POSBELITUNG.CO--Masuknya pendiri Amazon, Jeff Bezos, ke dalam konsorsium investor yang membeli saham minoritas Liverpool memunculkan perdebatan baru mengenai nilai dan arah kepemilikan klub.
Kritik datang dari anggota parlemen Inggris Zarah Sultana yang mempertanyakan keterlibatan Bezos karena hubungan bisnis Amazon dengan pemerintah Israel melalui Project Nimbus.
Fenway Sports Group (FSG), pemilik mayoritas Liverpool, telah menyepakati penjualan sekitar 30 persen saham klub kepada konsorsium 1892 Holdings. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar £1,65 miliar dan membuat valuasi Liverpool berada di atas £5 miliar.
Konsorsium tersebut dipimpin Amit Bhatia dan didukung sejumlah investor, termasuk K5 Sports yang menjadikan Bezos sebagai investor utama, serta keluarga investor Eduardo Saverin.
Meski memiliki kekuatan finansial besar, Bezos bukan pemilik mayoritas Liverpool. FSG tetap memegang saham mayoritas sekaligus kendali operasional klub. Bezos juga tidak memperoleh kursi di jajaran direksi Liverpool.
Keterlibatan Bezos kemudian mendapat sorotan dari Zarah Sultana.
Melalui akun X miliknya, Sultana mengkritik masuknya kekayaan Bezos ke Liverpool dengan mengaitkannya dengan hubungan Amazon dengan Israel.
Ia mempertanyakan bagaimana investasi Bezos dapat dipandang dari perspektif nilai-nilai yang selama ini melekat pada Liverpool.
Menurut Sultana, Liverpool memiliki sejarah sebagai klub yang dekat dengan komunitas kelas pekerja dan memiliki tradisi solidaritas terhadap kelompok yang mengalami penindasan.
Ia juga mengingatkan bahwa suporter Liverpool selama ini pernah menggunakan pengaruh mereka dalam berbagai persoalan yang menyangkut klub, mulai dari dukungan terhadap keluarga korban Hillsborough hingga penolakan terhadap European Super League dan keberatan atas kenaikan harga tiket.
Sultana menilai masuknya Bezos seharusnya menjadi momentum bagi suporter Liverpool untuk kembali mempertanyakan persoalan kepemilikan dan nilai yang dibawa investor ke dalam klub.
"Liverpool lebih dari sekadar bisnis, klub ini adalah sebuah komunitas," ujar Sultana dalam pernyataannya.
Ia juga mengajak suporter untuk memperhatikan tanggung jawab sosial dan arah kepemilikan Liverpool di masa depan.
Kritik tersebut menjadi bagian dari perdebatan politik mengenai hubungan perusahaan teknologi besar dengan pemerintah Israel dan konflik Israel-Palestina.
Pernyataan Sultana mengenai Israel merupakan pandangan politiknya dan tidak dapat diperlakukan sebagai kesimpulan independen mengenai seluruh aktivitas Amazon maupun Bezos.
Di tengah kontroversi tersebut, struktur transaksi penting untuk diperhatikan.
Kesepakatan 1892 Holdings bukan merupakan pengambilalihan Liverpool secara penuh.
Konsorsium hanya membeli saham minoritas sekitar 30 persen, sedangkan FSG tetap menjadi pemegang saham mayoritas dan mempertahankan kendali operasional klub.
Amit Bhatia akan menjadi wakil ketua Liverpool dan masuk ke jajaran direksi.
Elaine Saverin serta Bryan Baum dari K5 Sports juga akan bergabung dalam struktur dewan yang diperluas. Bezos sendiri tidak memiliki kursi di dewan.
Masuknya Bezos dengan demikian lebih tepat dilihat sebagai investasi minoritas melalui konsorsium, bukan perubahan kendali Liverpool.
Namun, nilai finansial dan profil para investor membuat transaksi ini tetap menjadi perhatian besar.
Kesepakatan tersebut menempatkan salah satu orang terkaya di dunia di balik kepemilikan minoritas klub dengan sejarah panjang dan basis suporter global.
Bagi Liverpool, persoalannya kini bukan hanya mengenai berapa besar nilai investasi yang masuk, tetapi juga bagaimana klub mempertahankan identitas dan hubungan dengan suporternya ketika semakin banyak modal besar masuk ke sepak bola Inggris.(*)