Suparno Kades di Lamongan yang Pimpin Upacara Kemerdekaan di Tengah Keterbatasan Fisik
Titis Jati Permata August 17, 2026 02:32 PM

 


SURYA.co.id, LAMONGAN – Keterbatasan fisik tak menghalangi Suparno berdiri di hadapan ratusan warga Dusun Nogo, Desa Nogojatisari, Kecamatan Sambeng, Lamongan, Jawa Timur, untuk memimpin upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).

Meski harus menggunakan kursi roda akibat stroke ringan yang berdampak pada bagian kakinya, Suparno tetap hadir sebagai pembina upacara di lapangan Dusun Nogo.

Bagi Kepala Dusun Nogo itu, upacara tersebut bukan sekadar peringatan kemerdekaan.

Momentum 17 Agustus tahun ini menjadi upacara pertama sekaligus terakhir yang dipimpinnya sebagai kepala dusun sebelum mengakhiri masa tugas.

Ratusan warga dari 10 rukun tetangga (RT) turut mengikuti upacara. Pesertanya beragam, mulai dari petani, pemuda karang taruna hingga siswa sekolah dasar.

Petani Tak Perlu Tinggalkan Sawah

Upacara digelar secara mandiri di tingkat dusun. Inisiatif tersebut muncul agar para petani tetap bisa mengikuti peringatan HUT Kemerdekaan tanpa harus meninggalkan aktivitas mereka di sawah.

Selama ini, warga Dusun Nogo biasanya mengikuti upacara di tingkat kecamatan.

Baca juga: 419 Napi Lapas Lamongan Dapat Remisi HUT ke-81 RI, 8 Langsung Bebas

Namun, jarak yang cukup jauh serta kesibukan bertani membuat sebagian warga tidak dapat mengikuti upacara secara langsung.

“Upacara ini kami gelar sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah kita rasakan,” kata Suparno kepada wartawan, Senin (17/8/2026).

Ia mengatakan, keputusan menggelar upacara di dusun mendapat sambutan positif dari masyarakat.

“Kalau sebelumnya kami harus mengikuti upacara HUT Kemerdekaan di tingkat kecamatan, sekarang para petani di dusun ini bisa menggelarnya secara mandiri,” ujarnya.

Menurut Suparno, selama ini sebagian petani memilih tetap bekerja di sawah ketika upacara kemerdekaan digelar di tingkat kecamatan.

Kondisi tersebut kemudian mendorong warga mencari cara agar peringatan kemerdekaan tetap bisa diikuti seluruh lapisan masyarakat.

“Bangga karena antusiasme warga, terutama para petani, cukup tinggi,” ungkapnya.

Ratusan Warga Khidmat Kibarkan Merah Putih

Meski digelar sederhana, suasana upacara di lapangan Dusun Nogo berlangsung khidmat.

Ratusan warga dari 10 RT mengikuti setiap rangkaian upacara. Ketika bendera Merah Putih dikibarkan, peserta tampak antusias memberikan penghormatan.

Bagi warga, upacara tersebut menjadi ruang bersama untuk mengenang jasa para pahlawan sekaligus merayakan kemerdekaan yang telah dinikmati selama 81 tahun.

Suparno menilai tingginya partisipasi warga menunjukkan bahwa semangat nasionalisme tidak hanya tumbuh di lingkungan pemerintahan atau perkotaan.

Menurutnya, rasa cinta tanah air juga tumbuh kuat di tengah masyarakat pedesaan, termasuk kalangan petani.

Upacara Pertama Sekaligus Terakhir Suparno

Ada cerita khusus di balik upacara HUT ke-81 RI di Dusun Nogo.

Bagi Suparno, kegiatan tersebut menjadi kali pertama sekaligus terakhir ia memimpin upacara kemerdekaan sebagai Kepala Dusun Nogo.

Kondisi fisik tidak membuatnya memilih absen.

Suparno tetap datang menggunakan kursi roda dan menjalankan tugas sebagai pembina upacara di hadapan warga.

Semangat tersebut mendapat tempat tersendiri di tengah warga yang hadir.

Ia berharap upacara kemerdekaan secara mandiri di Dusun Nogo tidak berhenti setelah dirinya mengakhiri masa tugas.

“Kami berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti tahun ini. Tradisi upacara bendera secara mandiri di tingkat dusun perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” tuturnya.

Ingin Jadi Tradisi Warga Dusun

Menurut Suparno, upacara di tingkat dusun bukan hanya bentuk penghormatan kepada para pahlawan.

Kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat hubungan antara masyarakat, pemuda, dan kelompok tani di Dusun Nogo.

Ia berharap kebersamaan yang tercipta dalam peringatan HUT ke-81 RI dapat terus dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya.

“Semangat kebersamaan dan nasionalisme warga harus terus dijaga. Kami berharap generasi muda dan kelompok tani bisa melanjutkan kegiatan ini pada tahun-tahun berikutnya,” pungkasnya.

Upacara sederhana di Dusun Nogo akhirnya meninggalkan pesan yang kuat: peringatan kemerdekaan tidak harus berlangsung megah.

Di tengah kesibukan bertani dan keterbatasan fasilitas, warga tetap bisa berkumpul, mengibarkan Merah Putih, dan merawat semangat nasionalisme bersama.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.