Pertama, Warga dan Nelayan Bantu Tim SAR Cari Bocah 11 Tahun Hanyut di Air Tawar Padang
Kedua, Dampak Mentawai Fast Kandas di Muara Padang: Operasional Diberhentikan, Penumpang "Refund" Tiket
Ketiga,Detik-detik Menegangkan Kapal Mentawai Fast Kandas, Reza: Mesin Mati, Ada WNA yang Sempat Mau Loncat
Simak selengkapnya berikut ini:
Sejumlah warga dan nelayan setempat turun tangan membantu tim gabungan melakukan pencarian terhadap Zaher (11), bocah yang hanyut saat mandi di Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (15/8/2026).
Hingga pukul 14.55 WIB, proses pencarian masih terus berlangsung dan keberadaan korban yang merupakan warga Air Tawar Barat tersebut belum ditemukan.
Pantauan TribunPadang.com di lokasi, aksi swadaya masyarakat terlihat jelas di sepanjang kawasan aliran sungai hingga ke pintu muara.
Sejumlah warga menyusuri aliran sungai secara mandiri menggunakan ban untuk berenang demi mencari keberadaan korban.
Tak hanya itu, para nelayan lokal juga mengerahkan kapal perahu mereka untuk membantu petugas menyisir kawasan perairan di sekitar muara sungai di kawasan Air Tawar Barat.
Puluhan warga lainnya tampak berkerumun di pinggir sungai menyaksikan dan memantau jalannya pencarian.
Aksi warga tersebut memperkuat upaya pencarian yang dilakukan tim gabungan dari Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Padang serta Polairud.
Petugas berupaya memicu gelombang di kawasan muara menggunakan perahu guna mengangkat tubuh korban yang diduga terbawa arus dari titik awal tenggelam.
Selain itu, dua personel gabungan diterjunkan langsung ke dalam air untuk melakukan pencarian dengan cara menyelam di lokasi yang diduga menjadi titik tenggelamnya korban.
Proses pencarian di lapangan menghadapi tantangan visual. Petugas dan warga yang melakukan penyisiran sedikit terkendala oleh kondisi air muara yang keruh dan berwarna cokelat.
Meski begitu, tim gabungan bersama masyarakat setempat hingga kini masih terus menyisir area aliran sungai hingga kawasan muara.
Sebelumnya, Zaher dilaporkan tenggelam saat mandi bersama teman-temannya di Sungai Air Tawar Barat, Sabtu (15/8/2026).
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Padang, Abdul Malik mengatakan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 13.15 WIB.
"Pada pukul 13.00 WIB, survivor bersama teman-temannya mandi-mandi di Sungai Air Tawar Barat. Kemudian sekitar pukul 13.15 WIB, survivor tenggelam," kata Abdul Malik kepada wartawan, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Abdul Malik, warga sekitar sebelumnya telah melakukan upaya pencarian setelah Zaher dilaporkan tenggelam. Namun, korban belum berhasil ditemukan.
Informasi kejadian tersebut diterima Basarnas Padang sekitar pukul 13.30 WIB dari seorang warga Air Tawar Barat.
Menindaklanjuti laporan itu, Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Padang memberangkatkan lima personel menuju lokasi sekitar pukul 13.45 WIB.
Tim SAR membawa sejumlah peralatan untuk mendukung pencarian, di antaranya rescue truck, LCR dan motor tempel, peralatan SAR air, peralatan medis, peralatan komunikasi serta perlengkapan pendukung lainnya.
Lokasi kejadian diperkirakan berjarak sekitar 14,4 kilometer melalui jalur darat dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Padang dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.
Kondisi cuaca di sekitar lokasi dilaporkan berawan dengan kecepatan angin sekitar 4 knot.
Hingga pukul 14.55 WIB, Zaher masih belum ditemukan. Tim gabungan bersama warga masih melanjutkan pencarian di sekitar aliran Sungai Air Tawar Barat hingga kawasan muara.
Manajemen Mentawai Fast memutuskan untuk menghentikan sementara seluruh operasional armadanya setelah insiden kandasnya kapal Mentawai Fast 1 di pintu Muara Padang pada Jumat (14/8/2026) sore.
Keputusan penghentian operasional ini berdampak langsung pada para calon penumpang yang sudah terlanjur membeli tiket untuk keberangkatan Sabtu (15/8/2026).
Sejumlah calon penumpang yang mendatangi pelabuhan akhirnya memilih untuk mengembalikan tiket yang telah dipesan dan meminta uang pembayaran mereka kembali (refund).
Langkah pengembalian tiket tersebut dilakukan lantaran kepastian mengenai kapan armada Mentawai Fast dapat kembali beroperasi secara normal belum bisa ditentukan dalam waktu dekat.
Salah seorang calon penumpang bernama Irul mengaku sengaja mendatangi lokasi keberangkatan hanya untuk memastikan langsung jadwal kapal hari ini.
Ia menyebutkan bahwa informasi mengenai penghentian sementara operasional kapal sebenarnya sudah ia ketahui melalui media sosial sejak malam sebelumnya.
Baca juga: Pemko Padang Perbaiki Sejumlah Jembatan, Normalisasi Sungai Dikebut di Tengah Ancaman Cuaca Ekstrem
Namun, untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, Irul tetap memilih datang langsung ke pelabuhan pada Sabtu pagi.
Setibanya di lokasi, Irul mendapati fakta bahwa memang tidak ada satu pun kapal yang diberangkatkan, baik kapal Mentawai Fast 01 maupun Mentawai Fast 02.
Ia menjelaskan bahwa semula berencana berangkat menuju Siberut untuk mengunjungi keluarganya dan menetap di sana selama dua hingga tiga hari.
