Perjalanan 6 Tahun Tifan Pokan Bela Diri Muslim hingga Bernaung di Yayasan
asto s August 17, 2026 04:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Bela diri Muslim Tifan Pokan mulai dikembangkan lebih serius melalui Yayasan Sahabat Tangan Bangsawan di Provinsi Jambi.

Yayasan tersebut menjadi wadah untuk memperkuat pengembangan bela diri yang telah berjalan sekitar enam hingga tujuh tahun, sekaligus memperluas kegiatannya di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Pembentukan yayasan dilakukan setelah melalui proses panjang, termasuk penyusunan struktur organisasi, program, target, anggaran, serta indikator keberhasilan.

Pembina Yayasan Sahabat Tangan Bangsawan, Edison, mengatakan bela diri Muslim Tifan Pokan tidak hanya diarahkan untuk melatih kemampuan fisik, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter dan akhlak generasi muda.

Pengembangan bela diri tersebut kini mulai menyasar pondok pesantren dan sekolah, dengan harapan ke depan dapat berkembang menjadi olahraga prestasi sekaligus menjadi bagian dari pendidikan karakter masyarakat Jambi. 

Bagaimana bela diri ini perjalanan yayasan tersebut? Berikut wawancara Jurnalis Tribun Jambi, Jariyanto, bersama Pembina Yayasan Sahabat Tangan Bangsawan, Edison:

Pak Edison, bisa diceritakan bagaimana proses awal pendirian Yayasan Sahabat Tangan Bangsawan dan apa yang melatarbelakanginya?

Edison: Ketika kami berpikir untuk mendirikan yayasan, tentu ada sejumlah prosedur yang harus dilalui dan disepakati bersama.

Pertama, kami menetapkan target dan sasaran agar tujuan organisasi jelas dan setiap kegiatan memiliki arah yang terukur.

Setelah itu, kami membentuk tim yang bertanggung jawab dalam menyusun perencanaan serta menjalankan tugas sesuai struktur organisasi.

Dalam struktur tersebut, masing-masing memiliki peran, mulai dari pembina, pelindung, ketua, bendahara hingga bidang-bidang lainnya.

Kami juga menetapkan fokus yayasan, yaitu bergerak di bidang pendidikan, sosial dan ekonomi.

Kemudian kami menyusun anggaran untuk mengetahui bagaimana kegiatan yayasan akan dijalankan, apakah secara mandiri atau membutuhkan dukungan dan kerja sama dengan pihak lain.

Kami juga menetapkan periode kepengurusan dan indikator keberhasilan agar setiap program dapat dievaluasi secara jelas.

Sebelum menjadi yayasan, bela diri Muslim Tifan Pokan ini sudah berjalan beberapa tahun. Mengapa kemudian perlu dibentuk Yayasan Sahabat Tangan Bangsawan?

Edison: Bela diri Muslim Tifan Pokan sudah berjalan sekitar enam sampai tujuh tahun.

Sebelumnya, kegiatan masih berada di bawah naungan pusat sehingga belum sepenuhnya mandiri.

Kami melihat perlu ada wadah yang lebih kuat secara organisasi agar pengembangan bela diri ini dapat dilakukan secara lebih terstruktur.

Karena itu, kami membentuk Yayasan Sahabat Tangan Bangsawan sebagai wadah yang menaungi kegiatan tersebut.

Namun, kami tidak ingin struktur organisasi menjadi gemuk.

Kami ingin setiap orang yang masuk dalam kepengurusan memiliki peran konkret sesuai bidang yang telah ditetapkan.

Jariyanto: Tadi disebutkan yayasan ini bergerak di bidang pendidikan, sosial dan ekonomi. Apakah bela diri menjadi bagian dari program pendidikan tersebut?

Edison: Betul. Saat ini kami sudah mulai masuk ke bidang pendidikan melalui bela diri Muslim Tifan Pokan.

Pintu masuknya antara lain melalui sekolah-sekolah Islam dan pondok pesantren, kemudian tidak menutup kemungkinan masuk ke sekolah umum.

Kami ingin bela diri ini tidak hanya berbicara mengenai kemampuan fisik, tetapi juga pendidikan karakter dan akhlak.

Karena itu, nilai akhlakul karimah menjadi salah satu hal yang kami tekankan.

Setelah berjalan sekitar enam sampai tujuh tahun, sejauh mana perkembangan bela diri Muslim Tifan Pokan?

Edison: Awalnya kegiatan ini bersifat lokal.

Ketika ada masyarakat di suatu kelurahan atau desa yang berminat, kami mengajarkan bela diri di tempat tersebut.

Kemudian muncul pemikiran untuk mengembangkan kegiatan ini dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Salah satu tantangannya adalah ketersediaan pelatih yang memiliki sertifikasi sesuai kebutuhan.

Kami tidak ingin sembarangan menempatkan seseorang sebagai pelatih.

Karena itu, persoalan sertifikasi pelatih juga terus kami dorong agar ke depan setiap cabang memiliki tenaga pelatih yang memenuhi standar. (Tribun Jambi/Asto)

Baca juga: Kepala Baskesbangpol Jambi Buka-bukaan soal Ormas dan Dana Parpol Rp5,8 Miliar

Baca juga: Fachri Jadi Komandan Kelompok 8 Paskibraka Nasional, Wali Kota Jambi Beri Pujian

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.