Tribunlampung.co.id, Flores - Fenomena alam pascagempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores membuat warga Desa Rana Mbata, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, heboh.
Baca juga: Data Terbaru Gempa Flores, 56 Orang Jadi Korban, 33 Orang di Antaranya Meninggal
Sebanyak tiga sumber mata air utama di desa setempat mendadak berubah warna menjadi keruh kecokelatan tak lama seusai guncangan hebat terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pagi.
Ketiga titik sumber air yang terdampak perubahan warna tersebut meliputi mata air Wae Sior, Wae Sele, dan Wae Nu’ang.
Perubahan fisik pascabencana ini membuat pasokan air bersih masyarakat terganggu karena untuk sementara waktu sama sekali tidak layak guna maupun dikonsumsi.
Kepala Desa Rana Mbata Yohanes Bosko Kurniawan membenarkan bahwa kondisi keruh tersebut merupakan imbas langsung dari peristiwa guncangan gempa bumi.
Menyikapi fenomena ini, pihak pemerintah desa bergerak cepat meminta seluruh warga menahan diri dan tidak mengonsumsi air dari ketiga sumber tersebut.
Perangkat desa langsung turun ke lapangan untuk memantau situasi serta memastikan pasokan air konsumsi warga terkendali hingga kondisi kembali normal.
"Akibat gempa, air minum keseharian masyarakat Desa Rana Mbata belum bisa digunakan," ujar Kepala Desa Rana Mbata Yohanes Bosko Kurniawan, Sabtu (15/8/2026), dilansir Tribunflores.com.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap sumber gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi.
Gempa yang terjadi pukul 04.58 WIB atau 05.58 Wita tersebut bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust, yakni zona sesar naik di bagian belakang busur kepulauan Flores.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa dangkal dengan kedalaman 15 kilometer.
Berdasarkan hasil pemutakhiran parameter, episenter gempa berada di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur.
Lokasi tersebut berada sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT.
BMKG menyebut pergerakan sesar naik (thrust fault) menyebabkan guncangan kuat sekaligus memicu potensi tsunami.
Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami. Namun, BMKG mengakhiri peringatan tersebut pada pukul 07.30 WIB setelah tidak lagi mencatat kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di pesisir terdampak.
Meski demikian, hasil pemantauan BMKG menunjukkan gelombang tsunami sempat tercatat di sejumlah wilayah pesisir.
Gelombang tertinggi tercatat di Maurole, Kabupaten Ende, dengan ketinggian 0,94 meter pada pukul 05.27 WIB.
Di Sikka, gelombang tercatat setinggi 0,20 meter pada pukul 05.03 WIB. Sementara di Pelabuhan Kewapante-Sikka tercatat 0,38 meter pada pukul 05.16 WIB.
Gelombang juga tercatat di Flores Timur 0,25 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, Dompu 0,17 meter, Bakalang-Alor 0,14 meter, Baubau 0,30 meter, Bulukumba 0,54 meter, dan Kolaka 0,23 meter.
Setelah gempa utama, aktivitas gempa susulan masih terjadi.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan hingga pukul 07.07 WIB tercatat 37 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo antara 3,6 hingga 6,2.
Dari jumlah tersebut, satu gempa susulan dirasakan oleh masyarakat.
Wijayanto mengatakan wilayah busur belakang Flores memiliki potensi gempa maksimum hingga magnitudo 7,8-7,9.
Ia juga mengingatkan adanya catatan sejarah gempa besar di wilayah tersebut.
Pada 1992, gempa berkekuatan magnitudo 7,5 terjadi di wilayah busur belakang Flores dan menimbulkan kerusakan serta tsunami.
"Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores," kata Wijayanto dalam siaran pers BMKG, Sabtu (15/8/2026).
Gempa M7,7 tersebut dirasakan kuat di sejumlah wilayah Flores.
BMKG mencatat intensitas V MMI dirasakan di Kota Ende, Kota Borong, dan Kota Ruteng.
Sementara intensitas VI MMI dirasakan di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, dan Kota Bajawa.
Pada pemantauan awal, BMKG juga mencatat intensitas VII MMI di Aesesa dan Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, serta Riung, Kabupaten Ngada. (BMKG) Guncangan gempa juga menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah.
BMKG melaporkan beberapa bagian tembok rumah sederhana roboh di Maumere, Manggarai Barat, dan Labuan Bajo.
Selain itu, fasilitas Pelabuhan Maumere dan bangunan Hotel Jayakarta Bajo dilaporkan mengalami kerusakan.
Tim BMKG diterjunkan ke lokasi terdampak untuk melakukan survei kerusakan secara menyeluruh. (BMKG)
Sementara itu, BNPB mengonfirmasi dua orang meninggal dunia. Data mengenai korban jiwa dan kerusakan masih dalam proses verifikasi bersama BMKG, BPBD, pemerintah daerah, serta unsur terkait.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang meskipun gempa susulan masih terjadi.
Warga juga diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan serta mengikuti informasi resmi BMKG.
Masyarakat yang berada di bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan struktur diminta menjauhi bangunan tersebut dan memeriksa kondisinya sebelum kembali masuk.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.