TRIBUNJAMBI.COM – Militer Ukraina menerapkan pendekatan taktis baru dalam perang melawan Rusia.
Gelombang serangan udara berbasis taburan drone kini membidik pusat-pusat logistik rintisan e-commerce terbesar di Rusia, Wildberries, hingga melumpuhkan rantai pasok ekonomi sipil dan militer Negeri Beruang Merah.
Insiden terbaru meletus pada Minggu dini hari (16/8/2026) waktu setempat.
Serangan skala besar drone Ukraina memicu kebakaran hebat di gudang raksasa Wildberries yang berlokasi di Kota Podolsk, sekitar 40 kilometer di selatan ibu kota Moskow, meski sistem pertahanan udara Rusia mengklaim berhasil mengintersepsi sebagian besar armada tanpa awak tersebut.
Gempuran Podolsk menambah panjang daftar inventaris logistik yang dihantam.
Pada Jumat (14/8/2026), Ukraina menggempur gudang Wildberries di Tver, wilayah utara Moskow, hanya sehari setelah insiden pembakaran fasilitas serupa di Salavat kawasan timur Rusia.
Secara kumulatif, tak kurang dari 20 pusat distribusi logistik Wildberries menjadi sasaran empuk serangan drone yang diluncurkan nyaris setiap hari sepanjang beberapa pekan terakhir.
Rentetan insiden ini menelan sedikitnya sembilan korban jiwa dari kalangan pekerja, melukai puluhan karyawan lainnya, serta memaksa puluhan pusat logistik menyetop total operasionalnya.
Dampak finansial dari strategi baru Ukraina ini tergolong masif.
Lembaga konsultan e-commerce berbasis di Moskow, Data Insight, menaksir Wildberries menderita kerugian persediaan barang mencapai 480 miliar rubel (sekitar Rp101,62 triliun) serta kehilangan sepertiga kapasitas ruang penyimpanannya.
Bila dikalkulasikan secara keseluruhan, estimasi total akumulasi kerusakan yang ditanggung pihak perusahaan beserta para penjual (sellers) menembus angka fantastis 800 miliar rubel atau setara Rp169,37 triliun.
Kyiv berargumen penyerangan raksasa e-commerce tersebut sah secara militer karena fasilitas logistiknya dimanfaatkan untuk menyuplai perbekalan prajurit Rusia.
Baca juga: Intelijen AS Bocorkan Rencana Serangan Rusia, Polandia Siaga Satu
Baca juga: Kualitas Udara Hari Ini di Momen HUT RI: Pontianak Sangat Tidak Sehat, Jambi Keluar 10 Besar
Sebaliknya, Moskow mengecam keras gelombang serangan tersebut dan bersikeras bahwa gudang-gudang tersebut murni melayani kebutuhan konsumen sipil.
Analis geopolitik menilai strategi Ukraina menyerang sektor e-commerce merupakan bentuk tekanan baru terhadap stabilitas domestik Rusia.
CEO perusahaan konsultan geopolitik Rasmussen Global, Fabrice Pothier, menggarisbawahi efektivitas taktik anyar Kyiv tersebut.
"Saya pikir Ukraina sedang mengincar titik rawan. Wildberries, di satu sisi, adalah titik rawan masyarakat dan ekonomi Rusia," ungkap Fabrice Pothier dalam wawancara bersama DW.
Langkah agresif Ukraina menyerang infrastruktur logistik ritel ini dinilai berhasil memindahkan guncangan perang langsung ke jantung perekonomian dan kehidupan sehari-hari publik Rusia.
Wildberries selama ini kerap digambarkan sebagai padanan dari platform marketplace Amazon di Rusia.
Menyusul invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 serta sanksi perdagangan yang menyusulnya, berbagai platform e-commerce online seperti Amazon memilih untuk menarik diri dari wilayah tersebut.
Sebagai respons atas situasi ini, otoritas Rusia mengizinkan kebijakan impor paralel, yang pada dasarnya memberikan izin bagi perusahaan-perusahaan domestik untuk menghindari sanksi dengan cara mengimpor barang tanpa memerlukan persetujuan dari pemegang hak cipta asli.
Perusahaan-perusahaan tersebut secara drastis memangkas harga konvensional, sehingga mendongkrak volume penjualan mereka secara signifikan.
Sebagai contoh, pendapatan Wildberries melonjak hingga tujuh kali lipat dalam kurun waktu antara 2021 hingga 2025.
Pesaing utamanya, Ozon, mencatatkan angka yang tak kalah fantastis dengan laporan pendapatan mencapai Rp 879,9 miliar serta tingkat pertumbuhan sebesar 59 persen pada tahun 2025.
Hingga saat ini, Wildberries memegang status sebagai platform e-commerce terbesar di negara tersebut dengan menguasai sekitar separuh dari total pangsa pasar yang ada.
Adapun Ozon mendominasi sekitar 30 persen dari pasar yang sama. Apabila digabungkan, keduanya menangani volume barang dan jasa yang setara dengan sekitar 8,5 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Rusia.
Baca juga: Perjalanan 6 Tahun Tifan Pokan Bela Diri Muslim hingga Bernaung di Yayasan
Baca juga: Besok Pendaftaran Sekolah Kedinasan 2026, Ada 4.770 Formasi
Baca juga: Pesan Megawati di HUT RI: Kemerdekaan Bukan Sekadar Seremonial