- Kisah Sulastri (56), pengupas bawang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengaku hanya dibayar Rp3.000 per kilogram setelah menjalani pekerjaan selama sekira 10 tahun.
Pengakuan Sulastri mencuat di tengah perbincangan publik soal pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai upah buruh pengupas bawang.
Dalam pidatonya, Prabowo memperkenalkan Susanah sebagai buruh harian pengupas bawang dengan upah yang disebut mencapai Rp700 ribu per kilogram.
Namun, kisah pengupas bawang di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda, salah satunya dialami Sulastri (56) yang telah sekitar 10 tahun menekuni pekerjaan tersebut di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Sulastri mengaku hanya menerima upah Rp3.000 untuk setiap kilogram bawang yang berhasil dikupas.
Pekerjaan itu dijalaninya setiap hari dengan mengandalkan tumpukan bawang sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebelum menjadi pengupas bawang, Sulastri pernah bekerja sebagai pelayan rumah makan dan kemudian mengenal pekerjaan tersebut saat sedang mencari penghasilan.
Ia mulai belajar mengupas bawang setelah melihat sejumlah orang bekerja di pasar dan memberanikan diri untuk ikut.
Sejak saat itu, pekerjaan mengupas bawang terus ia tekuni hingga berlangsung selama kurang lebih satu dekade.
Dalam sehari, Sulastri mampu mengupas sekitar 15 hingga 20 kilogram bawang ketika pekerjaan sedang ramai.
Dengan tarif Rp3.000 per kilogram, ia bisa memperoleh sekitar Rp45.000 hingga Rp60.000 dalam sehari.
"Sekilonya Rp 3.000. Berangkat pagi, kadang pulang sore, kadang pulang malam," kata Sulastri.
Namun, penghasilan tersebut tidak selalu didapatkan karena jumlah bawang dan pekerjaan dari pelanggan dapat berubah setiap hari.
Saat pekerjaan sedang banyak, Sulastri bahkan dapat bekerja sejak pagi hingga malam untuk menyelesaikan bawang yang harus dikupas.
Program: Tribunnews Update
Host: Anggraheni Widya Witari
Editor Video: Muhammad Taufiq Rahman Setyawan
Uploader: bagus gema praditiya sukirman