Opini: Ketika Nusa Bunga Berguncang- Dari Ayunan Luka Menuju Solidaritas dan Harapan
Dion DB Putra August 16, 2026 12:19 PM

Oleh: Rm. Yudel Neno
Imam Keuskupan Atambua, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Flores adalah Nusa Bunga. Tanah yang selama ini dikenal karena lautnya yang memeluk pulau-pulau kecil, gunung-gunungnya yang berdiri anggun, jalan-jalannya yang meliuk seperti huruf S di antara bukit dan lembah, serta masyarakatnya yang hidup dalam kekayaan kultur, religiositas dan keramahan. Tetapi pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, Nusa Bunga seakan kehilangan bunga-bunganya untuk beberapa saat. 

Tanah yang indah itu berguncang. Laut yang biasanya memesona mata berubah menjadi sumber kecemasan. Jalan yang biasanya mengantar orang menuju tujuan berubah menjadi ruang yang harus dilalui dengan kewaspadaan.

Pukul 05.58 WITA, gempa tektonik besar mengguncang Flores. BMKG menetapkan parameter gempa utama pada magnitudo 7,7, berpusat di sekitar Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. 

Baca juga: Opini: Merdeka Setengah Tiang

BMKG menjelaskan bahwa gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust). Guncangan dirasakan luas: dari Mbay dan Riung, Ende, Aimere, Ruteng, Labuan Bajo, hingga Maumere dan berbagai wilayah lain di Flores.

Lalu bumi tidak segera diam.

Gempa susulan datang berkali-kali. Bagi orang yang mengalaminya, waktu seolah dihitung bukan lagi dengan jarum jam, melainkan dengan getaran: lima menit, sepuluh menit, setengah jam, satu jam—kemudian bumi seperti bergerak kembali. 

Bahkan hingga pagi berikutnya BMKG masih mencatat gempa-gempa di kawasan Flores dan Laut Flores.

Di dalam keadaan seperti itu kita akhirnya mengerti: gempa tidak hanya mengguncang tanah. Gempa mengguncang ingatan.

Bagi Flores, ingatan itu panjang.

Maumere terutama masih menyimpan memori kelam gempa dan tsunami 1992. Lebih dari tiga dasawarsa telah berlalu, tetapi trauma tidak selalu tunduk kepada kalender. 

BMKG sendiri mengingatkan bahwa pada 1992 pernah terjadi gempa besar di Flores yang mengakibatkan kerusakan luar biasa.  

Guncangan-guncangan lain sesudahnya, bencana Seroja, erupsi Lewotobi Laki-Laki, dan berbagai pengalaman kebencanaan membuat ketakutan masyarakat tidak pernah benar-benar berangkat dari titik nol. 

Setiap bencana baru datang membawa dirinya sendiri sekaligus membangunkan kembali ketakutan-ketakutan lama.

Karena itu, antara pukul 05.58 dan menit-menit sesudahnya, Flores seperti ayunan raksasa yang dimainkan oleh kekuatan yang tidak terlihat.

Tangis pecah. Teriakan bersahutan. Orang berlari meninggalkan rumah. Anak-anak mencari orang tua. 

Orang tua mencari anak-anak. Mereka yang tinggal dekat pantai bergerak mencari tempat yang dirasa lebih aman setelah peringatan tsunami dikeluarkan.

Di Maumere, pagi itu saya berada persis di depan gerbang Pelabuhan Lorens Say bersama rombongan yang hendak kembali menuju Timor–Atambua.

Saya mendengar gemuruh itu.

Kemudian tanah bergerak.

Dalam beberapa detik manusia seperti kehilangan kepastian tentang tempat berpijak. 

Orang berlarian ke sana kemari. Teriakan dan doa bercampur menjadi satu bahasa paling purba dari manusia ketika berhadapan dengan bahaya: ketakutan.

Dari kejauhan saya menyaksikan bagian ruang tunggu Pelabuhan Lorens Say mengalami kerusakan dan runtuh. 

