Ereveld Menteng Pulo, Sepenggal Sejarah Perang Dunia II di Jakarta
GH News August 16, 2026 07:08 PM
Jakarta -

Jakarta memiliki sejumlah tempat bersejarah yang menyimpan cerita masa lalu. Salah satunya Ereveld Menteng Pulo yang berada di kawasan Menteng, Jakarta Selatan.

Tempat ini bukan kompleks pemakaman biasa, tetapi juga menjadi pengingat tentang dampak Perang Dunia II di Asia dan masa revolusi Indonesia.

Pada 1942, Indonesia masih menjadi Hindia Belanda dan sekitar 300.000 orang Belanda serta Indo-Belanda menetap di wilayah yang koloni Belanda.

Pada Januari tahun yang sama, Jepang menyerang Hindia Belanda untuk menguasai kekayaan alam. Selama itu, masyarakat pribumi Indonesia mengalami kekurangan pangan dan kekejaman tentara Jepang.

Ereveld, yang secara harfiah berarti "lahan penghormatan" dalam bahasa Belanda, merupakan kompleks pemakaman perang yang menjadi tempat peristirahatan terakhir ribuan korban dari berbagai negara.

Menurut Yayasan Makam Kehormatan Belanda (OGS), tujuh ereveld di Indonesia menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sekitar 25.000 korban perang, termasuk warga Belanda, Inggris, Amerika, Australia, dan Indonesia. Sekitar 75 persen merupakan warga sipil dan 25 persen personel militer. Mereka berasal dari periode Perang Dunia II, Revolusi Nasional Indonesia, dan konflik Papua Barat.

Di Indonesia terdapat tujuh lokasi ereveld, salah satunya Ereveld Menteng Pulo yang diresmikan pada 8 Desember 1947. Di dalamnya terdapat sekitar 4.300 makam.

Bentuk tanda makam tidak dibuat seragam begitu saja. Perbedaannya menyesuaikan jenis kelamin dan agama korban. Jika menemukan tulisan "Onbekend" pada makam, artinya identitas korban tersebut tidak diketahui.

Awalnya Hanya Dibuka untuk Keluarga Korban

Pada awalnya, kompleks pemakaman ini hanya dibuka untuk keluarga para korban. Namun sekitar 20 tahun lalu, aksesnya mulai dibuka untuk masyarakat umum.

Menurut Eveline de Vink dari Netherlands War Graves Foundation in Indonesia, keputusan tersebut berkaitan dengan keberlanjutan ingatan sejarah.

"Karena generasi yang pertama sudah meninggal, kasihan kalau nanti cerita-cerita korban perang hilang dan kita jadi tidak bisa belajar lagi," ujar Eveline.

Kini masyarakat dapat datang untuk melihat langsung kompleks pemakaman sekaligus mengenal cerita sejarah yang tersimpan di baliknya.

Gratis dan Buka Tiap Hari

Jika mau berkunjung ke taman makam Ereveld ini, jangan khawatir dengan harga tiket masuknya. Ereveld terbuka untuk umum setiap hari dari jam 07.00-17.00 WIB dan tidak memungut biaya masuk.

Bukan Hanya Deretan Makam

Saat memasuki Ereveld Menteng Pulo, pengunjung tidak hanya menemukan deretan makam. Di kompleks ini terdapat Gereja Simultaan yang menjadi lokasi penyelenggaraan dua acara peringatan. Di samping gereja, terdapat kolumbarium yang menyimpan 75 guci abu korban perang.

Keberadaan makam dan kolumbarium ini memperlihatkan bahwa korban yang dimakamkan memiliki latar belakang yang beragam. Terdapat pula pendopo di mana pengunjung bisa melihat daftar nama para korban dan informasi lainnya.

15 Agustus Jadi Hari untuk Mengingat Korban Perang

Setiap 15 Agustus, digelar peringatan berakhirnya Perang Dunia II di Asia sekaligus untuk mengenang para korban perang. Di Ereveld Menteng Pulo, peringatan tersebut diselenggarakan di Gereja Simultaan. Tanggalnya juga berdekatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus.

Dua momentum sejarah tersebut tidak harus dipandang berseberangan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia. Keduanya justru dapat menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang sama-sama perlu diingat.

"Acara-acara ini (peringatan 15 Agustus dan Hari Kemerdekaan Indonesia) sepenuhnya sejalan satu sama lain. Jadi, ingatlah masa lalu, tetapi rayakan hal-hal baik yang lahir dari masa lalu itu dan Anda bisa bangga sebagai sebuah bangsa," kata Defence Attaché of the Kingdom of the Netherlands, Colonel Hans van Reenen, kepada detikTravel, Sabtu (15/8).

Ereveld Menteng Pulo mengajak pengunjung melihat kembali bagaimana perang meninggalkan jejak panjang bagi banyak orang dan bagaimana sejarah tersebut dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.