Mahasiswa Unesa Kenalkan Konsep Zero Waste kepada Anak SD Lewat Buku Interaktif
Samsul Arifin August 16, 2026 11:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Pesan menjaga lingkungan bisa ditanamkan kepada anak-anak melalui cara yang menyenangkan dan dekat dengan keseharian mereka.

Pendekatan itulah yang dilakukan mahasiswa D4 Desain Grafis Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Tabitha Ayu Putri Ning Bestari, melalui buku ilustrasi interaktif “Zuan dan Wony: Petualangan 5R”.

Karya tersebut tidak hanya mengandalkan cerita bergambar. Tabitha memadukan ilustrasi, aktivitas fisik, permainan, hingga teknologi digital untuk mengajak siswa sekolah dasar mengenal kebiasaan mengurangi dan mengelola sampah.

Buku tersebut merupakan proyek tugas akhir sekaligus media edukasi lingkungan dalam program SIER Mengajar 1. Konsep yang diusung berupaya membuat isu zero waste yang cukup kompleks menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami anak-anak.

Menurut Tabitha, gagasan membuat media tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan pembelajaran lingkungan yang sesuai dengan karakter anak.

“Isu ekologi sering kali memiliki konsep yang kompleks. Karena itu, saya ingin menerjemahkannya menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan dunia anak, sehingga mereka tidak merasa sedang belajar tentang persoalan lingkungan yang berat,” ujar Tabitha.

Ia memilih pendekatan cerita karena anak-anak dinilai lebih mudah menangkap pesan melalui pengalaman visual serta karakter yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Desain grafis memiliki kekuatan luar biasa untuk menyederhanakan isu ekologi yang kompleks menjadi petualangan visual yang taktil dan mudah dipahami oleh kognisi anak-anak,” katanya.

Baca juga: Unesa Lakukan Evaluasi Terhadap Penerapan Rantai Pasok Hasil Pertanian Kalianyar Bondowoso

Kenalkan Konsep 5R Lewat Petualangan

Melalui karakter Zuan dan Wony, anak-anak diajak mengikuti sebuah perjalanan untuk mengenal konsep 5R, yakni Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot.

Kelima konsep tersebut tidak disampaikan sebatas teori. Tabitha memasukkannya ke dalam alur cerita sehingga anak-anak dapat mengenali praktik pengelolaan sampah melalui pengalaman yang lebih interaktif.

Buku tersebut juga menggabungkan aktivitas membaca secara konvensional dengan berbagai elemen yang memungkinkan anak berinteraksi langsung dengan isi buku.

Sejumlah halaman dilengkapi fitur buka-tutup yang membuat anak dapat mengeksplorasi elemen visual secara langsung.

Tidak berhenti di sana, buku tersebut juga dilengkapi QR Code yang mengarahkan pembaca menuju permainan edukatif.

Dengan konsep itu, anak dapat membaca cerita, melakukan aktivitas fisik, kemudian melanjutkan eksplorasi materi melalui perangkat digital.

“Anak-anak tidak hanya diajak membaca. Mereka bisa menyentuh, membuka bagian tertentu, bermain, kemudian menggunakan teknologi digital untuk melanjutkan eksplorasi. Jadi, proses belajarnya lebih beragam,” jelasnya.

Pesan Zero Waste Tak Berhenti di Buku

Pendekatan interaktif tersebut diharapkan dapat membantu anak memahami berbagai praktik sederhana dalam pengelolaan sampah.

Mulai dari menolak barang yang tidak diperlukan, mengurangi penggunaan barang, menggunakan kembali, mendaur ulang, hingga mengolah sampah organik diperkenalkan melalui konsep 5R.

Tabitha juga mengembangkan sejumlah media pendukung untuk memperluas kampanye edukasi lingkungan tersebut.

Media pendukung itu mencakup video animasi motion graphic, pemetaan konten media sosial, hingga produk turunan berupa tas bekal dan perangkat berkebun.

Dengan demikian, pesan mengenai zero waste tidak hanya hadir ketika anak membaca buku, tetapi juga dapat ditemukan melalui berbagai bentuk media dan aktivitas.

“Pesan zero waste saya ingin dibuat tidak berhenti di buku. Anak-anak bisa menemukan pesan yang sama melalui berbagai media dan kemudian menghubungkannya dengan aktivitas sederhana yang mereka lakukan sehari-hari,” ungkapnya.

Melalui karya tersebut, Tabitha berharap edukasi mengenai lingkungan dapat menjadi bagian dari kebiasaan anak sejak usia sekolah dasar.

Menurutnya, pemahaman mengenai zero waste tidak cukup hanya berhenti pada pengetahuan, tetapi perlu diterapkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya berharap anak-anak tidak hanya tahu apa itu zero waste, tetapi juga mulai terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal kecil yang dilakukan sejak dini bisa menjadi kebiasaan yang terus mereka bawa,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.