SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Terik matahari selama latihan membuat warna kulit Abdul Jabbar Al Faruq Putra Wahyudin berubah.
Pelajar SMA Taruna Nala Jawa Timur itu bahkan punya cara unik untuk menggambarkan penampilannya setelah menjalani latihan sebagai calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Malang.
"Awalnya ketika melihat kulit saya menjadi hitam, karena saya dulu merasa cukup ganteng dan cukup putih, sekarang sudah kayak pentol kecap," kelakar Faruq sambil tertawa.
Meski mengeluhkan perubahan warna kulitnya, Faruq sadar hal tersebut merupakan konsekuensi dari pilihannya sendiri.
Ia telah memutuskan mengikuti seleksi Paskibraka dan harus menjalani seluruh proses hingga tuntas.
"Mau enggak ikhlas tapi bagaimana lagi, sudah masuk Paskibraka. Yang mau masuk Paskibraka juga saya sendiri, jadi saya harus menerima konsekuensi yang ada," katanya.
Cerita serupa datang dari Aurelia Sava Radisty Salsabilla atau Lia. Pelajar SMAN 4 Kota Malang itu mengaku kerap memeriksa wajahnya di depan cermin sepulang latihan.
Kulit wajah dan tangannya menjadi belang karena hampir setiap hari terpapar matahari. Keluhan serupa juga dirasakan anggota perempuan lainnya.
Namun, pengalaman itu justru menjadi bahan cerita dan saling menyemangati di antara mereka.
Baca juga: Sambut HUT ke-81 RI, Siswa dan Guru se-Jatim Anjangsana ke Para Pejuang Kemerdekaan
Di balik cerita ringan tersebut, ada perjalanan panjang yang membawa keduanya menjadi bagian dari calon Paskibraka Kota Malang.
Faruq bahkan bukan warga asli Malang. Ia berasal dari Sidoarjo dan menempuh pendidikan di SMA Taruna Nala Jawa Timur.
Keputusannya mengikuti Paskibraka didorong keinginan mengasah kepemimpinan sekaligus keluar dari zona nyaman.
Menurut Faruq, Paskibraka memberinya kesempatan bertemu lingkungan dan orang-orang baru.
Ia ingin memperluas pertemanan sekaligus belajar beradaptasi dengan orang lain di Kota Malang.
"Saya merasa jiwa kepemimpinan saya bisa diadu di sini. Karena di Paskibraka ini diajarkan tentang kepemimpinan dan rasa bergaul dengan teman, dengan lingkungan baru," ungkapnya.
Sementara perjalanan Lia memiliki cerita berbeda. Keinginannya menjadi Paskibraka tidak terlepas dari sang ibu.
Ibunya merupakan Purna Paskibraka Kota Malang tahun 2007. Setiap memasuki Agustus, cerita tentang pengalaman menjadi Paskibraka kembali terdengar di rumah Lia.
Baca juga: Jelang HUT ke-81 RI, 76 Paskibraka Kota Malang Digembleng, Mental Jadi Kunci saat Bertugas
Cerita-cerita itulah yang perlahan menumbuhkan ketertarikannya. Ketika kesempatan mendaftar terbuka setelah dirinya memasuki SMA, dorongan dari orang tua dan orang-orang terdekat membuat Lia mantap mencoba.
Apalagi Lia memiliki postur tubuh yang cukup tinggi. Remaja berusia 16 tahun menuju 17 tahun itu memiliki tinggi badan 168 sentimeter.
Sebelumnya, Lia lebih banyak mengembangkan kemampuan public speaking. Paskibraka menjadi ruang baru baginya untuk menguji kemampuan dari sisi yang berbeda, terutama fisik.
Perjalanan keduanya tidak berlangsung singkat. Para calon harus melewati tahapan mulai pendaftaran dan seleksi administrasi, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Inteligensia Umum (TIU), kesehatan, kesamaptaan hingga tahapan penentuan akhir.
Bagi Faruq, wawancara menjadi bagian paling menantang. Sebagian tes fisik bukan hal yang sepenuhnya asing karena dirinya pernah menghadapi tahapan serupa di sekolah.
Namun ketika wawancara, ia harus menunjukkan kemampuan dirinya di hadapan penguji dan menjawab berbagai pertanyaan secara langsung.
Sebaliknya, wawancara justru bukan momok terbesar bagi Lia. Pengalamannya di bidang public speaking membuat dirinya lebih terbiasa berbicara.
Ujian fisik atau kesamaptaanlah yang membuatnya harus bekerja keras. Salah satunya berlari selama 12 menit di lapangan Lanal Malang. Dalam ingatannya, ia mampu menyelesaikan sekitar lima hingga enam putaran.
"Karena fokusnya mengejar, karena egonya juga bersaing, seingat saya lima sampai enam mungkin," tuturnya.
Bukan hanya Faruq yang mengikuti seleksi. Sekitar enam hingga tujuh pelajar di kelasnya juga mencoba peruntungan yang sama. Persaingan pun cukup ketat.
Ketika daftar nama dibuka, Faruq menemukan namanya berada di dalam daftar peserta yang diterima.
Dari teman-teman sekelas yang mengikuti seleksi, menurut dia, hanya empat orang yang berhasil lolos. Suasana kelas pun bercampur antara kegembiraan mereka yang diterima dan kekecewaan peserta yang belum berhasil.
Lia juga sempat tidak percaya diri sebelum hasil seleksi diumumkan. Ia merasa harus bersaing dengan peserta dari sekolah-sekolah lain, termasuk para pelajar Taruna.
Begitu mengetahui dirinya berhasil, kabar tersebut segera dibagikan kepada orang-orang terdekat dan guru di sekolah. Bagi Lia, keberhasilan menjadi bagian Paskibraka kemudian memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengibarkan bendera.
Latihan mengajarkannya disiplin mengatur waktu. Namun, kehidupan sebagai calon Paskibraka juga mempertemukannya dengan puluhan orang yang sebelumnya sama sekali tidak dikenal. Mereka kemudian harus belajar bekerja sebagai satu kesatuan.
“Mulai dari pertemanan, persahabatan, kerja sama, chemistry bersama teman yang kita belum pernah bertemu, lalu kami dipertemukan di dalam satu lapangan dan kami dituntut untuk bisa kompak,” kata Lia.
Menjelang 17 Agustus 2026, ia merasakan ikatan tersebut semakin kuat. Kebersamaan mereka bahkan memiliki sistem unik. Di lingkungan Paskibraka Kota Malang terdapat konsep kehidupan layaknya sebuah kelurahan.
Tanggal 17 Agustus semakin dekat. Kulit yang menggelap atau belang mungkin akan kembali seperti semula. Namun dipercaya membawa Sang Merah Putih menjadi cerita yang akan jauh lebih lama mereka ingat.
Baca juga: Trans Jatim Gerbangkertasusila dan Malang Raya Digratiskan 17 Agustus 2026 Kecuali Kelas Luxury