Sosok Susanah Pengupas Bawang Sekaligus Pekerja Dapur MBG yang Disebut Prabowo Bergaji Rp700 Ribu/kg
Dedy Qurniawan August 16, 2026 11:03 PM

BANGKAPOS.COM - Sosok Susanah pengupas bawang sekaligus pekerja dapur MBG yang disebut Prabowo bergaji Rp700 ribu/kg kini tengah menjadi pusat perhatian publik.

Nama perempuan ini mendadak ramai diperbincangkan setelah viral disinggung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).

Dalam pidato tersebut, Kepala Negara menyampaikan bahwa Susanah merupakan seorang buruh harian pengupas bawang dengan upah mencapai Rp700.000 per kilogram.

Pernyataan mengenai nominal nominal gaji yang dinilai fantastis itu pun langsung memicu sorotan tajam dan perdebatan di berbagai platform media sosial.

Selain disinggung mengenai pekerjaannya, Susanah juga diperkenalkan sebagai penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako.

Kehadiran kedua bansos tersebut diakui sangat membantu menopang perekonomian keluarga sekaligus memastikan kelangsungan pendidikan anak-anaknya.

"Hari ini hadir bersama kita, Ibu Susana dari Kabupaten Bogor, dia bekerja sebagai buruh harian. Mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram," kata Prabowo, Jumat, dikutip dari YouTube TV Parlemen.

"Program Keluarga Harapan dan Program Sembako menjaga pendidikan anak-anaknya," imbuhnya.

Terlepas dari riuhnya pembahasan di media sosial, lantas siapakah sosok Susanah yang sebenarnya?

Sosok Susanah

Setelah namanya disebut oleh Prabowo sebagai buruh pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kg, sosok Susanah lantas 'diburu' oleh publik.

Mengutip Tribunnews.com, banyak warganet yang membandingkan upah harian mereka dengan angka yang disampaikan oleh Prabowo.

Hingga akhirnya, terkuak profil dan identitas pekerjaan asli Susanah sebagaimana sempat dimuat di situs resmi milik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Dalam wawancara dengan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) yang dikutip Jumat, 14 Agustus 2026, Susanah adalah seorang ibu tiga anak yang berasal dari Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Usianya kini 38 tahun dan pendidikan terakhirnya hanya sampai jenjang Sekolah Dasar (SD).

Susanah belum sempat mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Namun, ketiga anaknya berhasil menempuh jenjang pendidikan yang lebih baik.

Anak pertamanya telah lulus SMA, anak kedua masih duduk di bangku SMP, sedangkan si bungsu masih bersekolah di tingkat SD.

Di pagi hari, ia bekerja sebagai penjahit kain majun alias kain perca untuk dijadikan lap pembersih.

Dari pekerjaan menjahit tersebut, ia menerima upah sebesar Rp700 untuk setiap kilogram kain yang selesai dijahit.

Dalam sehari, ia rata-rata mampu mengerjakan hingga 20 kg kain.

Sehingga pendapatan harian yang didapat Susanah dari menjahit mencapai Rp14 ribu.

Namun pendapatan ini bisa bertambah saat hari libur, di mana Susanah bersama ibu-ibu lainnya bisa menjahit hingga 50 kg kain.

"Jam 7 (pagi) menjahit sampai siang," kata Susanah dalam wawancara tersebut.

Susanah Bekerja di Dapur MBG

Tak berhenti di situ, pada siang hari sekira pukul 13.00 WIB, Susanah sudah berpindah ke tempat kerja keduanya.

Ia segera menuju ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk bertugas sebagai pencuci ompreng.

Pekerjaan fisik tersebut dilakoninya setiap hari demi mendapatkan penghasilan tambahan.

Sementara itu, suami Susanah yang bernama Didim bekerja sebagai buruh bangunan.

Hanya saja, penghasilannya tidak menentu karena ketersediaan pekerjaan yang tidak selalu ada.

Bahkan ada masa di mana Didim tidak mendapatkan proyek pekerjaan sama sekali selama 2 hingga 3 minggu.

Selain itu, di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Susanah dan Didim tetap menempatkan pendidikan ketiga anak mereka sebagai prioritas utama.

Susanah mengaku tidak ingin pengalaman putus sekolah yang pernah dialaminya terulang kembali pada anak-anaknya.

Ia bahkan rela berutang demi memastikan kebutuhan sekolah anak-anaknya tetap terpenuhi.

Beruntungnya, keluarga ini terdaftar sebagai penerima bansos PKH dan Bansos Pangan Non Tunai (BPNT).

Sementara anak-anaknya juga terdaftar sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP).

Susanah mengakui bahwa bansos PKH sangat membantu menopang ekonomi keluarganya.

Sementara kehadiran program MBG turut memberinya kesempatan untuk memperoleh pekerjaan harian tambahan.

Ia pun memiliki impian besar untuk bisa membuka usaha sendiri suatu hari nanti.

"Kalau ekonomi membaik ya penginnya punya usaha sendiri, enggak dari orang. Kan ini semua punya bos ya, sampai ke mesin-mesin, ke peralatan gunting saja punya bos," katanya.

Respons Istana

Pihak Istana turut memberikan tanggapan atas ramainya perbincangan warganet mengenai pidato Presiden tentang upah Susanah yang disebut mencapai Rp700 ribu per kilogram.

Penggalan video pidato tersebut banyak diedit serta dibagikan ulang di media sosial hingga menuai ribuan komentar.

Publik mempertanyakan apakah angka nominal tersebut murni fakta data di lapangan atau sekadar kekeliruan penyebutan oleh Presiden.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI Prasetyo Hadi menyatakan pihaknya akan segera melakukan verifikasi mendalam terkait kebenaran data tersebut.

Ia menjelaskan bahwa pihak Istana belum bisa memberikan rincian teknis saat ini.

"Nanti kita cek ya," ujar Mensesneg Prasetyo Hadi di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Pemerintah berjanji akan menelusuri kembali data dan angka pasti yang dibacakan dalam teks pidato tersebut.

"Kalau detailnya kita cek," pungkasnya. (Tribunnews.com/Sri Juliati/Igman Ibrahim) (Surya.co.id/Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.