SURYA.CO.ID SURABAYA - Sebanyak 76 anggota Paskibraka Jawa Timur sukses menjalankan tugas mengibarkan Bendera Merah Putih dalam upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (17/8/2026).
Keberhasilan itu menjadi puncak perjuangan panjang mereka sejak seleksi hingga pemusatan latihan.
Para putra-putri terbaik Jawa Timur tersebut mendapat kepercayaan menjalankan tugas negara dalam salah satu momen paling sakral dalam rangkaian peringatan kemerdekaan.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang bertindak sebagai Inspektur Upacara mengatakan seluruh anggota Paskibraka telah dikukuhkan sehari sebelum menjalankan tugas.
Menurut Khofifah, tugas Paskibraka bukan sekadar mengibarkan bendera, tetapi juga membawa amanah untuk menanamkan dan memperkuat semangat kebangsaan serta komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Baca juga: Upacara HUT ke-81 RI di Universitas Islam Lamongan, Kampus Berubah Jadi Miniatur Nusantara
“Yang dilakukan adalah menanamkan, menguatkan ruh Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui tugas negara sebagai pasukan pengibar Bendera Pusaka di Gedung Negara Grahadi pada HUT Kemerdekaan RI yang ke-81 tanggal 17 Agustus 2026,” katanya.
Khofifah menekankan kesempatan menjadi anggota Paskibraka merupakan pengalaman langka yang tidak diberikan kepada semua orang. Mereka telah melalui proses seleksi dan pembinaan panjang sebelum dipercaya membawa nama Jawa Timur.
“Ini adalah kesempatan langka yang diberikan negara kepada mereka semua. Tugasnya berat karena amanah untuk menguatkan nasionalisme dan cinta tanah air,” tuturnya.
Selain latihan teknis bersama tim pelatih, para anggota Paskibraka juga mendapat dukungan moril dan spiritual dari Pemprov Jatim.
Khofifah mengatakan jajaran Pemprov Jatim mengiringi tugas para Paskibraka dengan doa. Pada Sabtu (15/8/2026) malam, digelar istighosah dan pembacaan Surat Yasin bersama para hafiz dan hafizah serta kepala perangkat daerah.
Kemudian pada Minggu (16/8/2026), doa bersama kembali digelar bersama anak-anak yatim dan yatim piatu.
Baca juga: Bukan di Lapangan, Upacara HUT RI di Ponorogo Digelar di Tengah Sungai, Paskibraka Terharu
“Dukungan tersebut diharapkan memberikan ketenangan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri para anggota Paskibraka ketika menjalankan tugas pada upacara pengibaran maupun penurunan bendera,” katanya.
Kekompakan, ketepatan gerakan dan disiplin menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tugas pengibaran Merah Putih.
“Keberhasilan menjalankan tugas bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi pengalaman berharga yang diharapkan membentuk karakter, kedisiplinan dan rasa cinta tanah air,” pungkasnya.
Dalam upacara pengibaran bendera, Pembawa Baki Amelia Nagatha Ivana dari SMK 3 Kota Probolinggo, Pembawa Bendera Shanine Amelia Lazarau dari SMAN 5 Surabaya, Pembentang Bendera Moh. Fendi Zarkasi dari SMA 3 Taruna Angkasa, serta Pengerek Bendera Marco Ardiansya Dewa Anwari dari SMA Negeri 1 Magetan menjalankan tugas masing-masing.
Bagi Amelia Nagatha Ivana, tugas sebagai pembawa baki menjadi buah dari mimpi yang telah ia bangun sejak duduk di bangku SMP.
“Sebenarnya ketertarikan saya pada Paskibraka bermula di tahun 2022 ketika saya melihat Ayumi Putri Sasaki, pembawa baki pada upacara di Istana. Sejak melihat Ayumi saya rasanya sangat terinspirasi, tertarik di dunia Paskibraka, dan mulai ikut-ikutan latihan dan juga baris-berbaris,” katanya.
