LAZ BMI Gelar Pelatihan Penanggulangan Kebakaran, Libatkan Masjid dan Pondok
Try Juliansyah August 15, 2026 10:29 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK — Mengantisipasi maraknya insiden kebakaran di tengah musim kemarau dan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Lembaga Amil Zakat (LAZ) Baitulmaal Munzalan Indonesia (BMI) menggelar pelatihan penanggulangan kebakaran di Pontianak, Sabtu (15/8/2026). 

Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memberikan edukasi mitigasi bencana bagi pengurus tempat ibadah serta lembaga pendidikan Islam.

Direktur Utama LAZ Baitulmaal Munzalan Indonesia (BMI), Adam Pratama (36), mengungkapkan bahwa agenda simulasi dan pelatihan ini lahir dari kolaborasi strategis antara Masjid Kapal Munzalan Pontianak dengan Relawan Peduli Kemanusiaan (RPK).

"Alhamdulillah hari ini kita mengadakan pelatihan penanggulangan kebakaran. Ini tujuannya karena saat ini banyak dan musim juga kebakaran hutan," ungkap Adam kepada Tribunpontianak.co.id.

Adam menjelaskan, kerja sama antara LAZ BMI dan RPK sejatinya telah terjalin lama.

Selama ini, dukungan diberikan dalam bentuk penyaluran infak pangan berupa beras secara rutin setiap bulan untuk menunjang operasional para relawan di lapangan.

"Karena kami tidak bisa turun, maka kami berikan pangan kepada mereka, kepada relawan. Ini sebenarnya kami bertujuan untuk memberikan edukasi," tuturnya.

Baca juga: Jangan Tunggu Api Membesar, RPK Kalbar Edukasi Penanganan Kebakaran

Edukasi Penanganan Dini untuk Masjid dan Pesantren

Pelatihan mitigasi ini dirancang menyasar kelompok-kelompok vital yang berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Mulai dari pengurus masjid mitra di area Pontianak dan Kubu Raya, pengelola pondok pesantren, hingga jajaran mitra lembaga.

"Yang pertama para masjid-masjid, karena kami masjid. Masjid-masjid sekitar Kubu Raya dan Pontianak, masjid-masjid mitra kami. Kemudian untuk para pondok, karena sering sekali kejadian pondok-pondok itu kebakaran," kata Adam menjelaskan alasan pemilihan target peserta.

Ia tidak menampik bahwa pemahaman mengenai langkah darurat penanganan api di lingkungan tempat ibadah maupun pesantren masih tergolong minim. Keterbatasan pengetahuan tersebut berpotensi memperbesar dampak kerugian saat musibah kebakaran terjadi.

"Bahkan mereka sangat kurang untuk mengetahui edukasi penanggulangan kebakaran. Jadi objeknya adalah pondok, objeknya adalah masjid, dan objeknya adalah para mitra kita," ujarnya.

Tingkatkan Kesiapsiagaan Internal dan Aset Wakaf

Kegiatan tersebut disambut antusias dengan kehadiran lebih dari 50 peserta.

Masing-masing lembaga maupun mitra yang diundang mengutus dua hingga empat perwakilan untuk menerima materi teori sekaligus praktik pemadaman api secara langsung di lokasi pelatihan.

Tak sekadar membekali pihak eksternal, LAZ BMI juga mewajibkan seluruh jajaran internalnya untuk ambil bagian.

Langkah ini diambil guna memastikan seluruh staf memiliki pemahaman yang sama mengenai manajemen risiko kebakaran.

"Kalau kami undang itu lebih dari 50 peserta. Mereka mengirimkan dua wakil dan dua wakil lagi. Ini sebenarnya untuk kegiatan internal juga. Jadi selain eksternal, internal juga kita wajibkan untuk ikut," paparnya.

Kesiapsiagaan ini menjadi semakin krusial mengingat LAZ BMI mengelola sejumlah aset fisik dan kawasan produktif yang rentan terhadap ancaman kebakaran, salah satunya kawasan wakaf produktif yang berlokasi di daerah Punggur.

"Karena kami punya lahan juga di Punggur, beberapa kawasan wakaf produktif. Kemudian juga ada beberapa tempat selain masjid," pungkas Adam. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.