Laporan Wartawan TribunJatim.com, Willy Abraham
TRIBUNJATIM.COM, GRESIK - HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia diperingati dalam berbagai cara.
Salah satunya, seperti yang dilakukan Rukun Nelayan Pangkahkulon di Gresik yang mengadakan karnaval laut.
Baca juga: Bebek Pembawa Kebahagiaan 17 Agustusan di Jombang, Perayaan Terasa Lebih Merata Bagi Warga
Karnaval dengan pengibaran bendera merah putih sepanjang 45 meter dan lebar 1 meter tersebut diadakan di Sungai Bengawan Solo, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Pantauan di lapangan, ratusan perahu nelayan yang berisikan warga Pangkah Kulon, beriringan layaknya karnaval yang dimulai dari Dusun Kalingapuri lalu menuju ke Sungai Bengawan Solo.
Kapal-kapal tersebut diberi pernak pernik merah putih untuk menyemarakkan hari kemerdekaan.
Tepat di tengah-tengah Sungai Bengawan Solo, bendera merah putih dengan panjang 45 meter dan lebar 1 meter dibentangkan ke beberapa perahu nelayan.
Setelah terbentang, seluruh warga menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya layaknya upacara, di tengah sungai.
Ketua Rukun Nelayan Pangkahkulon, Latif, mengatakan bahwa pengibaran bendera raksasa di tengah sungai ini adalah kegiatan menyemarakkan hari kemerdekaan.
"Pemilihan panjang 45 meter adalah sebagai penanda bahwa kita bangsa Indonesia merdeka pada tahun 1945, kita ambil tahun kemerdekaannya tahun 1945, alhamdulilah tahun ini sukses lancar" ucapnya, Minggu (16/8/2026).
Ke depannya, Latif mengatakan bahwa karnaval laut akan lebih meriah dengan penambahan jumlah peserta (nelayan) yang mengikuti karnaval laut.
"Di tahun depan, jumlah peserta akan bertambah, semoga dengan pengibaran bendera bersama ini bisa membuat Rukun Nelayan Pangkahkulon semakin guyup dan semakin solid antar anggota. Jadi bukan hanya mengenai rasa nasionalisme," jelasnya.
Salah satu anggota Rukun Nelayan, Nuril Anwar, mengaku antusias dengan pengibaran bendera di tengah Sungai Bengawan Solo ini.
"Luar biasa, memperingati hari kemerdekaan dengan kawan-kawan nelayan melakukan pengibaran bendera di Sungai Bengawan Solo," imbuhnya.
"Bukan hanya mengingatkan kami (nelayan) mengenai nasionalisme, tetapi juga rasa kebersamaan dan kesolidan antar nelayan di Pangkahkulon," pungkas Nuril.