Ikatan Dokter Indonesia atau IDI merespons rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan layanan ambulans udara dan dokter terbang di Indonesia.
Prabowo beralasan, layanan ini ditujukan untuk mempercepat evakuasi pasien dalam kondisi darurat.
Selain itu, masyarakat di daerah terpencil yang sulit mendapatkan akses layanan kesehatan.
Ketua Bidang Humas PB IDI, dr. Cashtri Meher, menilai gagasan itu bisa menjadi salah satu solusi untuk menghadapi kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak wilayah kepulauan dan daerah sulit dijangkau.
Namun, menurut IDI, ambulans udara dan dokter terbang tak cukup hanya dengan menyediakan pesawat atau helikopter.
IDI menilai perlu ada perencanaan yang matang.
Yakni, mulai dari mekanisme rujukan pasien, kesiapan rumah sakit tujuan, ketersediaan tenaga medis, hingga pembiayaan operasional.
Pasalnya, layanan medis melalui udara membutuhkan biaya yang besar dan standar keselamatan yang tinggi.
Terkini, IDI mengingatkan agar pemerintah memperkuat sistem kesehatan terlebih dahulu.
Setelah sistem rujukan dan fasilitas kesehatan sudah kuat, barulah layanan ambulans udara dan dokter terbang dapat dikembangkan secara optimal.
"Sebaiknya lebih baik memperkuat dan membangun sistem kesehatannya dulu. Kalau sistem kesehatannya sudah kuat, baru bisa mengikuti ambulans terbang seperti model flying medical team. Karena apabila sistemnya belum kuat tapi sudah membangun bisa menjadi sesuatu yang blunder," tegasnya.