Ketika sekolah membuka seleksi Paskibraka, Amelia langsung mendaftarkan diri. Ia menjalani berbagai tahapan, mulai seleksi administrasi, pemeriksaan kesehatan, samapta hingga baris-berbaris.
Perjuangan tersebut membawanya lolos dari tingkat sekolah dan kabupaten/kota hingga tingkat Provinsi Jawa Timur.
“Alhamdulillah saya juara satu dan akhirnya lanjut ke tingkat provinsi hingga lulus. Semakin bersyukur karena masuk di pasukan delapan dan terpilih menjadi pembawa baki,” kata sulung dari tiga bersaudara itu.
Sejak 5 Agustus 2026, Amelia bersama 75 anggota Paskibraka Jatim menjalani pemusatan latihan. Mereka mendapat pembinaan dari tim pelatih yang terdiri dari unsur TNI, Purna Paskibraka Indonesia (PPI), serta Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Seluruh anggota tinggal di asrama dan menjalani latihan dengan jadwal padat. Penggunaan alat komunikasi juga dibatasi agar peserta dapat berkonsentrasi mengikuti pembinaan.
“Saya sempat culture shock karena semua harus cepat, makan harus cepat, harus olahraga setiap hari untuk melatih fisik, dan harus sangat-sangat disiplin,” ujarnya.
Perjuangan tak kalah panjang dilalui Marco Ardiansyah Dewa Anwari, siswa SMAN 1 Magetan yang bertugas sebagai pengerek bendera pusaka.
“Sebelum masuk SMA saya belum tahu Paskibraka. Mulanya saya hanya ikut teman untuk ikut ekstrakurikuler Paskibraka. Alhamdulillah hari demi hari saya jalani latihan,” katanya.
Memasuki kelas X, ketertarikan Marco terhadap Paskibraka semakin besar. Ia bahkan mulai bercita-cita menjadi Paskibraka tingkat nasional hingga internasional.
Namun, Marco harus menghadapi tantangan besar. Saat itu berat badannya mencapai 98 kilogram. Ia menyadari harus melakukan perubahan jika ingin mengejar cita-citanya.
Sang ayah kemudian memberikan nasihat agar Marco meninggalkan kebiasaan bermain game dan menggunakan gadget secara berlebihan.
“Papa bilang, kalau mau meraih cita-cita, tinggalkan dulu main game dan gadget. Apalagi papa tahu saya cita-cita masuk Akmil,” ujarnya.
Marco mengikuti nasihat tersebut. Ia mematikan telepon genggamnya dan mengubah pola hidup. Selama enam bulan, ia rutin berjalan kaki setiap sore sejauh lima kilometer.
Pola makannya juga diperketat. Hasilnya, dalam enam bulan berat badannya turun sekitar 25 kilogram.
“Saat dinasihati papa begitu saya langsung matikan HP. Selama enam bulan full saya rajin jalan sore, setiap hari lima kilometer. Saya juga diet dan akhirnya enam bulan kemudian berhasil turun 25 kilogram,” tuturnya.
Perubahan tersebut menjadi modal bagi Marco ketika memasuki kelas XI dan menghadapi seleksi Paskibraka. Menjelang seleksi, ia meningkatkan latihan fisiknya.
Pada H-10 seleksi, Marco rutin berlari hingga 10 kilometer setiap hari. Dalam satu pekan, jarak larinya bisa mencapai sekitar 50 kilometer. Ia juga melakukan latihan kardio di gym dan mengikuti half marathon untuk meningkatkan stamina serta daya tahan tubuh.
“Stamina dan kekuatan sangat bergantung dari latihan. Makanya saya persiapkan jauh-jauh hari,” katanya.
Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Marco berhasil melewati seleksi dari tingkat sekolah, kabupaten hingga Provinsi Jawa Timur dan dipercaya menjadi pengerek bendera.
“Tidak menyangka. Saya bangga dengan perjuangan yang saya lakukan, akhirnya saya bisa,” ujar siswa berusia 17 tahun tersebut.