Peristiwa kerusakan ruang tunggu itu kemudian juga dikonfirmasi oleh Kantor SAR Maumere; dari lokasi tersebut korban dievakuasi, termasuk seorang yang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan.

Di sekitar Kapal Bukit Siguntang, bunyi, gerakan kapal, guncangan tanah dan kepanikan manusia membuat jantung berdegup lebih cepat. 

Dalam kekacauan itu saya menyaksikan bagaimana orang berusaha menyelamatkan diri dan sesamanya. 

Ada penumpang yang terjatuh ketika akses menuju kapal bergerak akibat guncangan. Teriakan meminta pertolongan terdengar di tengah kepanikan.

Saat-saat seperti itu mengajarkan sesuatu yang menyakitkan: dalam kepanikan, manusia dapat kehilangan orientasi untuk beberapa saat. Tetapi justru setelah ketakutan pertama berlalu, kemanusiaan harus mengambil alih. 

Sebab bencana tidak boleh mengubah manusia menjadi pribadi yang hanya berpikir, “Bagaimana saya selamat?” Bencana seharusnya menggerakkan pertanyaan yang lebih luhur: “Siapa yang masih harus saya selamatkan?”

Besarnya tragedi itu perlahan terlihat dari angka.

Berdasarkan pemutakhiran resmi BNPB hingga Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 18.48 WIB, jumlah korban meninggal dunia sementara telah mencapai 47 orang: 24 orang di Manggarai, 17 di Manggarai Timur, tiga di Sikka, serta masing-masing satu di Manggarai Barat, Ngada dan Ende. 

BNPB juga mencatat 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan, disertai kerusakan fasilitas pendidikan, kesehatan, tempat ibadah, kantor dan fasilitas umum lainnya.

Pada pemutakhiran sebelumnya, BNPB mencatat dua korban luka berat, 11 luka ringan dan sekitar 2.000 orang mengungsi atau melakukan evakuasi mandiri. 

Angka korban luka masih terus diverifikasi; data resmi yang tersedia juga belum memisahkan korban patah tulang sebagai kategori statistik tersendiri.

Baca juga: Opini: Sudah Merdeka dari Penjajahan, Belum Merdeka dari Algoritma?

Maka angka 47 tidak boleh berhenti sebagai angka.

Empat puluh tujuh adalah keluarga yang kehilangan seseorang. Empat puluh tujuh adalah kursi yang kelak kosong di meja makan. 

Empat puluh tujuh adalah nama yang akan disebut dengan suara bergetar dalam doa-doa keluarga.

Dan di antara sekian kisah duka itu, tersiar sebuah pemandangan yang sangat mengiris hati dari Manggarai: seorang ibu ditemukan meninggal bersama bayinya di bawah reruntuhan, dengan sang bayi berada di dadanya dan tangannya masih merangkul anaknya.

Barangkali reruntuhan dapat menghancurkan rumah, tetapi pada tubuh seorang ibu itu kita menemukan sesuatu yang tidak berhasil dihancurkan oleh gempa: kasih.

Ia seakan menjadi homili tanpa mimbar.

Dalam detik ketika bangunan kehilangan kekuatannya, seorang ibu masih berusaha menjadi benteng bagi kehidupan yang dipeluknya.

Di Mbay dan tempat-tempat lain, ada orang yang menangis sambil bertanya: Di manakah Tuhan?

Pertanyaan seperti itu tidak perlu segera dijawab dengan teori yang panjang. Sebab penderitaan terlalu nyata untuk ditutup dengan kalimat-kalimat saleh yang tergesa-gesa. 

Ada saat ketika manusia merasa seolah-olah Tuhan mengambil jarak; seolah doa membentur langit yang tertutup.

Namun iman tidak selalu berarti mampu menjelaskan mengapa bencana terjadi.

Iman kadang-kadang hanyalah keberanian untuk tetap memanggil Tuhan ketika air mata membuat kita hampir tidak mampu berkata apa-apa.

