BANGKAPOS.COM - Fenomena sorotan publik terhadap pengupas bawang yang diupah Rp 700 ribu per kilo dinilai menjadi bukti nyata penjajahan algoritma saat ini.
Demikian disampaikan Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi.
Menurut dia, di balik momentum perayaan HUT ke-81 RI, bangsa Indonesia masih dihadapkan pada pekerjaan rumah besar terkait pendiktean teknologi digital tersebut.
Ia menilai emosi dan fokus masyarakat kini terlalu mudah disetir oleh potongan informasi singkat, sehingga mengalihkan perhatian dari gagasan utama dan substansi penting.
Oleh karena itu, kemerdekaan sejati di era modern juga mencakup kemampuan masyarakat serta bangsa untuk terbebas dari cengkeraman serta manipulasi algoritma.
"Makna kemerdekaan ya kalau kaya sekarang kita bersyukur ya. Sudah 81 tahun kita merdeka. Tentu masih banyak PR-PR yang tetap harus dijalani," ujar Hasan di Istana, Jakarta, Senin (17/8/2026).
"Dan kalau saya, dari sisi komunikasi, satu lagi tantangannya nih. Kita kayaknya harus belajar merdeka dari penjajahan algoritma ini. Hehe," sambungnya.
Baca juga: Gaji Pengupas Bawang Sebenarnya, Di Jaktim Rp3000/kg, Pergi Pagi Pulang Malam Dapat Rp60 Ribu.
Baca juga: Sosok Susanah Pengupas Bawang Sekaligus Pekerja Dapur MBG yang Disebut Prabowo Bergaji Rp700 Ribu/kg
Menurut Hasan, emosi dan pikiran masyarakat saat ini disetir oleh algoritma.
Dia menilai, Indonesia perlu memiliki sistem supaya bisa bebas dari pendiktean algoritma.
"Karena sekarang kebanyakan kita emosi kita, pikiran kita disetir oleh algoritma. Mungkin kita harus punya sebuah mekanisme, sistem dan peradaban untuk bisa merdeka dari pendiktean oleh algoritma ini," jelasnya.
Sementara itu, Hasan kemudian mengaitkan pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait upah pengupas bawang Rp 700 ribu per kg, yang disorot masyarakat.
Dia menilai hal tersebut berkaitan dengan algoritma yang membuat masyarakat tidak berfokus pada substansi pidato Presiden.
"Kita pikirkan substansi dari pidato besar Presiden ya. Yang satu kalimat, dua kalimat digoreng itu saya rasa kita harus apa? Belajar untuk tidak terfokus. Itu algoritma juga itu. Satu kalimat, dua kalimat tapi pikirkan substansi besar dan gagasan besar dari pidato presiden. Sebaiknya seperti itu," imbuh Hasan. (Sumber : Kompas.com)