yang padat, Niluh Djelantik jatuh sakit dan dokter mengingatkan untuk tidak berpergian jauh sekurangnya dalam waktu enam bulan padahal pekerjaannya menuntut Niluh Djelantik untuk berpergian ke beberapa negara.

Niluh Djelantik yang saat itu berdomisili di New York akhirnya memutuskan untuk kembali ke Bali lagi.

Karena obsesinya terkait tiap perempuan seharusnya bisa memakai sepatu bertumit tinggi dengan nyaman, Niluh Djelantik akhirnya memberanikan diri untuk melahirkan produk sepatu bernama 'NILOU' di kawasan Kerobokan.

Saat itu Niluh Djelantik bermodalkan uang sebesar Rp 33 juta.

Nama 'NILOU' terbentuk dari slang lafal Niluh di lidah bule dan menciptakan peluang bertemu dengan Cedric Cador.

Cedric Cador adalah sosok yang terbiasa memasarkan produk Indonesia di Eropa.

Koleksi pertama NILOU pun langsung terkenal di Prancis dan banjir pesanan hingga 4 ribu pasang.

Di tahun 2004, Niluh mendapatkan kontrak outsource dari jaringan ritel Topshop yang berpusat di Inggris dan membuat pintu perdagangan ke Eropa makin melebar.

Di tahun yang sama, seorang perempuan asal Australia berkunjung ke gerai NILOU di kawasan Seminyak, Bali.

Dia adalah Sally Power yang mengaku terkesan dengan sepatu NILOU dan menawarkan diri untuk menjadi distributor di negaranya, Australia.

Nama NILOU semakin dikenal, bahkan desainer-desainer internasional yang berproduksi atau mencari inspirasi di Bali ikut memakai produk NILOU.

Hubungan profesional mendesainkan sepatu untuk perancang-perancang busana dunia seperti Nicola Finetta, Shakuhachi, Tristanblair, dan Jessie Hill pun terbentuk.

Diketahui, kini NILOU sudah memiliki 36 butik di 20 negara yaitu di Australia, Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan Uni Emirat Arab.

Di tahun 2007, Niluh Djelantik mendapat tawaran dari agen di Australia dan Prancis untuk melebarkan sayap.

Kemudian NILOU diproduksi secara massal di China dengan iming-iming sejumlah besar saham namun ditolak oleh Niluh Djelantik.

Alasannya, Niluh Djelantik tidak ingin cintanya yang melekat pada setiap sepatu yang dihasilkan di workshop diganti oleh produksi mesin atas nama kapitalisme.

Kemudian cobaan datang karena nama mereka NILOU yang sudah mendunia ternyata sudah didaftarkan oleh pihak lain yang memaksa Niluh Djelantik membunuh mereka NILOU.

Tahun 2008, Niluh Djelantik bangkit dengan membangun lagi usahanya dan memproduksi sepatu bermerek 'Niluh Djelantik'.

Sebelum memulai dengan merek baru tersebut, 'Niluh Djelantik' sudah memikirkan mereka pengganti dan berkonsentrasi mebangun merek luar dengan cara mendesain, men-development dan memproduksi serta menyerahkan modal ke merek itu.

Akhirnya, agar tidak terulang, nama merek 'Niluh Djelantik' pun langsung dipatenkan.

Pada tahun 2011, merek 'Niluh Djelantik' telah menembus Global Switzerland yang merupakan sebuah retailer terkemuka di Eropa.

Tak hanya itu, juga membentuk kerjasama dengan retailer terkemuka untuk membuka 'Niluh Djelanti' di Rusia.

Beberapa artis Hollywood pun juga pernah menggunakan karyanya seperti, Gisele Bundchen, Tara Reid, Uma Thurman, Robyn Gibson, Paris Hilton, hingga Julia Roberts.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.