Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nur Ika Anisa
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara industri kreatif menghasilkan karya. Namun, Soerabaia Fashion Trend (SFT) 2027 memilih tidak menempatkan teknologi sebagai pengganti manusia.
Melalui tema “Nexus”, SFT 2027 justru mengeksplorasi titik temu antara sumber daya manusia, teknologi, keberagaman identitas, dan kreativitas tanpa batas.
Event tahunan tersebut kembali hadir sebagai ruang pertemuan bagi pelaku fesyen, desainer, akademisi, hingga mahasiswa untuk merayakan kreativitas sekaligus mengeksplorasi inovasi di industri fashion.
Head of Event Soerabaia Fashion Trend (SFT) 2027, Enrico Ho, mengatakan tema Nexus menjadi ruang transformasi ketika imajinasi manusia dan perkembangan teknologi bertemu untuk menghasilkan gagasan maupun bentuk baru.
Di tengah perkembangan AI yang semakin memengaruhi industri kreatif, SFT 2027 tetap menempatkan teknologi sebagai alat eksplorasi yang berpijak pada orisinalitas, identitas, dan kreativitas manusia.
“Yang mana Nexus itu berarti teknologi, alam, dan manusia itu hidup saling berdampingan. Jadi tidak saling merusak atau mendahului satu sama lain, begitu. Jadi tema Nexus ini juga dimanfaatkan oleh Surabaya Fashion Trend itu tidak cuma sekadar, 'Oh ya, pemanfaatan AI untuk brainstorming aja,' tapi untuk bermacam-macam, gitu,” ungkap Enrico Ho di sela event SFT 2027 yang digelar di Ciputra World Surabaya, Sabtu (15/8/2026).
Baca juga: Dorong Industri Kreatif Jatim Makin Tumbuh, DPRD Jatim Usul Ajang Fesyen Libatkan Pelajar SMK
Konsep Nexus yang diusung SFT 2027 tidak berhenti pada pemanfaatan AI sebagai alat untuk mencari ide awal.
Teknologi tersebut juga dieksplorasi dalam berbagai proses kreatif yang berkaitan dengan fashion, mulai dari pengembangan gagasan hingga visualisasi karya.
Meski demikian, pemanfaatan AI tetap diarahkan secara bertanggung jawab. Peran desainer dan kreativitas manusia tetap menjadi bagian penting dalam menghasilkan sebuah karya.
“Kalau dari persentase desainer ini sebenarnya belum sampai melebihi 50 persen, karena memang mereka harus tahu etikanya juga,” ungkapnya.
Melalui pendekatan tersebut, SFT 2027 ingin mempertemukan desain fashion dan teknologi digital tanpa menghilangkan peran maupun visi kreatif desainer.
Beragam kegiatan akan hadir dalam SFT 2027.
Sejumlah agenda tersebut di antaranya Fashion Illustration Competition, Fashion Upcycling Competition, workshop, serta fashion show yang menampilkan karya para desainer dan talenta muda fashion.
Kompetisi fashion illustration menjadi ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi ide dan kreativitas dengan memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.
Sementara itu, kompetisi upcycling mengajak peserta mengolah material yang telah ada menjadi karya fashion baru.
Konsep tersebut menjadi respons kreatif terhadap isu keberlanjutan sekaligus persoalan limbah fashion.
Eksplorasi teknologi AI juga diterapkan dalam produksi video bumper kreatif fashion show.
Dalam proses tersebut, AI digunakan untuk mengembangkan sketsa karya para desainer IFC Surabaya menjadi visual bergerak.
Visual tersebut menggambarkan perjalanan sebuah ide, mulai dari sketsa hingga akhirnya diwujudkan menjadi karya busana yang tampil di runway.
Dengan demikian, teknologi tidak berdiri sendiri dalam proses kreatif, melainkan menjadi bagian dari perjalanan gagasan yang tetap berawal dari kreativitas desainer.
Melalui berbagai program yang dihadirkan, Soerabaia Fashion Trend 2027 tidak hanya menjadikan fashion sebagai tontonan.
Event tersebut juga diarahkan menjadi ruang eksperimentasi, edukasi, kolaborasi, dan pengembangan kreativitas bagi pelaku industri maupun talenta muda.
Tema Nexus sekaligus menjadi cara SFT 2027 melihat masa depan industri fashion di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
“Nexus mengajak kita melihat masa depan fashion bukan sebagai pilihan antara manusia atau teknologi, melainkan sebagai kemungkinan baru yang lahir ketika keduanya terhubung,” ungkapnya.