Mahasiswa Untag Surabaya Kembangkan Alat Deteksi Overheat Motor, Beri Peringatan Sebelum Mogok
Ndaru Wijayanto August 16, 2026 07:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA — Pengalaman motor pribadi yang pernah mengalami overheat hingga mogok membuat Fendy Febianto Ahmad, mahasiswa Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, mencari cara agar kondisi panas berlebih pada mesin bisa diketahui lebih awal.

Dari pengalaman tersebut, Fendy mengembangkan sistem monitoring suhu blok mesin sepeda motor berbasis Internet of Things (IoT).

Alat ini tidak hanya menampilkan suhu mesin, tetapi juga memberikan peringatan ketika temperatur mulai memasuki kondisi berbahaya.

"Saya berpikir bagaimana kita bisa mengecek suhu sebelum terjadi overheat. Jadi sebelum overheat kita sudah bisa mengetahui lebih dahulu kondisi suhu mesin," ujar Fendy, Rabu (12/8).

Sistem yang menjadi tugas akhir Fendy tersebut menggunakan tiga sensor, yakni PT100, thermocouple tipe K, dan GY-906 berbasis MLX90614.

Ketiga sensor digunakan untuk memperoleh data suhu dari sejumlah bagian kendaraan. Data tersebut kemudian dapat ditampilkan melalui LCD.

Tidak berhenti pada pemantauan, Fendy juga menambahkan sistem early warning.

Baca juga: Pabrik Beras di Kediri Terbakar Hebat: Kerugian Tembus Rp 3,5 M, Diduga Akibat Mesin Overheat

Ketika suhu mencapai batas tertentu, pengendara mendapatkan peringatan melalui tiga indikator, yakni buzzer, tampilan status pada LCD, serta notifikasi melalui aplikasi Blynk.

"Kalau sistem mendeteksi suhu overheat, early warning akan aktif. Ada tiga indikator, yaitu buzzer, status di LCD, dan notifikasi dari IoT Blynk," jelasnya.

Ide tersebut berangkat dari pengamatan Fendy terhadap sistem indikator suhu pada sepeda motor.

Menurutnya, pada sejumlah kendaraan, peringatan baru muncul ketika suhu sudah mencapai kondisi tinggi.

Padahal, overheat yang dibiarkan dapat menyebabkan persoalan pada mesin. Gejalanya antara lain suara mesin mengelitik.

Jika terus berlanjut, komponen mesin dapat mengalami kerusakan hingga membuat kendaraan mogok.

Baca juga: Cegah Overheat, Jangan Abaikan Reservoir Tank Radiator Peugeot, Kepala Bengkel: Jaga Stabilitas

Kondisi panas berlebih juga dapat dipengaruhi penggunaan kendaraan dalam kemacetan dalam waktu lama.

Pada motor dengan sistem pendingin udara, kondisi tersebut dapat semakin berisiko jika pemilik kendaraan kurang memperhatikan kondisi oli.

"Motor saya pernah overheat, kemudian motor mogok dan mati. Dari situ saya berpikir, kita kadang lupa dengan kendaraan, lupa mengecek atau servis," ungkap Fendy.

Untuk menguji prototipe tersebut, Fendy memasangnya pada Honda PCX 150 miliknya. Motor kemudian digunakan berkendara hingga temperatur mesin meningkat untuk melihat respons sensor dan sistem peringatan.

"Dari pengujian PCX 150 yang saya rakit, saya bawa jalan sampai kondisi suhu sekitar 100 derajat dan indikator bawaan motor menyala," katanya.

Dosen Teknik Elektro Untag Surabaya sekaligus dosen pembimbing Fendy, Lutfi Agung Swarga, S.T., M.T., mengatakan gagasan mahasiswa menjadi titik awal pengembangan teknologi.

Namun, gagasan tersebut perlu melalui pengujian dan penyempurnaan agar dapat menjadi produk yang lebih matang.

"Memang ide-ide mahasiswa itu masih bersifat raw atau mentah. Jadi kami harus mengetes dulu, melihat variasi dari beberapa produk, kemudian kami kembangkan menjadi sesuatu yang lebih matang," kata Lutfi.

Menurut Lutfi, pemantauan suhu penting terutama pada sepeda motor kelas entry level yang banyak digunakan masyarakat. Ke depan, sistem yang dikembangkan Fendy tidak hanya diarahkan untuk membaca suhu pada satu titik blok mesin.

"Jadi bukan hanya satu titik suhu blok mesin saja. Radiator juga dicek, kemudian ada beberapa suhu yang saya cek juga. Modulnya dibuat kecil sehingga bisa ditempelkan di berbagai komponen mesin," jelasnya.

Pengembangan berikutnya dapat diarahkan untuk memantau temperatur radiator hingga komponen elektronik kendaraan seperti ECU dan sistem pengkabelan.

"Setiap komponen elektronik itu mengandung panas. Jadi bisa juga di bagian kelistrikan, kabel listrik, ECU, bahkan lampu. Arahnya nanti bisa menjadi lebih kompleks," ujarnya.

Lutfi menambahkan, konsep pemantauan tersebut juga berpotensi diterapkan pada kendaraan listrik.

Meski tidak memiliki blok mesin seperti motor konvensional, kendaraan listrik tetap memiliki motor penggerak, roda, dan sistem kelistrikan yang menghasilkan panas.

"Motor listrik juga bisa. Bukan di blok mesinnya, tetapi pada motor penggeraknya. Bagian roda juga menghasilkan panas, kemudian pengkabelannya. Kalau listrik mengalir, pasti menghasilkan panas dan panas itu juga bisa dideteksi," katanya.

Melalui pengembangan tersebut, Fendy berharap alat buatannya tidak sekadar menjadi indikator suhu, tetapi dapat memberikan waktu bagi pengendara untuk mengambil tindakan sebelum panas mesin berkembang menjadi overheat dan menyebabkan kendaraan mogok.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.