Lantaran operasional kapal dihentikan total, Irul terpaksa menunda rencana perjalanannya sampai kondisi cuaca membaik dan operasional armada kembali dinyatakan aman.
Menurut Irul, ia sudah sering menggunakan jasa kapal cepat ini untuk menyeberang dan biasanya seluruh perjalanan berlangsung aman tanpa kendala.
Dampak penghentian operasional ini juga dirasakan oleh calon penumpang lainnya, Faza, seorang mahasiswa asal Yogyakarta yang hendak menyeberang ke Mentawai untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Faza menceritakan bahwa keberangkatan tim KKN mereka dibagi menjadi dua kloter, di mana kloter pertama sudah berhasil diberangkatkan pada Kamis sebelumnya.
Sementara itu, Faza bersama empat orang rekannya yang masuk dalam kloter kedua dijadwalkan berangkat pada hari Sabtu ini sembari membawa seluruh kebutuhan logistik KKN.
Karena seluruh operasional kapal Mentawai Fast ditutup sementara, Faza dan rekannya memutuskan untuk membatalkan penerbitan tiket mereka.
Tiket yang sudah dibeli tersebut diserahkan kembali ke pihak pengelola kapal agar uang pembelian dapat dikembalikan secara utuh.
Setelah proses refund tiket selesai, Faza dan rombongannya berencana mencari jalur penyeberangan alternatif, salah satunya dengan memanfaatkan armada kapal lain melalui Pelabuhan Bungus.
Faza berharap cuaca segera membaik sehingga ia dan rekan-rekannya tetap bisa menyeberang ke Mentawai hari ini demi mengantarkan pasokan logistik yang sangat dibutuhkan oleh tim kloter pertama.
Ia mengaku tidak merasa takut menghadapi situasi tersebut karena merasa memiliki tanggung jawab moral atas program KKN yang harus dijalankan.
Sementara itu, Manager Mentawai Fast, Riswan Ari Bayu, menegaskan bahwa penutupan sementara operasional dilakukan demi memastikan keselamatan seluruh armada dan penumpang sebelum kembali melayani jalur penyeberangan.
Riswan menjelaskan bahwa penghentian operasional kemungkinan akan berlangsung selama satu hingga dua minggu ke depan untuk fokus pada proses pemeriksaan kondisi teknis armada.
Pemeriksaan menyeluruh tidak hanya ditujukan bagi Mentawai Fast 1 yang mengalami insiden kandas, tetapi juga untuk Mentawai Fast 2 yang sempat dikerahkan membantu proses evakuasi.
Pihak manajemen berupaya memastikan seluruh komponen kapal berada dalam kondisi prima sehingga tidak menimbulkan risiko bahaya saat kembali melayani masyarakat.
Sebelumnya, Mentawai Fast 1 yang mengangkut 294 penumpang dan 12 ABK dihantam angin kencang saat hendak memasuki pintu Muara Padang hingga akhirnya terseret dan kandas di area dangkal.
Manajemen memastikan seluruh penumpang dan kru kapal dalam keadaan selamat, meski bagian propeller kapal mengalami kerusakan akibat benturan dengan bebatuan dasar muara.
Penumpang kapal Mentawai Fast 01 menceritakan detik-detik menegangkan saat kapal yang mereka tumpangi mengalami kendala dan kandas di pintu masuk Muaro Padang, Jumat (14/8/2026) sore.
Sebelumnya, Mentawai Fast 1 mengalami kandas ketika hendak memasuki pintu Muara Padang setelah berlayar dari Tuapejat menuju Padang.
Salah seorang penumpang, Muhammad Reza, mengatakan kondisi di dalam kapal sempat crowded ketika kapal mulai menghantam tepian dan akhirnya tersangkut batu.
Menurut Reza, kondisi tersebut terjadi setelah mesin kapal mati saat kapal hendak memasuki Muaro Padang.
"Mesinnya tuh mati, jadi agak ngantam ke tepi karena cuacanya angin badai, akhirnya kena batu dan tersangkut," kata Reza.
Reza menuturkan, situasi di dalam kapal sempat membuat sejumlah penumpang panik.
Bahkan, seorang penumpang warga negara asing (bule) sempat hendak melompat ketika kapal mulai menepi dan kandas.
"Kondisinya agak sedikit crowded saat tersangkut batu, ada bule juga yang sempat mau meloncat pas kapal menepi kandas," ujarnya.
Namun, menurut Reza, kepanikan tersebut dapat segera dikendalikan. Kru Mentawai Fast disebut sigap menenangkan para penumpang agar tetap berada di dalam kapal.
Ia bahkan memberikan apresiasi terhadap kinerja kru kapal yang dinilainya mampu menangani situasi dengan baik.
"Tapi alhamdulillah semuanya terkendali dengan baik. Saya salut, crew-nya hebat. Crew-nya memang sigap nenangin penumpang, kaptennya turun tangan, hebatlah," katanya.
Berangkat dari Tuapejat Pukul 14.00 WIB
Reza mengatakan kapal Mentawai Fast 01 berangkat dari Tuapejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, menuju Padang sekitar pukul 14.00 WIB.
Pada awal perjalanan, kondisi pelayaran masih berjalan normal.
Namun, ketika kapal mulai mendekati wilayah perairan Pesisir Selatan, cuaca mulai memburuk.
"Itu terasa sudah hujan badai di lautnya, posisinya sudah dekat Pesisir Selatan. Itu sudah hujan badai, gelombang sudah gede, kita memang sudah was-was juga dari awal," tuturnya.
Hingga akhirnya, sekitar pukul 17.50 WIB, kapal mengalami kendala saat hendak memasuki Muaro Padang.
Reza mengatakan mesin kapal mati sehingga kapal terdorong dan menghantam bagian tepi sebelum akhirnya mengenai batu.