Dijuluki Gubernur Konten, Dedi Mulyadi Beri Jawaban Tak Terduga: Emang Iya, Tidak Merugikan Siapapun
Rusaidah August 16, 2026 11:38 AM

 

POSBELITUNG.CO -- Jawaban tak terduga disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat dirinya dijuluki sebagai gubernur konten.

Menurut orang nomor satu di Jawa Barat itu, aktivitasnya yang kerap membuat konten tidak merugikan siapapun.

Justru dari setiap konten yang ia buat, Dedi Mulyadi dapat memberikan bantuan berupa pembangunan daerah kepada masyarakatnya.

Hal ini disampaikan oleh Dedi Mulyadi lewat unggahannya di media sosial Instagram @dedimulyadi71.

Dalam unggahan tersebut, Dedi Mulyadi tampak tengah mengisi sebuah acara di hadapan masyarakat Jawa Barat.

Saat berada di atas panggung, Dedi kemudian menyinggung soal julukan 'Gubernur Konten' yang selama ini ditujukan kepadanya.

Baca juga: Biodata Miss Earth Indonesia 2025 Putri Andriani Juficha, Meninggal Dunia di Hari Ulang Tahun ke-26

Menariknya, Dedi mengaku tidak keberatan dengan julukan tersebut. Bahkan, ia membenarkan bahwa dirinya memang seorang 'Gubernur Konten'.

Meski begitu, Dedi menegaskan bahwa konten yang dibuatnya bukan semata-mata bertujuan untuk mencari perhatian atau popularitas di media sosial.

Menurutnya, ada manfaat yang lebih besar dari aktivitas tersebut.

Dedi menilai konten yang dibuatnya bisa menjadi sarana untuk menunjukkan berbagai persoalan masyarakat sekaligus membantu pemerintah menjalankan program pembangunan.

Dari hasil konten tersebut, ia menyebut sejumlah persoalan di Jawa Barat bisa mendapatkan perhatian dan ditindaklanjuti.

Mulai dari memperbaiki jalan yang rusak, memperbaiki sekolah yang kondisinya memprihatinkan, hingga membantu membangun rumah bagi masyarakat yang kurang mampu.

Dengan demikian, Dedi menilai julukan 'Gubernur Konten' bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan selama aktivitas tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia justru menjadikan media sosial sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan kondisi di lapangan sekaligus menunjukkan berbagai upaya pemerintah dalam membantu warga Jawa Barat.

"Mungkin orang banyak bertanya, 'eh Gubernur Konten', 'emang iya', 'kerjanya tiap hari ngonten', 'bener'," ujar Dedi.

"Ada jalan rusak saya kontenin, besoknya saya bangun sekian ratus kilometer."

"Ada rumah jelek saya kontenin, besoknya saya bangun rumah-rumah untuk rakyat miskin."

"Ada sekolah jelek saya kontenin, besoknya saya bangun sekolah-sekolah di seluruh Jawa Barat," ujar Dedi diiringi tepuk tangan para warga Jabar.

Lebih lanjut, Dedi menyebut beberapa bantuan yang ia berikan pada warga adalah hasil dari kantong pribadinya sendiri. Ia juga mengungkap alasannya kerap membantu warga menggunakan uang pribadinya sendiri.

"Tapi manusia itu ada dua, satu personal, dua jabatan."

"Satu personal, dua jabatan, personalnya memberi boleh nggak? Dedi Mulyadi memberi secara pribadi boleh nggak?" tanya Dedi.

"Boleh," jawab warga.

Baca juga: Biodata Sunarto, Ketua MA Punya Gaji Lebih Besar dari Ketua MA Singapura, Prabowo: Naik 280 Persen

"Karena saya bingung di rumah mau ngapain, nggak ada biaya rumah tangga, saya kan duda, kebutuhan rumah tangga hampir nggak ada, lebih baik setiap saya ketemu warga, mahasiswa saya bisa support secara pribadi," pungkas Dedi Mulyadi.

Dedi Mulyadi buka suara soal julukan 'Gubernur Konten', netizen langsung ramai memberi komentar. Banyak yang memuji aksi pria yang akrab disapa KDM tersebut.

