Anggota DPR Ingatkan Trauma Healing Bagi Kelompok Rentan Korban Gempa NTT
Dewi Agustina August 16, 2026 09:38 AM


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP), Selly Andriany Gantina, meminta pemerintah bergerak cepat membuka jalur logistik serta memberikan pendampingan psikologis bagi korban gempa bumi magnitudo (M) 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pagi.

Selly menegaskan, keselamatan nyawa manusia harus menjadi prioritas utama. 

Baca juga: Mabes Polri Pertebal Personel Penanganan Dampak Gempa Bumi di NTT, Hari Ini Berangkatkan Brimob-K9

Oleh karena itu, percepatan pembukaan akses menuju lokasi terdampak sangat krusial.

"Pemerintah melalui BNPB, Polri, hingga TNI harus segera melakukan penyisiran ke daerah yang terdampak. Lakukan upaya pembukaan jalur agar akses bantuan dan logistik bisa masuk," kata Selly kepada wartawan, Sabtu.

Ia turut menyampaikan duka cita mendalam atas musibah tersebut, terutama bagi 47 korban yang dilaporkan meninggal dunia. 

Ia meminta langkah kemanusiaan dan penyisiran puing-puing reruntuhan terus dilakukan guna mengantisipasi adanya korban tambahan.

 

 

Di sisi lain, Selly mengapresiasi respons cepat dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, Basarnas, TNI, Polri, serta seluruh kementerian/lembaga terkait. 

Gerak cepat ini dinilai penting untuk memaksimalkan evakuasi dan menenangkan warga yang masih trauma.

Ia mengingatkan agar pendataan korban dan masyarakat terdampak dilakukan secara cepat, akurat, dan menyeluruh. 

Hal ini harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian.

Bantuan esensial seperti makanan, air bersih, obat-obatan, layanan medis, hingga kebutuhan anak sekolah, kata Selly, harus langsung tersedia di masa tanggap darurat awal.

"Anak-anak jangan sampai kehilangan rasa aman dan kesempatan untuk belajar hanya karena mereka menjadi korban bencana. Begitu pula lansia, perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya harus mendapat perhatian khusus," tutur Selly.

Selly juga berharap semangat gotong royong dari semua pihak terus dikedepankan. 

"Yang terpenting, jangan sampai ada masyarakat yang berada di tempat terpencil atau wilayah yang aksesnya terputus merasa ditinggalkan," ungkapnya. 

Lebih lanjut, Selly mendorong Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Kampung Siaga Bencana (KSB) turun tangan memperkuat dukungan psikososial di wilayah terdampak, termasuk area terisolasi. 

Menurut dia, penanganan bencana tidak boleh berhenti pada evakuasi fisik, melainkan juga harus memastikan pemulihan mental masyarakat. 

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) juga diminta hadir menciptakan ruang aman di pengungsian.

"KemenPPPA juga harus memastikan perempuan dan anak mendapat perlindungan khusus, termasuk trauma healing, pendampingan psikologis, serta ruang aman di pengungsian. Jangan sampai bencana menimbulkan trauma berkepanjangan maupun kerentanan baru terhadap kekerasan,” tegasnya.

Selly juga memberikan catatan khusus kepada BNPB terkait keselamatan wisatawan. 

Ia meminta evakuasi dan pendataan difokuskan juga pada turis yang tengah berada di NTT, khususnya di kawasan Labuan Bajo dan sekitarnya.

47 Korban Tewas

Sebagai informasi, berdasarkan laporan sementara BNPB hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 18.48 WIB, total korban meninggal dunia akibat gempa bumi M 7,7 di NTT mencapai 47 orang.

Berikut adalah rincian sebaran korban meninggal dunia di sejumlah wilayah terdampak:

  • Kabupaten Manggarai: 24 orang
  • Kabupaten Manggarai Timur: 17 orang
  • Kabupaten Sikka: 3 orang
  • Kabupaten Ngada: 1 orang
  • Kabupaten Ende: 1 orang
  • Kabupaten Manggarai Barat: 1 orang
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.