Murah Meriah! Semangkuk Bakso Cuma Rp2.000, Warung Pak Ndut di Kediri Ini Selalu Ramai Pembeli
Sinta Manilasari August 17, 2026 08:44 PM

TRIBUNSTYLE.COM - Bayangkan bisa menyantap semangkuk bakso hanya dengan uang Rp2.000. Di tengah harga makanan yang terus merangkak naik, nominal tersebut tentu terdengar seperti cerita lama. Namun, di Desa Besuk, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, harga semurah itu ternyata masih bisa ditemukan.

Warung Bakso Pak Ndut menjadi salah satu tempat yang menawarkan sajian tersebut. Dengan selembar uang Rp2.000, pembeli sudah mendapatkan satu mangkuk berisi enam butir bakso, kuah, serta irisan sayuran sebagai pelengkap. Baksonya dibuat dengan ukuran sedang, sehingga dalam satu suapan masih terasa pas tanpa terlalu memenuhi mulut.

Tentu, harga murah membuat pembeli tidak bisa membandingkannya begitu saja dengan bakso seharga Rp10.000 atau lebih. Dari sisi rasa, sajian ini sederhana dan sesuai dengan banderolnya. Meski demikian, bukan berarti rasanya lantas membuat lidah kecewa. Ada alasan mengapa warung ini tetap mampu menarik perhatian para pemburu kuliner.

Harga yang bersahabat menjadi salah satu daya tariknya, terutama bagi mereka yang ingin menikmati semangkuk bakso hangat tanpa harus menguras isi dompet. Jadi, kalau kebetulan melintas di kawasan Gurah, semangkuk bakso Rp2.000 ini bisa menjadi kuliner sederhana yang layak dicoba.

Baca juga: Jajanan Ube Naik Daun, Ini 5 Kuliner yang ada Varian Ube di Bekasi, Donat hingga Crepes

“Saya tadi sampai nambah dua kali. Jadinya dua mangkuk plus minumnya teh anget,” ujar Ibrahim, salah seorang pembeli, awal Agustus 2026.

ILUSTRASI BAKSO (Flickr/Kyle Lam)

Harga tak berubah sejak 2011

Kolifah (47), pemilik warung bakso Pak Ndut, mengatakan, harga jual Rp 2.000 itu sudah dilakukannya sejak tahun 2011 silam.

Dimulai dari berjualan secara keliling oleh suaminya lalu menetap di warung itu. Harga tersebut tetap dipertahankannya karena berbagai alasan.

Mulanya memang menyesuaikan dengan kondisi ekonomi para pembelinya yang rata-rata adalah petani karena areal jualan kelilingnya di desa, lalu bergeser ke kondisi ekonomi umumnya.

“Ya kan sekarang kondisinya (ekonomi) pada menjerit, ya sudah jualnya tetap saja 2000 saja itung-itung bantu warga,” ujar Kolifah.

Dirinya juga memastikan bahan-bahan yang dipakainya juga menggunakan bahan lazimnya bakso.

Hanya saja untuk daging bahan baksonya, dia menggunakan percampuran daging sapi dan daging ayam.

“Sehari itu dagingnya, ayam dan sapi, habisnya sampai satu kuintal,” ujar Kolifah.

Dengan tingkat kebutuhan jumlah bahan yang cukup tinggi itu dia juga hendak menjelaskan larisnya warungnya itu.

Warungnya buka setiap hari dengan layanan mulai jam 8 pagi sampai jam 8 malam.

“Apalagi kalau akhir pekan, semakin ramai yang datang,” lanjut Kolifah.

Kolifah mengaku meski menjual dengan harga yang cukup rendah, dirinya merasa tidak merugi dan bahkan praktik itu sudah bertahan sejak belasan tahun lamanya.

Sebab, dia mengaku menerapkan model bisnis kumulatif yang secara umum mengambil keuntungan sedikit per porsinya namun perputaran uangnya cukup tinggi karena barang laku banyak.

“Ya terus terang saja, itu keuntungannya saya ngambilnya sedikit saja tapi saya bisa habis banyak lakunya,” ujar Kolifah.

Keuntungan itu, menurutnya bisa ditambahkan pula dengan hasil keuntungan barang-barang jualan lainnya termasuk aneka minuman, makanan ringan, juga jenis porsi bakso lainnya.

Sebab, selain per porsi Rp 2.000, di warungnya juga menyediakan aneka pilihan porsi dari Rp 4.000 sampai Rp 10.000 dengan kelengkapan bakso jumbonya.

Selain itu, untuk menjaga eksistensi usahanya, dia juga menekankan pentingnya pembukuan. Itu pula yang dilakukannya setiap harinya di sela melayani pembeli.

Dirinya menyadari betul dengan nilai keuntungan yang sedikit jika tidak diimbangi dengan manajemen yang baik, tentu akan membuat usahanya tidak bertahan lama. Ada pengawasan antara pengeluaran dan pemasukan yang terkontrol.

Kolifah membuktikan cara usahanya itu tidak hanya membuatnya bertahan tetapi juga berkembang.

Dia membuka cabang warungnya di wilayah Kota Kediri, yaitu di Jalan Brigjen Pol Imam Bahri dengan pola penjualan yang sama.

Keberadaan bakso Pak Ndut yang konsisten soal harga dan eksistensinya itu, kini tidak hanya dikenal dari sisi orientasi pengganjal perut namun menjadi ikon kuliner di Kediri. (Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.