Gaji Pengupas Bawang Sebenarnya, Di Jaktim Rp3000/kg, Pergi Pagi Pulang Malam Dapat Rp60 Ribu. 
Dedy Qurniawan August 16, 2026 11:03 PM

BANGKAPOS.COM - Banyak orang penasaran dengan gaji pengupas bawang sebenarnya.

Yuk kita cek faktanya dari pengupas bawang di Pasar Induk Kramatjati.

Sulastri misalnya, pengupas bawang di Pasar Induk Kramat Jati harus rela pergi bekerja sejak pagi dan baru pulang pada malam hari.

Perjuangan berat selama seharian penuh tersebut membuahkan penghasilan rata-rata sekitar Rp60 ribu saja per hari.

Rutinitas mengupas bawang di tengah aroma menyengat ini telah dilakoni Sulastri (56) selama kurang lebih 10 tahun.

Pekerjaan ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang sejak awal ia rencanakan.

Sebelum menjadi pengupas bawang, Sulastri pernah bekerja sebagai pelayan rumah makan.

Ia kemudian mengenal pekerjaan mengupas bawang ketika sedang berikhtiar mencari penghasilan.

Saat melihat orang-orang sedang mengupas bawang, ia memberanikan diri untuk ikut belajar.

“Melihat ada yang motong bawang, saya ikut aja. ‘Bu, ikut dong, Bu.’ Nah, dikasih tuh. Saya belajar sih,” ujar Sulastri saat berbincang dengan Kompas.com di Pasar Kramat Jati, Minggu (16/8/2026).

Sejak saat itu, Sulastri terus menekuni pekerjaan tersebut untuk mendapatkan penghasilan.

Ia dibayar murni berdasarkan jumlah bawang yang berhasil dikupas.

"Sekilonya Rp 3.000. Berangkat pagi, kadang pulang sore, kadang pulang malam," kata Sulastri.

Jika pekerjaan sedang ramai, Sulastri mampu mengupas sekitar 15 hingga 20 kilogram bawang dalam sehari.

Dengan tarif bayaran tersebut, ia bisa mengantongi uang sekitar Rp 45.000 hingga Rp 60.000.

Namun, penghasilan sebesar itu tidak selalu bisa dipastikan didapat setiap hari.

Jumlahnya sangat bergantung pada banyaknya pasokan bawang yang tersedia serta orderan dari pelanggan.

Kadang-kadang, Sulastri mulai mengupas sejak pagi dan baru bisa beranjak pulang setelah maghrib.

Jika tanggungan pekerjaan sedang menumpuk, ia bahkan baru bisa pulang setelah Isya.

Bagi Sulastri, pekerjaan fisik ini harus tetap dijalani demi memenuhi kebutuhan sehari-hari yang terus berjalan.

"Kalau enggak nyari, yang ngasih makan siapa? Kontrakan kami juga bayar," ujarnya.

Uang hasil mengupas bawang tersebut digunakan Sulastri untuk menutup berbagai kebutuhan rumah tangga.

Meski ketiga anaknya kini sudah bekerja dan mandiri, Sulastri tetap memilih mencari penghasilan sendiri.

Baginya, bukan soal besar kecilnya nominal uang yang menjadi persoalan utama.

Setiap rupiah yang diperoleh dari hasil keringatnya sendiri terasa sangat berarti.

Bahkan ketika hanya membawa pulang Rp 20.000 hingga Rp 30.000, ia tetap merasa bersyukur dan senang.

Uang tersebut setidaknya bisa langsung digunakan untuk kebutuhan makan harian.

Kisah senada datang dari Jumiatun (50) yang juga telah 10 tahun menggeluti profesi sebagai pengupas bawang.

Jumiatun mengatakan, penghasilannya dalam sehari bisa mencapai Rp 50.000 hingga Rp 60.000 jika bekerja marathon sampai sore atau malam.

Selain mengupas bawang, ia juga mengambil pekerjaan sampingan lain yang tersedia, seperti memetik cabai dengan upah sekitar Rp 2.000 per kilogram.

Bagi Jumiatun, terus bekerja menjadi pilihan terbaik daripada hanya berdiam diri di rumah.

“Daripada bengong. Lumayan ya, nambah-nambah,” ujar Jumiatun.

Meski telah bertahun-tahun akrab dengan bawang dan pisau, pekerjaan ini tetap menyimpan risiko cidera.

Jari-jari mereka sesekali terluka terkena pisau atau silet, terutama ketika rasa kantuk mulai menyerang.

“Kalau matanya meleng, ngantuk. Kalau ngantuk ya kena silet,” ujarnya.

Selain ancaman silet tajam, posisi duduk berjam-jam tanpa sandaran juga membuat pinggang dan seluruh tubuh mereka terasa amat pegal. (Sumber : Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.