Petani Hilang di Hutan Pathuk Tritis Sleman Belum Ditemukan, Tim SAR Kerahkan Drone & Anjing Pelacak
Joko Widiyarso August 17, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Operasi pencarian terhadap seorang petani yang dilaporkan hilang di kawasan Hutan Pathuk Tritis, Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, hingga kini masih terus berlanjut.

Memasuki hari keempat pencarian, petugas gabungan belum menemukan satupun tanda-tanda atau petunjuk keberadaan korban.

Korban hilang diketahui berinisial GSG (68), warga Tritis, Ngandong, Girikerto, Turi, Sleman. Korban dilaporkan hilang sejak Jumat (14/8/2026) lalu saat sedang mencari rumput. Hingga kini, korban belum ditemukan. 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan, operasi pencarian melibatkan tim SAR gabungan dari berbagai unsur.

Menurut dia, operasi pencarian dilakukan tim gabungan yang dipimpin oleh Basarnas, dibantu bersama TNI-Polri, pemangku wilayah maupun pelbagai unsur relawan seperti BPBD, SAR DIY, Pammat, PMI dan unsur relawan lainnya. 

"Jumlah personel yang diturunkan berkisar antara 150 sampai 200 orang setiap harinya," ujar Bambang, Senin (17/8/2026). 

Menurut Bambang, hingga saat ini tim belum menemukan jejak sekecil apapun, termasuk barang-barang milik korban seperti sandal, arit, maupun pakaian yang dikenakan terakhir kali.

Dari rekaman CCTV warga sebelum kejadian, korban sempat terlihat berangkat dengan langkah yang sehat dan gagah, mengenakan baju kotak-kotak, training celana garis putih, serta membawa peralatan untuk mencari rumput.

Bambang mengatakan, ada beberapa kendala yang dihadapi oleh tim pencari di lapangan, antara lain, area pencarian yang cukup luas, apalagi di beberapa bagian ditemukan jurang yang dalam dan sempit. 

Apalagi sejauh ini, belum ditemukannya jejak fisik maupun barang-barang milik korban yang bisa dijadikan petunjuk awal. Meski demikian, kondisi cuaca dinilai cukup mendukung karena cerah, sehingga memudahkan pergerakan tim melakukan tracking sejak pagi hari.

Pakai drone dan anjing pelacak

Untuk memaksimalkan pencarian di medan terjal, tim gabungan mengerahkan berbagai sarana pendukung, mulai dari drone untuk pemantauan udara hingga anjing pelacak (K-9). 

"Drone-nya tiga, anjing pelacak juga ada. Kemarin ada dua anjing yang diturunkan," katanya. 

Selain itu, tim SAR gabungan juga dibekali peralatan evakuasi vertikal untuk menjangkau area jurang yang dalam, seperti di sekitar hulu Sungai Bedok hingga hulu Sungai Krasak yang memiliki kedalaman antara 10 hingga 20 meter.

Menurut Bambang, pencarian orang hilang yang telah memasuki hari keempat ini merupakan fase krusial atau golden time.

Mengingat batas waktu bertahan hidup seseorang biasanya di fase ini. Karena itu, operasi pencarian dan penyisiran dilakukan secara terstruktur.

Diawali briefing pagi dan evaluasi rutin setiap sore hari pukul 17.00 hingga 18.00 WIB untuk menyusun track atau jalur penyisiran hari berikutnya.

"Setelah lima hari pencarian, kami tentu akan melakukan evaluasi menyeluruh bersama pihak keluarga untuk menentukan langkah-langkah lanjutan seperti apa yang harus diambil," kata dia. 

Kronologi Awal 

Koordinator Unit Siaga SAR Sleman, Dhedi Prasetya mengatakan, peristiwa korban dilaporkan hilang bermula pada Jumat (14/8/2026) pagi sekitar pukul 06.00 WIB.

Korban berangkat bersama dua orang rekannya menuju kawasan Hutan Pathuk Tritis untuk mencari rumput.

Setibanya di lokasi hutan, mereka lalu berpencar untuk mencari rumput masing-masing.

Pada pukul 09.00 WIB rekan-rekan korban telah selesai dan kembali turun ke perkampungan.

Namun ditunggu hingga pukul 10.00 WIB, korban yang biasanya sudah pulang, tidak kunjung kembali.

Merasa khawatir dengan keselamatan korban, pihak keluarga bersama warga setempat segera melaporkan kejadian tersebut kepada aparat dan Tim SAR, yang kemudian langsung mengaktifkan posko operasi SAR gabungan di lokasi kejadian.
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.