Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur atau NTT, Sabtu (15/8/2026) subuh. Gempa berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo memiliki kedalaman 15 kilometer dan sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah. Setelah melakukan pemantauan terhadap kondisi muka laut, BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB, karena tidak ditemukan lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan.
Guncangan itu juga diikuti aktivitas gempa susulan. Kondisi ini membuat kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan, terutama karena wilayah Flores memiliki sejarah kegempaan yang signifikan. Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, sekaligus ahli gempa dan kadaster, Prof. Irwan Meilano menjelaskan karakteristik gempa, potensi gempa susulan, serta sejumlah faktor yang dapat memengaruhi tingkat kerusakan.
Prof. Irwan menjelaskan gempa Flores 15 Agustus 2026 memiliki kemiripan dari sisi lokasi dan mekanisme dengan gempa Flores yang terjadi pada 1992. Jarak kedua lokasi gempa kurang dari 40 kilometer.
“Apabila melihat dari mekanisme gempa dan lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada 1992. Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi,” ujarnya, Minggu (16/8/2026).
• 48 Orang Dilaporkan Meninggal akibat Gempa M 7,7 di Flores NTT, SAR Perluas Pencarian
Baca juga: Update BMKG: Gempa M 4,1 di Laut Pangandaran Dirasakan di Tasikmalaya dan Cianjur
Menurut Prof. Irwan, tingginya tsunami pada 1992 turut dipengaruhi oleh longsoran bawah laut yang terjadi setelah gempa, sehingga tsunaminya tinggi. Namun, untuk gempa kali ini, dia berharap kondisi serupa tidak terjadi. Meskipun memiliki magnitudo yang relatif besar dan lokasi yang berdekatan dengan gempa 1992, faktor pemicu tsunami perlu menjadi perhatian tersendiri.
"Mudah-mudahan dalam gempa ini, walaupun magnitudonya mirip, yang dulu 7,9 dan sekarang 7,7, lokasinya pun berdekatan tidak sampai 40 kilometer, tetapi tidak diikuti dengan longsoran bawah laut sehingga tsunaminya tidak setinggi tsunami 1992," ujarnya.
Wilayah tempat terjadinya gempa merupakan bagian dari Flores Back Arc atau busur belakang Flores, kawasan yang memiliki aktivitas kegempaan signifikan. Menurut Prof. Irwan, kawasan itu memiliki riwayat gempa besar, termasuk gempa bermagnitudo 6,6 pada 2009 dan rangkaian gempa di utara Lombok pada 2018.
"Kalau ingat pada 2018 misalnya, di utara Lombok, itu pun terjadi retakan gempa besar di atas magnitudo 6,” ujarnya.
Dia menjelaskan, kajian akademik dalam penyusunan peta gempa nasional menunjukkan masih ada bagian di kawasan tersebut yang memiliki potensi kegempaan.
"Kami tidak berharap itu terjadi, tetapi secara riset akademik dari yang kami hasilkan dari riset Pusgen yang menjadi pusat studi gempa nasional, yang menjadi peta nasional gempa Indonesia saat ini, sebetulnya potensi gempa itu tidak kami harapkan tetapi masih ada di wilayah tersebut," katanya.
Aktivitas gempa susulan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan setelah gempa utama. Berdasarkan pemantauan BMKG, puluhan gempa susulan telah tercatat setelah gempa utama, dengan magnitudo hingga 6,2.
Prof. Irwan menjelaskan, gempa besar pada umumnya memang diikuti oleh gempa-gempa susulan yang secara bertahap cenderung menurun magnitudonya.
"Biasanya gempa besar terjadi akan diikuti beberapa gempa-gempa susulan yang magnitudonya semakin lama akan semakin kecil," ujarnya seraya tetap mengingatkan untuk tetap waspada.
Dia juga mengingatkan bahwa gempa susulan dengan magnitudo di atas 6 tetap berpotensi menimbulkan dampak yang signifikan. Potensi kerusakan akibat gempa tidak hanya ditentukan oleh magnitudo, melainkan Prof. Irwan menyebut kedalaman sumber gempa dan jaraknya dari kawasan permukiman sebagai faktor penting lainnya.
Gempa Flores 15 Agustus 2026 memiliki magnitudo 7,7 dengan kedalaman sekitar 10–15 kilometer berdasarkan sejumlah sumber, sehingga tergolong relatif dangkal. Hasil pemutakhiran BMKG juga menunjukkan gempa itu dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust.
"Kombinasi magnitudo yang besar, kedalaman yang relatif dangkal, serta lokasi yang berdekatan dengan kawasan permukiman dapat meningkatkan potensi guncangan yang merusak. Gempa ini magnitudonya pun signifikan, M7,7, kemudian kedalamannya dari beberapa sumber sekitar 10 sampai 15 kilometer. Dengan dua kombinasi ini dan ada kombinasi yang ketiga, yaitu lokasinya dekat dengan permukiman,” katanya.
Selain karakteristik gempa, kondisi lingkungan dan infrastruktur di wilayah terdampak turut menentukan tingkat kerusakan, salah satunya adalah kondisi tanah yang dapat memperkuat guncangan melalui proses amplifikasi.
"Ada faktor yang lain, yaitu kualitas dari infrastruktur dari permukiman. Rentetan dari kemungkinan-kemungkinan ini kemudian yang menghasilkan tingkat kerusakan," ujarnya.
Dampak gempa pada setiap wilayah dapat berbeda. Magnitudo dan kedalaman gempa, jarak dari sumber gempa ke permukiman, kondisi tanah, serta kualitas bangunan menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai potensi kerusakan. Prof. Irwan menilai, dengan melihat magnitudo, kedalaman, dan lokasi gempa terhadap kawasan perkotaan, sejumlah infrastruktur strategis perlu mendapat perhatian.
"Secara khusus saya menyoroti sekolah, fasilitas kesehatan, dan fasilitas pemerintahan. Infrastruktur tersebut memiliki peran penting, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga dalam mendukung penanganan dan pemulihan setelah bencana. Semoga proses pemulihan terhadap infrastruktur strategis yang terdampak dapat dilakukan secara cepat sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan," ucapnya.
Selain itu, Prof. Irwan menegaskan banyaknya gempa susulan tidak serta-merta menunjukkan akan terjadi gempa yang lebih besar. Secara umum, magnitudo gempa susulan cenderung menurun seiring waktu. Namun, karakteristik kegempaan di kawasan Flores Back Arc membuat kewaspadaan tetap diperlukan.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk tetap tenang, mengikuti informasi resmi dari BMKG dan instansi berwenang, serta menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan hingga dipastikan aman.
Pemahaman terhadap karakteristik gempa dan kesiapsiagaan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko. Sebab, tingkat kerusakan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan gempa, tetapi juga oleh kedalaman sumber gempa, jarak dari permukiman, kondisi tanah, serta kualitas bangunan.(*)