TRIBUNBEKASI.COM, KARAWANG - Dosen dan mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) mengembangkan produk olahan berbasis ikan bandeng dan mangrove untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas unggulan masyarakat pesisir Kabupaten Karawang.
Pengembangan tersebut dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kecamatan Cilamaya Wetan dan Kecamatan Cilamaya Kulon pada 7-8 Agustus 2026.
Program pengabdian tersebut menyasar Poklahsar Sumber Jaya Ikan di Desa Muara Baru, Kecamatan Cilamaya Wetan, serta GAPOKAN Pantai Barokah di Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan (PBK), melalui Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) Tahun 2026.
Pendanaan kegiatan berasal dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.
Tim pengabdian melihat komoditas perikanan dan mangrove di wilayah pesisir Karawang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.
Karawang memiliki luas wilayah 1.913,71 kilometer persegi yang terbagi dalam 30 kecamatan.
Wilayah pesisir seperti Cilamaya Wetan dan Cilamaya Kulon memiliki potensi perikanan dan hutan mangrove.
Cilamaya Wetan memiliki wilayah pertanian dan perikanan sekitar 22,62 persen dari luas wilayah 69,66 kilometer persegi.
Sementara Cilamaya Kulon memiliki potensi perikanan dan wisata pantai dengan kawasan mangrove pasir putih seluas sekitar 20 hektare.
Potensi perikanan juga ditunjukkan dengan keberadaan tambak bandeng yang tersebar sekitar 18 ribu hektare di sembilan kecamatan di Kabupaten Karawang.
Meski memiliki sumber daya melimpah, pengembangan produk oleh kelompok masyarakat masih menghadapi sejumlah kendala.
Gapokan Pantai Barokah dan Poklahsar Sumber Jaya Ikan sebelumnya belum optimal melakukan diversifikasi produk.
Keterbatasan modal dan peralatan juga membuat pemanfaatan teknologi pengolahan belum maksimal.
Produk yang dihasilkan sebelumnya masih terbatas pada bandeng presto dan dodol mangrove dengan kemasan sederhana.
Melalui program PM-UPUD, tim Unsika kemudian memberikan pendampingan dan inovasi teknologi pengolahan dengan memanfaatkan ikan bandeng dan mangrove jenis kapidada (Sonneratia spp.).
Pada Poklahsar Sumber Jaya Ikan, pengembangan diarahkan pada diversifikasi olahan ikan bandeng.
Kelompok tersebut kemudian menghasilkan abon ikan bandeng, fish roll ikan bandeng, nugget ikan bandeng dan kerupuk ikan bandeng.
Sementara di GAPOKAN Pantai Barokah, potensi mangrove kapidada diolah menjadi sejumlah produk, yakni dodol mangrove, selai mangrove, mangrove nastar atau Rovestar, serta sirup mangrove.
Proses pengabdian dilakukan secara bertahap melalui survei dan diskusi bersama kelompok, persiapan, praktik pembuatan produk, sosialisasi dan pelatihan, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi.
Tim pengabdian diketuai Dr. Ekalia Yusiana, S.P., M.Sc dari Unsika, dengan anggota Yeni Sari Wulandari, S.P., M.P dan I Ketut Manu Mahatmayana, S.P., M.Si dari Unsika serta Dr. Sri Herliana dari Institut Teknologi Bandung.
Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa Unsika Muhammad Faisal Tanjung, Dina Hardiyanti, Aziza Zuriah Gitari dan Siti Nur Alifah.
Pengembangan produk olahan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan variasi produk masyarakat, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari komoditas lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Tim pengabdian juga berharap inovasi tersebut dapat memperkuat kapasitas kewirausahaan kelompok masyarakat, meningkatkan peluang usaha UMKM pesisir, serta mendukung ketahanan pangan berkelanjutan di Kabupaten Karawang.