Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA - Enam bidan di Puskesmas Laja, Kecamatan Golewa Selatan, Kabupaten Ngada, tetap memberikan pelayanan kesehatan setelah ruang bersalin di puskesmas tersebut mengalami kerusakan akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Sabtu (15/8/2026).
Ruang bersalin tidak dapat digunakan sehingga tempat tidur bersalin dipindahkan ke halaman puskesmas dan ditempatkan di bawah tenda darurat.
Di tempat tersebut, para bidan menangani persalinan Blandina Kornelia Lowa, warga Desa Sada 1, Kabupaten Ngada. Enam bidan yang menangani pelayanan tersebut yakni Yoan, Ica, Lina, Nita, Tefin, dan Chen.
Proses persalinan berlangsung saat listrik padam. Para tenaga kesehatan menggunakan senter telepon seluler untuk menerangi pelayanan.
Baca juga: Pemda Sikka Batalkan Rangkaian HUT RI, Fokus Penanganan Warga Terdampak Gempa Flores
Kepala Puskesmas Laja, Anastasia, mengatakan listrik padam sejak sekitar pukul 18.00 WITA dan kembali menyala setelah pukul 20.00 WITA.
"Sejak pukul enam kemarin hingga jam 8 malam kami menggunakan senter HP untuk mendampingi pasien. Listrik baru menyala setelah jam delapan malam," kata Anastasia kepada TRIBUNFLORES.COM, Minggu (16/8/2026).
Persalinan berlangsung lancar. Blandina melahirkan seorang bayi perempuan. Kondisi ibu dan bayi dilaporkan sehat.
Anastasia mengapresiasi tenaga kesehatan yang tetap memberikan pelayanan meski kondisi bangunan puskesmas terdampak gempa.
"Saya apresiasi atas perjuangan teman-teman Nakes yang tetap memberikan yang terbaik di tengah kondisi darurat," ujarnya.
Selain pelayanan persalinan, tenaga kesehatan Puskesmas Laja tetap melayani pasien umum dan balita. Sebagian pelayanan dilakukan di bawah tenda darurat.
Baca juga: Bupati Ngada Imbau Warga Tetap Tenang dan Jauhi Bangunan Rawan Pasca Gempa M 7,7 Guncang Flores
Kerusakan fasilitas kesehatan juga terjadi di wilayah lain di Kabupaten Ngada.
Puskesmas Maronggela, Kecamatan Riung Barat, mengalami kerusakan cukup serius. Tenaga kesehatan di puskesmas tersebut mendirikan tenda darurat untuk melanjutkan pelayanan kepada masyarakat.
Berdasarkan data sementara Pusdalops BPBD Kabupaten Ngada yang diperbarui Sabtu (15/8/2026) pukul 19.00 WITA, sebanyak 14 fasilitas kesehatan terdampak gempa. Fasilitas kesehatan tersebut terdiri atas puskesmas, RSUD, dan posyandu.
Data yang sama mencatat delapan orang mengalami luka akibat gempa. Tujuh orang mengalami luka ringan dan satu orang mengalami luka sedang.
Tidak terdapat laporan korban luka berat maupun meninggal dunia dalam data sementara tersebut. Para korban telah mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan setempat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, dr. Aty Due, mengatakan sejumlah fasilitas kesehatan membutuhkan tenda darurat untuk mendukung pelayanan selama masa tanggap darurat.
"Kami berharap khusus di Puskesmas Maronggela agar diturunkan bantuan berupa tenda. Ini sangat urgen dibutuhkan karena semua gedung rusak parah," kata Aty dalam rapat koordinasi, Sabtu (15/8/2026) malam.
Menurut Aty, stok obat-obatan masih aman. Korban luka juga telah mendapatkan penanganan di puskesmas hingga rumah sakit.
Pemerintah Kabupaten Ngada bersama lintas sektor masih melakukan pendataan dan verifikasi terhadap dampak gempa serta menyalurkan bantuan darurat kepada masyarakat terdampak. (cha)