SURYA.co.id, SURABAYA – Tantangan finansial yang dihadapi generasi muda kian kompleks.
Kenaikan biaya hidup hingga stagnasi pendapatan membuat kemampuan mengelola keuangan menjadi bekal penting, termasuk untuk mahasiswa yang mulai memasuki fase mandiri secara finansial.
Kondisi tersebut menjadi perhatian PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah).
Perusahaan memperkuat edukasi perencanaan keuangan dan perlindungan berbasis prinsip syariah kepada sekitar 700 mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya melalui kolaborasi dengan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI).
Berdasarkan Indonesia Millennial & Gen Z Report, lebih dari 66 persen generasi muda mengalami kesulitan finansial akibat kenaikan biaya hidup dan stagnasi upah.
Chief Customer & Marketing Officer Prudential Syariah Vivin Arbianti Gautama mengatakan, generasi muda saat ini memang tumbuh di tengah kemudahan akses teknologi dan layanan keuangan.
Namun, kemudahan tersebut belum selalu diikuti pemahaman finansial yang memadai.
"Generasi muda hari ini tumbuh bersama teknologi dan cepat mengakses layanan keuangan, tetapi kecepatan itu belum selalu diimbangi dengan pemahaman yang memadai," kata Vivin, Sabtu (15/8/2026).
Karena itu, edukasi yang diberikan di lingkungan kampus tidak hanya membahas cara mengatur pemasukan dan pengeluaran.
Mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai perencanaan masa depan, manajemen risiko, serta perlindungan keuangan berdasarkan prinsip syariah.
"Karena itu, kami hadir langsung di kampus untuk membekali mereka dengan perencanaan keuangan, manajemen risiko, dan perlindungan berbasis prinsip syariah," ujarnya.
Menurut Vivin, pemahaman finansial sejak usia muda penting agar generasi muda dapat mempersiapkan kebutuhan jangka panjang sekaligus menghadapi berbagai risiko finansial.
Salah satu tantangan yang perlu diantisipasi adalah potensi menjadi sandwich generation.
Kondisi ini terjadi ketika seseorang harus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri sekaligus menopang kebutuhan keluarga dari generasi sebelumnya maupun generasi berikutnya.
Kebutuhan edukasi tersebut semakin relevan jika melihat kesenjangan antara literasi keuangan umum dan literasi keuangan syariah.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan syariah tercatat 43,07 persen, sedangkan indeks inklusinya 13,24 persen.
Angka tersebut masih berada di bawah indeks literasi dan inklusi keuangan nasional yang masing-masing mencapai 69,57 persen dan 93,61 persen.
Di kelompok usia mahasiswa 18-25 tahun, tingkat literasi keuangan tercatat mencapai 73,32 persen dan inklusi keuangan 95,69 persen.
Data tersebut menunjukkan anak muda relatif akrab dengan berbagai layanan keuangan.
Namun, pemahaman mengenai prinsip serta produk keuangan syariah dinilai masih perlu diperkuat.
Prudential Syariah pun mendorong kegiatan literasi keuangan di kalangan generasi muda agar mereka tidak sekadar menggunakan produk keuangan, tetapi juga memahami manfaat, risiko, dan prinsip yang mendasarinya.
"Dengan bekal sejak dini, generasi inilah yang akan menentukan arah ekonomi Indonesia dan mampu menjaga janji-janji mereka kepada diri sendiri maupun keluarga yang kelak mereka lindungi," tutur Vivin.
Kegiatan di Unair menjadi bagian dari rangkaian kolaborasi Prudential Syariah dengan sejumlah institusi pendidikan tinggi.
Program serupa sebelumnya telah dilaksanakan bersama Universitas Indonesia, sejumlah Universitas Islam Negeri (UIN) di Jakarta, Banten, dan Purwokerto, serta Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Sepanjang 2025, lebih dari 1 juta individu disebut telah menerima manfaat program literasi dan inklusi keuangan syariah yang dijalankan Prudential Syariah bersama organisasi muslim, perguruan tinggi, dan komunitas.
Jangkauan edukasi juga diperluas melalui kanal digital Sharia Knowledge Centre (SKC) untuk membuka akses informasi keuangan syariah kepada masyarakat secara lebih luas.
Komitmen Prudential Syariah terhadap investasi sosial juga menyasar masyarakat produktif. Salah satunya diwujudkan melalui program Industry Social Responsibility (ISR) untuk mendukung petambak garam di Jawa Timur.
Dukungan diberikan melalui penyediaan sarana penutup tambak berupa geomembran.
Fasilitas tersebut membantu melindungi proses produksi garam dari paparan air laut dan kondisi cuaca yang berpotensi memengaruhi kualitas hasil panen.
Vivin mengatakan, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan menghadirkan manfaat yang lebih luas, tidak hanya melalui produk dan layanan keuangan.
"Perlindungan yang kami hadirkan tidak berhenti pada solusi finansial, tetapi juga edukasi dan pemberdayaan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat," ujarnya.