Zikir Hari Damai Aceh Ricuh, Pengelola Masjid Raya Baiturrahman Minta Panitia Bertanggung Jawab
Faisal Zamzami August 16, 2026 11:39 AM

 


Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Pengelola Masjid Raya Baiturrahman Aceh meminta panitia bertanggung jawab atas kericuhan dan kerusakan sejumlah fasilitas yang terjadi dalam kegiatan zikir dan doa tolak bala dalam rangka memperingati Hari Damai Aceh ke-21 di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan yang semula berlangsung khidmat tersebut dihadiri massa dalam jumlah jauh di atas perkiraan panitia. Dalam pelaksanaannya, terjadi sejumlah tindakan yang mengganggu ketertiban dan kebersihan hingga menyebabkan beberapa fasilitas masjid mengalami kerusakan.

Kepala UPTD Pengelola Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Aprilizar, menegaskan panitia harus bertanggung jawab atas kerusakan fasilitas yang terjadi selama kegiatan.

“Panitia perlu segera berkoordinasi kembali dengan pihak masjid untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi, termasuk kerusakan beberapa fasilitas. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab panitia atas perjanjian yang telah disepakati sebelumnya,” ujarnya.

Aprilizar mengatakan, sejak awal panitia telah menyepakati sejumlah ketentuan terkait keamanan, kebersihan, ketertiban, kesucian masjid, larangan provokasi dan politik praktis, serta kewajiban menjaga seluruh fasilitas masjid.

Baca juga: Peringatan Hari Damai Aceh Ricuh, Warga dan Aparat Terluka, Kendaraan Rusak 1 Sepmor Dibakar

Sementara itu, Wakil Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Abi Ishak Lamkawe, menegaskan bahwa pihak masjid hanya memberikan izin penggunaan tempat. Adapun penyelenggaraan kegiatan sepenuhnya menjadi tanggung jawab panitia.

Abi Ishak juga menyampaikan terima kasih kepada petugas keamanan Masjid Raya Baiturrahman, para khadam masjid, serta jajaran TNI dan Polri yang telah membantu menjaga ketertiban selama acara berlangsung.

Namun, ia menyayangkan adanya tindakan massa yang mengganggu ketertiban dan kebersihan, bahkan menyebabkan sejumlah fasilitas masjid rusak. Salah satunya adalah insiden penurunan bendera Merah Putih dari tiang utama Masjid Raya Baiturrahman.

Hal senada disampaikan Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Abu H. Muhammad Ali atau Abu Paya Pasi. Ia mengingatkan bahwa Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga merupakan salah satu simbol penting bagi masyarakat Aceh.

Menurutnya, setiap kegiatan yang dilaksanakan di dalam maupun di lingkungan masjid harus tetap menjunjung tinggi adab, ketertiban, serta kehormatan tempat ibadah.

“Semangat zikir dan doa seharusnya berjalan seiring dengan sikap menjaga kedamaian, kebersihan serta ketertiban,” katanya.

“Besarnya jumlah jamaah maupun tingginya antusiasme masyarakat tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan aturan yang telah disepakati bersama,” tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.