"Emang iya,lagian tidak merugikan siapapun malah jadi contoh buat kita bahwa kebaikan itu harus banyak" kita lakukan," tulis akun @tiy***.

"Hasil ngonten bermanfaat, barakallah kang Dedi," tambah akun @cha***.

"Semangat kang selama niat hati baik lakukan saja gaspol," tambah akun @ste***.

Tanggapan Pakar Komunikasi Politik

Pengamat komunikasi menilai apa yang dilakukan Dedi Mulyadi sebagai "investasi politik".

Dedi Mulyadi dijuluki "gubernur konten" atas sejumlah kontroversinya, termasuk soal pengiriman "anak-anak nakal" ke barak militer dan kewajiban vasektomi bagi pria berkeluarga yang ingin mendapat bantuan sosial, yang memicu perdebatan di media sosial.

Pakar komunikasi politik Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, menyebut seringnya Dedi Mulyadi tampil di publik dan media sosial sebagai "investasi politik" demi membangun langkah-langkah politiknya ke depan.

Sementara pengamat kebijakan publik, Diding Bajuri, menganggap Dedi Mulyadi yang kerap muncul di media sosial membentuk citra kepemimpinan "one-man show".

Tapi Dedi Mulyadi berdalih upayanya hadir di media sosial bisa "menurunkan belanja rutin iklan" pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Adapun peneliti media sosial dan demokrasi dari Monash University Indonesia, Ika Idris, menyebut apa yang dilakukan Dedi dengan tampil di media sosial adalah "wajar", namun menurutnya wacana yang diutarakan gubernur tersebut kerap kali belum matang dan justru membuat gaduh.

"Jangan sampai kebijakan [yang] masih dalam tahapan ide, sudah disampaikan ke publik dengan pola komunikasi yang sangat telanjang," kata Ika kepada wartawan Johanes Hutabarat yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Adapun, julukan gubernur konten awalnya diucapkan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud, saat menyapa Dedi Mulyadi dalam rapat di DPR RI.

Dedi Mulyadi: Banyak Anggota DPR yang Ceraikan Istri, Cari Bini Muda dan Poligami
Dedi Mulyadi (Youtube)

"Saya selalu ditanya, 'Pak Dedi, duitnya dari mana ngonten?' Habis itu dimasalahin lagi," kata Dedi dalam pidato saat upacara Hari Kebangkitan Nasional 2025 di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Selasa (20/5/2025), dikutip dari TribunJakarta.com.

"Gubernur konten lebih baik, dari jadi gubernur konten punya duit diberikan pada rakyat daripada gubernur molor."

"Benar enggak? Benar ya kan? Daripada gubernur tidur, gubernur protokoler, gubernur ingin dihargai, gubernur menghabiskan anggaran jalan-jalan ke luar negeri," sambungnya.

Dalam kesempatan ini, Dedi juga mengatakan, Indonesia memerlukan sosok yang bermental kuat jika ingin melakukan perbaikan agar lebih baik ke depannya.

Karena menurut Dedi, pasti akan ada kaum yang nyinyir terkait kebijakan yang ada nantinya.

Dedi kemudian mencontohkan pengalaman yang sudah dilaluinya hingga saat ini ketika memimpin Jawa Barat.

"Kenapa? Harus kuat menghadapi kaum nyinyir dan biarkan yang nyinyir suruh sakit hati selamanya karena Jawa Barat akan terus mengalami peningkatan pembangunannya."

"Ini baru 3 bulan, 100 hari itu tanggal 30 Mei. 100 hari kepemimpinan saya, belum 100 hari sudah banyak orang yang kepanasan apalagi 5 tahun," tegasnya.

Sebelumnya, Dedi sempat memberikan balasan menohok kepada Rudy Mas'ud, setelah disebut sebagai gubernur konten.

Menurut Dedi, meskipun dirinya sering mengonten, tetapi kegiatannya itu ternyata berdampak pada belanja rutin iklan.

"Dan terakhir tadi Pak Gubernur Kaltim mengatakan Gubernur Konten. Alhamdulillah dari konten yang saya miliki itu bisa menurunkan belanja rutin iklan," ujar Dedi.

(Bangkapos.com/Grid.id/Kompas.com/TribunJakarta.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.