BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI -Aksi kepedulian sosial berupa pembagian masker gratis di tengah kepungan asap karhutla mendapat apresiasi dari warga Kabupaten Tanahlaut (Tala).
Masyarakat bahkan berharap kegiatan serupa kembali dilakukan karena potensi munculnya kabut asap masih terbuka seiring cuaca yang semakin panas dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih bermunculan di sejumlah titik.
Harapan itu mengemuka setelah aksi Masyarakat Sadar Lingkungan (My Darling) membagikan masker kepada pengguna jalan di kawasan bondong, Desa Gunungraja, Kecamatan Tambangulang, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Sabtu pagi kemarin.
Sehari setelah aksi tersebut, Minggu (16/8/2026), perhatian warga terhadap kondisi udara di kawasan itu masih menjadi sorotan.
Jalur tersebut merupakan bagian dari Jalan Poros Trans Kalimantan yang menghubungkan Pelaihari dan Banjarmasin sehingga setiap muncul asap, pengguna jalan menjadi kelompok yang langsung merasakan dampaknya.
Baca juga: Semarak Tala Ethnic Carniva 2026, Warga Tanahlaut Puas Saksikan Parade Kreativitas
Baca juga: Kecelakaan Beruntun di Jalan A Yani Km 30 Banjarbaru, Satu Orang Pengendara Dikabarkan Meninggal
Kalangan warga Tala mengapresiasi langkah My Darling tersebut dan berharap pembagian masker tidak berhenti pada satu kegiatan.
Salah seorang warga Tala, Susilo, menilai pembagian masker merupakan bentuk kepedulian yang sederhana tetapi sangat dibutuhkan ketika asap mulai menyelimuti badan jalan.
Menurutnya, pengguna kendaraan roda dua paling merasakan dampak karena harus berada langsung di ruang terbuka saat melintasi kawasan yang berasap.
“Bagus sekali kalau ada pembagian masker seperti ini. Semoga nanti bisa dilakukan lagi karena cuaca sekarang semakin panas dan kita tidak tahu kapan asap muncul lagi,” ujar pedagang keliling ini.
Ia berharap masyarakat juga semakin sadar untuk melindungi diri ketika harus melintas di kawasan yang terdampak asap.
Senada, warga Tala lainnya, Fitriani, mengapresiasi aksi tersebut dan berharap kegiatan serupa kembali digelar apabila kondisi asap kembali memburuk.
“Semoga dibagikan lagi kalau asap masih muncul. Karhutla kan masih sering terjadi di beberapa tempat. Kalau cuaca makin panas, kita juga khawatir asap kembali menyebar ke jalan,” katanya.
Pekerja swasta ini menilai keberadaan masker cukup membantu, khususnya bagi pengendara yang setiap hari menggunakan jalur Pelaihari–Banjarmasin untuk bekerja maupun beraktivitas.
Menurutnya, persoalan asap bukan hanya soal jarak pandang dan kenyamanan berkendara, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat.
“Paling tidak dengan masker kita bisa mengurangi paparan asap saat berkendara. Apalagi kalau kondisi asap cukup tebal,” ujarnya.
Pagi kemarin My Darling melalukan pembagian masker gratis sejak pukul 07.00 Wita dan berlangsung kurang lebih satu jam.
Sebanyak 1.500 masker dibagikan kepada pengguna jalan, baik pengendara roda dua maupun roda empat.
Ketua My Darling, Muhammad Khaidir, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk responsif organisasinya terhadap kondisi karhutla yang mulai memunculkan asap dan menyelimuti ruas Jalan Poros Trans Kalimantan jalur Pelaihari–Banjarmasin.
Masker disediakan secara mandiri oleh My Darling sebagai upaya sederhana membantu mengurangi risiko paparan asap terhadap pengguna jalan.
Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari sejumlah pihak, di antaranya komunitas Forsa, Fahmi Ummi Tanah Laut, Emergency ERG, Pemerintah Desa Pulasari, Pemerintah Desa Gunungraja, Karang Taruna Kecamatan Bumimakmur, serta jajaran pengurus dan anggota Karang Taruna Kabupaten Tanah Laut.
Khaidir menegaskan pihaknya membuka kemungkinan untuk kembali melakukan pembagian masker dengan melihat perkembangan kondisi di lapangan.
Harapan warga agar aksi tersebut berlanjut pun menjadi catatan tersendiri. Sebab, memasuki periode cuaca panas, potensi karhutla dan kemunculan asap masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai bersama.
Bagi pengguna jalan di jalur Pelaihari–Banjarmasin, masker bukan sekadar pemberian gratis.
Di tengah asap yang sewaktu-waktu dapat kembali menyelimuti jalan, benda sederhana itu menjadi salah satu bentuk perlindungan ketika aktivitas perjalanan tetap harus berjalan.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)