Dan pada titik ini bencana memberi kita pelajaran keras mengenai peradaban manusia. Kita memiliki gedung tinggi, teknologi digital, mesin canggih, sistem komunikasi, kendaraan modern dan berbagai pencapaian ilmu pengetahuan. Semuanya penting. 

Tetapi gempa mengingatkan bahwa kecanggihan bukanlah keilahian. Teknologi dapat membantu manusia memitigasi bencana, tetapi tidak memberikan kepada manusia kuasa mutlak atas alam.

Karena itu bencana tidak boleh membawa kita kepada fatalisme, melainkan kepada kerendahan hati dan kesiapsiagaan.

Demikian pula, kegelisahan masyarakat terhadap berbagai proyek pembangunan—termasuk perdebatan mengenai geothermal—harus didengarkan dengan serius, tetapi tidak boleh dicampuradukkan dengan penjelasan ilmiah mengenai gempa ini. 

BMKG telah mengidentifikasi gempa M7,7 tersebut sebagai peristiwa tektonik berkaitan dengan sistem sesar naik busur belakang Flores.  

Kekhawatiran publik mengenai pembangunan tetap sah untuk dibicarakan secara transparan, ilmiah dan partisipatif, tetapi penderitaan korban tidak boleh dipakai untuk membangun hubungan sebab-akibat yang belum terbukti.

Kini Flores sedang terluka.

Nusa Bunga sejenak seperti diam tak berdaya. Laut yang dahulu mengundang orang datang memandang keindahannya sempat terlihat seperti monster yang harus dijauhi. 

Jalan berkelok yang biasanya menghadirkan panorama berubah menjadi jalur yang di beberapa tempat terganggu longsoran. Rumah-rumah kehilangan dinding. Tempat ibadah terluka. Sekolah dan fasilitas kesehatan ikut terdampak. 

Pemerintah bahkan melaporkan kerusakan pada sejumlah fasilitas pelabuhan dan bandara.

Tetapi Flores bukan hanya tanah yang berguncang. Flores adalah manusia-manusia yang dapat saling menopang ketika tanah kehilangan kestabilannya.

Karena itu, kepada siapa pun yang membaca tulisan ini: mari doakan Flores.

Doakan mereka yang telah meninggal dunia. Doakan ibu dan bayi kecil yang ditemukan dalam satu pelukan terakhir itu. Doakan mereka yang masih dirawat. Doakan anak-anak yang ketakutan setiap kali mendengar bunyi keras. 

Doakan orang-orang tua yang memilih tidur di luar rumah karena belum berani kembali masuk. Doakan para tenaga medis, Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, imam, biarawan-biarawati dan semua orang yang sedang bekerja di tengah reruntuhan.

Dan lebih daripada doa, marilah kita menghadirkan solidaritas yang dapat disentuh: makanan untuk yang lapar, air untuk yang haus, tenda bagi yang kehilangan rumah, obat bagi yang terluka, pendampingan bagi mereka yang mengalami trauma, dan pelukan bagi mereka yang kehilangan orang terkasih.

Karena mungkin kita tidak sanggup menghentikan bumi ketika ia berguncang.

Tetapi kita masih dapat memastikan bahwa ketika bumi berguncang, kemanusiaan tidak ikut runtuh.

Flores, Nusa Bunga—engkau sedang terluka.

Untuk sementara, menangislah.

Tetapi jangan kehilangan harapan.

Sebab di atas puing-puing yang tidak beraturan itu, akan selalu ada tangan yang mengangkat batu, tangan yang membalut luka, tangan yang membagikan makanan, tangan yang menggenggam tangan sesamanya, dan tangan-tangan yang terkatup dalam doa.

Bumi boleh berguncang, rumah boleh runtuh, laut boleh membuat manusia gentar; tetapi kasih, persaudaraan dan harapan tidak boleh ikut roboh.

Doa kami untukmu, Flores.

Nusa Bunga yang terluka—bangkitlah kembali. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.