Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Musibah gempa bumi dengan magnitudo 7,7 yang mengguncang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi perhatian semua pihak, termasuk mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi.
TGB pada akhir masa jabatannya di tahun 2018 silam juga sempat menghadapi ujian serupa, yakni gempa bumi besar di Lombok dengan magnitudo 7,0. Selama hampir sebulan kala itu, rentetan gempa dari skala kecil hingga besar terus terjadi dengan korban jiwa mencapai ribuan orang.
Pengalaman tersebut membuat masyarakat NTB terus menyiapkan mitigasi kebencanaan jika sewaktu-waktu bencana datang. TGB berpesan kepada masyarakat di NTT untuk tidak saling menyalahkan saat musibah seperti ini melanda.
"Tidak boleh saling menyalahkan, dulu kita cepat tanggap bencananya, kemudian rehabilitasinya relatif cepat karena masyarakat luar melihat kita NTB itu kompak sehingga masyarakat luar NTB semangat membantunya," kata TGB, Senin (17/8/2026).
Mantan Gubernur NTB ini meminta antara masyarakat dan pemerintah untuk sama-sama menangani masalah ini, jangan saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.
TGB menyampaikan bahwa masyarakat NTB akan terus memberikan dukungan kepada NTT dalam proses pemulihan pascabencana, sebab dahulunya NTB dan NTT merupakan satu kesatuan yang disebut dengan Sunda Kecil.
"Kita turut merasakan apa yang mereka rasakan, kami juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah provinsi yang sudah mengirim bantuan ke NTT mewakili kita semua, itulah namanya persaudaraan," kata TGB.
Ia juga mengingatkan kepada masyarakat Lombok untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, dan mengingatkan agar tetap berdoa dengan harapan bencana tidak datang melanda.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) secara resmi melepas Tim Solidaritas NTB untuk membantu penanganan bencana yang menimpa masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan bahwa aksi cepat ini didasari oleh empati mendalam serta pengalaman NTB yang pernah merasakan dampak besar bencana gempa bumi pada tahun 2018 silam.
"Tahun 2018 kita menghadapi gempa luar biasa di NTB. Kita adalah salah satu daerah yang paling tahu rasanya menghadapi situasi berat seperti itu. Kita paling paham bagaimana pentingnya dan kuatnya solidaritas dari saudara-saudara kita, baik tingkat nasional maupun internasional," ujar Gubernur Iqbal saat memberikan sambutan pelepasan tim kemanusiaan di kantor BPBD NTB, Minggu (16/8/2026).
Gubernur menambahkan, sebagai tetangga terdekat, NTB ingin menjadi pihak pertama yang hadir mengulurkan tangan dan memastikan warga NTT tidak merasa berjuang sendirian.
"Satu jam setelah kejadian, saya langsung berkomunikasi dengan Gubernur NTT dan menyampaikan bahwa mereka tidak sendiri. Kami tetangga terdekat akan segera hadir membantu," tegasnya.
Selain misi kemanusiaan, pengerahan tim ini menjadi ujian konkret bagi kesiapsiagaan jajaran Pemprov NTB dalam merespons situasi darurat secara kilat.
Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam sejak instruksi diberikan, seluruh konsolidasi tim dan bantuan telah siap diberangkatkan.
"Ini bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi menguji kesiapsiagaan kita. Jika sesuatu terjadi, dalam 24 jam kita sudah membuktikan siap melakukan aksi kemanusiaan skala besar. Pembelajaran dari persiapan singkat ini akan menjadi catatan evaluasi bagi BPBD," lanjut Lalu Iqbal.
Misi kemanusiaan ini merupakan bentuk sinergi lintas sektor yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dan instansi di NTB, mulai dari unsur TNI-Polri, BPBD, Satpol PP, rumah sakit se-NTB, Universitas Mataram (Unram), Bulog, Bank Mandiri, Amman Mineral, Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan, hingga dukungan relawan/volunteer dari komunitas Flobamora NTB.
Untuk efisiensi operasional, pergerakan tim dari Mataram akan memfokuskan pengadaan logistik utama serta alat berat di Bima sebelum menyeberang ke wilayah NTT.
"Logistik sebagian besar kita beli di Bima agar lebih efisien, termasuk alat berat sudah disiapkan di sana. Bahkan Gubernur Bali juga memerintahkan timnya untuk belanja logistik di Bima," jelasnya.
Pemprov NTB juga telah berkoordinasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry yang telah menyiapkan satu kapal khusus dari Bima menuju pelabuhan terdekat di NTT untuk mengangkut seluruh rombongan dan bantuan logistik NTB.
Berdasarkan koordinasi terkini dengan Pangdam IX/Udayana, konsentrasi dampak bencana terparah berada di wilayah Manggarai bagian utara. Tim pendahulu yang dipimpin oleh Kepala BPBD NTB, Karo Kesra Setda NTB, dan Kadis Kesehatan NTB dijadwalkan bertolak lebih awal untuk mematangkan koordinasi di lapangan.
"Ini yang hadir bukan lagi atas nama instansi, melainkan atas nama satu NTB. Jika satu sakit, yang lain ikut merasakan sakit. Kita bangun rasa persaudaraan dan solidaritas antar-provinsi," pungkasnya.
Baca juga: Gubernur Iqbal Kenakan Adat Manggarai di Upacara HUT ke-81 RI Bentuk Empati Bencana NTT