Ribuan Kali Terjadi, Pakar Ungkap Kapan Gempa Susulan NTT Berakhir
Desy Selviany August 17, 2026 08:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM-Gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terjadi hingga Senin (17/8/2026). 

Terhitung selama dua hari, NTT mengalami 1624 gempa susulan menurut pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga pukul 11.00 siang. 

Kekuatan gempa susulan pun masih cukup kuat dengan magnitudo M1,3 – M6,2. 

Di antara ribuan gempa susulan tersebut, gempa dengan magnitudo M>5 sebanyak 23 kejadian dan gempa bumi susulan yang dirasakan berjumlah 59. 

Lalu Kapan gempabumi di NTT berakhir? 

Pakar kegempaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Dr. Irwan Meilano mengungkapkan gempa NTT saat ini hampir mirip dengan yang terjadi di tahun 1992. 

Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, sekaligus ahli gempa dan kadaster itu juga menjelaskan jarak kedua lokasi gempa tersebut kurang dari 40 kilometer. 

“Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992. Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi,” ujarnya dalam keterangan tertulis Senin (17/8/2026). 

Selain itu wilayah tempat terjadinya gempa merupakan bagian dari Flores Back Arc atau busur belakang Flores, kawasan yang memiliki aktivitas kegempaan signifikan.  

Menurut Prof. Irwan, kawasan tersebut memiliki riwayat gempa besar, termasuk gempa bermagnitudo 6,6 pada 2009 dan rangkaian gempa di utara Lombok pada 2018. 

Baca juga: Air di NTT Berubah Keruh Usai Gempa 7,7 Magnitudo, Ini Sebabnya

“Kalau kita ingat tahun 2018 misalnya, di utara Lombok, itu pun terjadi retakan gempa besar di atas magnitudo enam,” ujarnya. 

Ia menjelaskan, kajian akademik dalam penyusunan peta gempa nasional juga menunjukkan masih terdapat bagian di kawasan tersebut yang memiliki potensi kegempaan. 

"Masih ada bagian yang sebetulnya belum menghasilkan gempa. Kita tidak berharap itu terjadi, tetapi secara riset akademik dari yang kami hasilkan dari riset Pusgen yang menjadi pusat studi gempa nasional, yang menjadi peta nasional gempa Indonesia saat ini, sebetulnya potensi gempa itu tidak kita harapkan tetapi masih ada di wilayah tersebut,” tuturnya.
Prof Irwan pun menyoroti ratusan gempa susulan yang terjadi.
Prof. Irwan menjelaskan, gempa besar pada umumnya memang diikuti oleh gempa-gempa susulan yang secara bertahap cenderung menurun magnitudonya. 

“Biasanya suatu gempa besar terjadi akan diikuti beberapa gempa-gempa susulan yang magnitudonya semakin lama akan semakin kecil,” ujarnya. 

Meski demikian, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan. Prof. Irwan mengingatkan bahwa pengalaman gempa Lombok pada 2018 menunjukkan aktivitas gempa dapat melibatkan segmen yang berdekatan. 

“Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang. Sangat mungkin, tidak kita harapkan, bahwa gempa ini kemudian memicu bagian segmen yang berdekatan. Ini pernah terjadi ketika gempa 2018 di wilayah Lombok,” jelasnya 

Ia juga mengingatkan bahwa gempa susulan dengan magnitudo di atas 6 tetap berpotensi menimbulkan dampak yang signifikan. 

“Mungkin gempanya banyak, tapi semakin lama semakin mengecil. Tetapi masih ada kemungkinan, walaupun kecil, apabila gempanya di atas enam, itu bisa memberikan dampak merusak yang cukup signifikan,” tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.