SURYA.CO.ID - Olahraga seperti padel, tenis, bulu tangkis hingga lari kini semakin diminati masyarakat. Selain memberikan manfaat bagi kebugaran tubuh, aktivitas tersebut juga memiliki risiko terhadap kesehatan mata yang perlu diwaspadai.
Dokter Spesialis Mata Klinik Mata dr Sjamsu Surabaya, dr Vinca Desyandri, Sp.M, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan perlindungan mata ketika berolahraga.
Menurut dr. Vinca, olahraga yang melibatkan bola atau benda bergerak dengan kecepatan tinggi memiliki risiko lebih besar menyebabkan cedera mata.
“Olahraga yang banyak risiko terutama yang berkaitan dengan bola, seperti padel dan tenis. Banyak juga cedera yang berhubungan dengan itu,” ujar dr. Vinca ditemui Tribun Jatim Network usai event Health Talk “Merdeka Melihat, Bebas Bergerak” yang digelar di Klinik Mata dr. Sjamsu Surabaya, Sabtu (15/8/2026).
Pada olahraga seperti tenis, padel dan bulu tangkis, mata dapat mengalami trauma akibat terkena bola maupun shuttlecock.
Benturan tersebut tidak hanya menyebabkan mata merah atau gangguan ringan. Dalam kondisi tertentu, cedera dapat berkembang menjadi masalah serius seperti hifema atau perdarahan di dalam mata hingga ablasi retina.
“Risikonya mulai dari kondisi mata merah dan yang terberatnya bisa sampai buta,” jelasnya.
Karena itu, perlindungan mata menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan, khususnya bagi mereka yang rutin melakukan olahraga dengan risiko benturan.
Risiko kesehatan mata tidak hanya berasal dari benturan. Bagi masyarakat yang gemar berlari, paparan sinar ultraviolet (UV) juga perlu menjadi perhatian.
Terlebih jika lari dilakukan dalam jarak jauh dan durasi yang panjang di bawah terik matahari. Paparan UV yang terakumulasi dapat meningkatkan risiko gangguan mata, termasuk pterigium hingga katarak lebih dini.
Sebagai seorang running enthusiast, dr. Vinca merekomendasikan penggunaan kacamata pelindung atau sunglasses dengan perlindungan anti-UV, terutama ketika berlari dalam waktu lama dan di bawah paparan sinar matahari.
“Olahraga itu untuk mengejar sehat, jangan sampai mata yang jadi korban. Penggunaan kacamata pelindung atau sunglasses anti-UV adalah investasi jangka panjang untuk kualitas penglihatan kita,” ungkapnya.
Penglihatan Normal Bukan Berarti Mata Selalu Sehat
Dr. Vinca juga mengingatkan bahwa kondisi penglihatan yang terasa normal belum tentu menunjukkan mata benar-benar dalam kondisi sehat.
Pemeriksaan mata secara berkala diperlukan untuk memastikan ketajaman penglihatan tetap optimal. Hal tersebut juga penting karena penglihatan memiliki peran dalam koordinasi gerak ketika seseorang melakukan aktivitas olahraga.
“Edukasi preventif adalah garda terdepan. Melalui antusiasme luar biasa dari para peserta Health Talk ini, kami sangat berharap kesadaran untuk melindungi mata saat berolahraga menjadi standar kebiasaan baru di Surabaya,” tegasnya.
Antusiasme peserta Health Talk “Merdeka Melihat, Bebas Bergerak” juga terlihat saat sesi interaktif. Peserta aktif berbagi pengalaman sekaligus mendiskusikan berbagai keluhan mata yang selama ini kerap diabaikan saat melakukan aktivitas fisik.
Klinik Mata dr. Sjamsu Surabaya turut mengedepankan layanan mata yang presisi dan aman dengan dukungan tenaga medis subspesialis, peralatan diagnostik berstandar internasional serta lingkungan pelayanan yang mengutamakan kenyamanan pasien.
Melihat tingginya antusiasme masyarakat terhadap edukasi kesehatan mata, Klinik Mata dr. Sjamsu berkomitmen melanjutkan upaya preventif melalui rangkaian Health Talk berikutnya.
Edukasi tersebut akan menyasar berbagai kalangan dengan tema kesehatan mata yang dekat dengan aktivitas dan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
“Olahraga memang baik untuk kesehatan tubuh secara umum, tapi memang ada hal-hal yang perlu diperhatikan untuk kesehatan mata,” tutupnya.