TRIBUNKALTARA.COM - Informasi gempa hari ini, dirilis oleh Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG terjadi di Ruteng, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (16/8/2026).
Berdasarkan informasi dari akun @infoBMKG, pusat gempa terkini 2 menit yang lalu terjadi di wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT.
Menurut catatan BMKG, pusat gempa bumi berada di kedalaman 10 Km dan terjadi pada pukul 17:31 WIB.
Kekuatan dari gempa terkini adalah magnitudo 5.1 dengan pusat gempa berada di laut 78 km Utara Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Lokasi titik koordinat gempa hari ini berada di 7.93 LS, 120.62 BT laut, Ruteng.
Ini merupakan gempa susulan yang mengguncang NTT pascagempa M 7.7 Sabtu kemarin.
Informasi pusat gempa terkini 2 menit yang lalu di Ruteng, Nusa Tenggara Timur dengan kekuatan magnitudo 5.1 didapat dari akun resmi X @infoBMKG.
"#Gempa (UPDATE) Mag:5.1, 16-Agu-26 17:31:37 WIB, Lok:7.93 LS, 120.62 BT (Pusat gempa berada di laut 78 km utara Ruteng-Manggarai), Kedlmn:10 Km Dirasakan (MMI) IV Kab. Manggarai #BMKG"
Disclaimer: Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data.
Baca juga: Gempa Magnitudo 5.2 di Ruteng Manggarai NTT, Cek Info BMKG 16 Agustus 2026 Pagi Ini
Meskipun tak berpotensi tsunami, BMKG mencatat wilayah Kabupaten Manggarai turut merasakan guncangan skala IV MMI.
Adapun skala IV MMI yakni guncangan akibat gempa dapat dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah, di luar rumah oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu bergoyang hingga berderik dan dinding berbunyi.
BMKG menyatakan gempa susulan masih akan terus terjadi di wilayah NTT, sehingga warga diminta meningkatkan kewaspadaan.
Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, data tersebut tercatat sejak gempa utama terjadi hingga Minggu (16/8/2026) pukul 15.00 WIB.
"Dari BMKG untuk gempa susulan hingga 16 Agustus pukul 15.00 WIB. Total gempa susulan berjumlah 995 kali," kata Abdul, Minggu (16/8/2026).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 46 gempa susulan dirasakan masyarakat NTT.
"Artinya, tidak lebih dari 10 persen dari total gempa susulan yang dirasakan oleh masyarakat," jelasnya.
Menurutnya, gempa susulan merupakan fenomena alam yang terjadi setelah gempa utama.
Aktivitas tersebut berkaitan dengan proses struktur patahan untuk kembali mencapai kondisi stabil.
"Dan kita harapkan energi yang lepas bisa segera menurun sehingga gempa susulan tidak lagi signifikan dan tidak lagi dirasakan oleh masyarakat," kata Abdul Muhari.
Sementara itu, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani memberikan penjelasan terkait estimasi waktu yang dibutuhkan hingga aktivitas gempa bumi dan sesar di NTT benar-benar kembali normal pasca-gempa.
Berdasarkan histori dan karakteristik wilayah tersebut, proses stabilisasi sesar membutuhkan interval waktu tertentu sebelum aktivitas seismik benar-benar kembali normal.
"BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Nusa Tenggara Timur sebelumnya," kata Faisal.
Proses peluruhan alami tersebut menandakan bahwa rentetan gempa susulan secara perlahan akan menurun frekuensi dan kekuatannya hingga kondisi struktur batuan di zona sesar stabil kembali secara penuh. BMKG pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada selama masa pemulihan seismik ini berlangsung.
Berdasarkan skala MMI yang dikutip dari laman BMKG, berikut info MMI dan dampaknya yang dapat dipelajari.
I MMI
Getaran gempa tidak dapat dirasakan kecuali dalam keadaan luarbiasa oleh beberapa orang.
II MMI
Getaran atau goncangan gempa dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung seperti lampu gantung bergoyang.
III MMI
Getaran gempa dirasakan nyata dalam rumah.
Getaran terasa seakan-akan ada naik di dalam truk yang berjalan.
IV MMI
Pada saat siang hari dapat dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah, di luar rumah oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu bergoyang hingga berderik dan dinding berbunyi.
V MMI
Getaran gempa bumi dapat dirasakan oleh hampir semua orang, orang-orang berlarian, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan benda besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.
VI MMI
Getaran gempa bumi dirasakan oleh semua orang.
Kebanyakan orang terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap di pabrik rusak, kerusakan ringan.
VII MMI
Semua orang di rumah keluar.
Kerusakan ringan pada rumah dengan bangunan dan kontruksi yang baik.
Sedangkan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik terjadi retakan bahkan hancur, cerobong asap pecah.
Dan getaran dapat dirasakan oleh orang yang sedang naik kendaraan.
VIII MMI
Kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi kuat.
Keretakan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding terlepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen roboh, air berubah keruh.
IX MMI
Kerusakan pada bangunan dengan konstruksi kuat, rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak terjadi keretakan.
Rumah tampak bergeser dari pondasi awal. Pipi-pipa dalam rumah putus.
X MMI
Bangunan dari kayu yang kuat rusak, rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah rel melengkung, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.
XI MMI
Bangunan-bangunan yang sedikit yang masih berdiri.
Jembatan rusak, terjadi lembah.
Pipa dalam tanah tidak dapat terpakai sama sekali, tanah terbelah, rel sangat melengkung.
XII MMI
Hancur total, gelombang tampak pada permukaan tanah.
Pemandangan berubah gelap, benda-benda terlempar ke udara.
(*)
(TribunKaltara.com / Cornel Dimas Satrio K)