Cerita Lulusan S1 Belum Juga Punya Pekerjaan Tetap Setelah Kirim 100 Lamaran Kerja
Naufal Fauzy August 16, 2026 11:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Tak semua lulusan Sarjana S1 bisa mencari pekerjaan dengan mudah.

Upaya melamar ke berbagai perusahaan belum tentu sesuai harapan bagi sebagian orang.

Seperti yang dirasakan Zizi (25), perempuan asal Depok lulusan S1 Fakultas Komunikasi di salah satu universitas di Bogor.

Zizi sudah berjuang sejak tahun 2025 dengan mengirim hingga banyak lamaran ke berbagai perusahaan.

Namun setelah hampir setahun berjuang, Zizi masih belum juga mendapatkan pekerjaan dari perusahaan yang dia lamar.

Akhirnya, Zizi hanya bisa mengandalkan pekerjaan lepas atau freelance yang pendapatannya tak menentu.

Yaitu jasa editing video dan foto dengan upah Rp25.000 - Rp125.000 tergantung tingkat kesulitan.

Ia sebenarnya berharap setelah lulus dapat segera memperoleh pekerjaan sesuai bidang yang dipelajarinya.

Sejak 2025 hingga 2026, ia telah berkali-kali mengikuti proses rekrutmen, tetapi belum berhasil mendapatkan pekerjaan tetap.

Zizi mengaku telah mengirim sekitar 100 lamaran ke berbagai perusahaan, mulai dari perusahaan kecil hingga perusahaan ternama.

Dari puluhan bahkan ratusan lamaran tersebut, hanya sekitar lima hingga 10 perusahaan yang memanggilnya untuk mengikuti tahapan seleksi.

Beberapa proses bahkan telah dilalui hingga tahap tes tertulis dan wawancara bersama bagian Human Resources Department (HRD).

Namun, belum ada perusahaan yang benar-benar menerimanya.

"Paling ujung-ujung nanti tunggu panggilan lagi. Atau jawab klasiknya kalau nanti lolos akan ditelpon lagi," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat Zizi tidak mengetahui secara pasti alasan dirinya belum mendapatkan pekerjaan tetap.

Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk memperbanyak lamaran dan mengikuti setiap tahapan seleksi yang diberikan perusahaan.

Di tengah penantian tersebut, ia mengaku beruntung memiliki teman-teman yang peduli dan membantu mencarikan peluang pekerjaan.

Salah satunya adalah pekerjaan freelance yang diperolehnya dari teman sekolah saat SMA yang kini menjadi pemilik perusahaan digital marketing.

Saat temannya membutuhkan editor video dan foto untuk kebutuhan pemasaran, Zizi mendapat kesempatan untuk membantu.

Untuk sementara, Zizi tinggal di sebuah indekos di Jakarta Barat. 

Biaya hidupnya, termasuk makan, jajan, dan sewa tempat tinggal, mencapai sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4 juta setiap bulan, biaya tersebut masih sebagian dibantu oleh orangtuanya.

Kondisi itu membuat Zizi berusaha mengatur pengeluaran agar tidak terlalu membebani keluarga.

"Kalau enggak kita irit-irit ya bisa boros, kasihan tiap bulan minta tambahin sama orangtua mulu," tuturnya.

Namun, bagi Zizi, pekerjaan freelance setidaknya menjadi jalan untuk tetap produktif sekaligus memperoleh penghasilan sembari menunggu kesempatan kerja yang lebih stabil.

Ia pun terus mencoba, setelah hampir setahun menghadapi ketidakpastian dalam mencari pekerjaan. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.