BPBD Situbondo Catat 3 Kebakaran Hutan Selama Musim Kemarau 2026, 4 Hektare Lahan Terbakar
Samsul Arifin August 16, 2026 11:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Izi Hartono

TRIBUNJATIM.COM, SITUBONDO - Ancaman kebakaran hutan di Kabupaten Situbondo meningkat seiring kondisi musim kemarau yang membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar. 

Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan menjadi perhatian BPBD Situbondo, terutama di sejumlah kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo mencatat terdapat tiga kejadian kebakaran hutan sejak awal Januari hingga 14 Agustus 2026.

Kejadian tersebut tersebar di Kecamatan Panji dan Kecamatan Suboh. Salah satu kebakaran bahkan menghanguskan lahan hutan seluas sekitar 4 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Timbul Surjanto, mengatakan data tersebut merupakan hasil rekap kejadian kebakaran maupun wilayah yang memiliki potensi kerawanan selama periode tersebut.

"Totalnya ada tiga kejadian, yakni di Kecamatan Panji dan Kecamatan Suboh," ujar Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Timbul Surjanto.

Baca juga: Karhutla Madiun Melonjak Tiga Kali Lipat, Warga Diingatkan Tak Bakar Sampah Sembarangan

Dua Kali Kebakaran di Batu Godong

Timbul menjelaskan, dua kejadian kebakaran terjadi di kawasan perbukitan Batu Godong, Kecamatan Panji, pada Juni 2026.

"Ada dua kejadian kebakaran lahan hutan di perbukitan Batu Godong, Kecamatan Panji, di bulan Juni kemarin," ujarnya.

Selain di kawasan tersebut, kebakaran juga terjadi di kawasan jalan Arak-Arak yang berada di wilayah perbatasan Situbondo-Bondowoso.

Peristiwa tersebut terjadi pada 2 Agustus 2026 dan mengakibatkan lahan hutan yang terbakar mencapai sekitar 4 hektare.

"Selain itu, kebakaran hutan di kawasan jalan Arak-Arak perbatasan Situbondo-Bondowoso, yang terjadi pada tanggal 2 Agustus 2026," katanya.

"Lahan hutan yang terbakar itu luasnya mencapai 4 hektare," imbuhnya.

BPBD Perkuat Koordinasi dengan TNI dan Polri

Mengantisipasi munculnya kebakaran baru, BPBD Situbondo meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan sejumlah instansi yang berkaitan dengan pencegahan maupun penanganan kebakaran di kawasan hutan.

Timbul mengatakan peralatan untuk mengantisipasi kebakaran juga telah disiapkan. Penanganan dilakukan melalui kerja sama dengan Kodim dan Polri.

"Untuk antisipasi peralatan sudah disiapkan, kami bekerja sama dengan Kodim dan Polri. Bahkan, saat ini Kodim telah memiliki kekuatan alat pemadam kebakaran itu," jelasnya.

Menurutnya, kesiapan peralatan dan koordinasi lintas instansi menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.

Namun, upaya tersebut tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas dan peralatan.

80 Desa Tangguh Bencana Diaktifkan

Keterlibatan masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam mencegah kebakaran meluas. Karena itu, BPBD Situbondo kembali mengaktifkan Desa Tangguh Bencana di wilayah yang berada di sekitar kawasan rawan bencana.

"Tak hanya itu, lanjutnya, dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan diperlukan partisipan masyarakat."

"Makanya kami mengaktifkan desa tangguh bencana untuk desa yang di sekitar rawan bencana itu," tukasnya.

Timbul mengatakan terdapat puluhan Desa Tangguh Bencana di Kabupaten Situbondo yang telah kembali diaktifkan.

"Dari 136 desa, sebanyak 80 desa tanggap bencananya yang telah aktif," ujarnya.

Keberadaan desa tangguh tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, terutama mereka yang tinggal berdekatan dengan kawasan yang memiliki potensi kebakaran.

Perhutani, Baluran hingga Lahan Tebu Jadi Perhatian

Selain kawasan permukiman dan lahan masyarakat, BPBD Situbondo juga memetakan sejumlah kawasan yang memiliki potensi kebakaran saat musim kemarau.

Timbul mengungkapkan, kawasan yang saat ini rawan mengalami kebakaran antara lain wilayah milik Perhutani, kawasan hutan Baluran, serta tanaman tebu.

"Kami telah intens berkoordinasi dengan Perhutani dan PG (pabrik gula) untuk mencegah sewaktu-waktu terjadi kebakaran di kawasan itu," kata Timbul.

Koordinasi tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi agar potensi kebakaran dapat segera diketahui dan ditangani sebelum meluas.

Puntung Rokok hingga Pembakaran Bisa Picu Kebakaran

Terkait penyebab kebakaran hutan, Timbul mengatakan terdapat berbagai faktor yang dapat memicu munculnya api.

Kondisi vegetasi yang kering saat musim kemarau membuat api lebih mudah muncul dan menyebar. Gesekan yang memicu terbakarnya daun kering, puntung rokok, hingga pembakaran di luar kawasan hutan yang kemudian merembet menjadi beberapa faktor yang perlu diwaspadai.

"Faktor penyebab kebakaran hutan, sebenarnya banyak faktor, yakni bisa disebabkan terjadinya gesekan yang dapat membakar daun kering, puntung rokok atau pembakaran di luar hutan yang merembet ke kawasan hutan," pungkasnya.

Karena itu, kecepatan dalam melakukan pencegahan dan penanganan menjadi kunci agar titik api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

"Tapi itu dapat dicegah, selama dijaga dan diantisipasi dengan cepat. Sehingga kebakaran itu tidak semakin meluas," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.