Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar
TRIBUNFLORES.COM,BORONG-Di tengah reruntuhan rumah dan barang-barang yang porak-poranda akibat gempa bumi, ada satu hal yang paling dibutuhkan seorang warga terdampak di Golo Wangkung Barat kecamatan Congkar,Kabupaten Manggarai Timur NTT yaitu obat untuk menyembuhkan sakitnya.
Namun, obat itu kini ikut tertimbun bersama reruntuhan rumah.
Marsel Riberu, pria paruh baya tersebut masih mengingat jelas detik-detik ketika gempa mengguncang tempat tinggalnya. Saat itu, sekitar pukul 04.00, ia terbangun karena hendak minum air. Kondisinya memang sedang sakit.
Setelah minum, ia kembali tidur. Sekitar 30 menit kemudian, ia kembali terbangun. Tak lama berselang, ia melihat benda-benda di atas meja mulai bergerak.
“Waktu itu saya lihat di atas meja ada yang goyang-goyang sedikit. Ada botol kecil, langsung mulai bergerak,” ungkapnya mengenang kejadian, Senin (17/8/2026).
Baca juga: Gempa Flores: 55 Orang Meninggal, Ribuan Mengungsi, Ribuan Rumah dan Ratusan Fasilitas Umum Rusak
Situasi berubah menjadi kepanikan ketika guncangan semakin terasa. Marsel spontan berlari keluar rumah sambil berteriak memperingatkan orang-orang yang masih berada di dalam.
Saat berusaha menyelamatkan diri, sebagian tembok ikut runtuh. Bata dari tembok jatuh tepat di belakang tubuhnya. Beruntung, ia berhasil keluar sebelum terkena reruntuhan secara langsung.
Di dalam rumah saat itu masih terdapat beberapa orang, termasuk anak-anak yang sedang berada di sana.
Setelah gempa berhenti, rasa kehilangan mulai menghampiri.
Rumah dan berbagai barang yang dikumpulkannya selama puluhan tahun rusak dan sebagian tertimbun. Ia memperkirakan total kerugian, termasuk rumah dan perabotan di dalamnya, mencapai sekitar Rp360 juta.
Baginya, angka itu bukan sekadar nominal. Di baliknya ada puluhan tahun perjuangan.
Ia mulai berusaha sejak sekitar tahun 2001. Dari berjualan ayam, ikan kering, hingga berbagai barang lainnya, sedikit demi sedikit hasil jerih payah dikumpulkan hingga akhirnya bisa membangun kehidupan dan usaha yang dimilikinya sekarang.
“Dengan susah payah saya sudah berapa puluh tahun. Tapi hanya sedetik saja, langsung hilang. Apalagi saya menyaksikan sendiri bagaimana semuanya porak-poranda,” ungkapnya.
Meski berat menerima kenyataan, ia mencoba menguatkan diri.
“Tidak ikhlas juga salah, karena semuanya sudah terjadi. Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang bisa mengambil,” ucapnya lirih.
Namun, di balik kehilangan itu, ia bersyukur karena dirinya dan orang-orang yang berada bersamanya masih selamat.
Di tengah kondisi tersebut, persoalan lain muncul. Ia ternyata masih menjalani pengobatan. Obat yang seharusnya diminum beberapa hari ke depan ikut tertimbun di dalam rumah yang rusak.
Termasuk hasil pemeriksaan rontgen dan obat-obatan yang masih dibutuhkannya.
“Saya sebenarnya masih harus minum obat. Tapi obatnya sudah tertimbun oleh bangunan, saya tidak bisa ambil,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuatnya berharap ada bantuan obat dari pihak pemerintah maupun tenaga kesehatan.
Ia bahkan telah menyampaikan jenis obat yang sebelumnya diberikan dokter kepada petugas kesehatan. Harapannya sederhana obat tersebut dapat kembali diperoleh sehingga pengobatannya tidak terputus.
“Yang paling penting saya sehat dulu. Untuk yang lainnya, saya serahkan kepada pemerintah atau siapa saja yang bisa membantu,” ungkapnya.
Tidak hanya dirinya, anggota keluarga juga mengalami luka pada kaki akibat kejadian tersebut.
Sejak rumahnya tidak lagi aman, ia bersama keluarga memilih membuat tenda sederhana di luar rumah.
Keputusan itu diambil karena mereka tidak berani lagi tidur di dalam bangunan yang telah mengalami kerusakan.
Malam pertama setelah kejadian menjadi malam penuh kecemasan. Mereka sempat memilih tidur di tempat lain setelah mendengar adanya kekhawatiran tentang orang yang mencoba masuk ke rumah.
Namun, akhirnya mereka memutuskan kembali dan mendirikan tenda kecil di luar.
“Kalau masih bertahan di dalam, kita takut mati. Jadi kami pilih bangun tenda di luar,” ujarnya.
Di tenda sederhana itulah mereka mencoba kembali tidur dan menjalani hari.
Ia dan istrinya selama ini tinggal berdua. Mereka tidak memiliki anak, tetapi anak-anak dari saudaranya sering datang dan menghabiskan waktu bersama mereka, terutama saat liburan.
Karena itu, rumah tersebut bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi tempat berkumpul keluarga.
Sebagian hasil pertanian seperti kopi yang masih berada di lokasi lain juga berusaha mereka selamatkan. Ada pula bangunan yang selama ini digunakan untuk menampung hasil pertanian yang kini terpaksa dimanfaatkan sebagai tempat berlindung sementara.
Membangun kembali rumah dan tempat usaha tentu membutuhkan biaya besar.Bamun, untuk saat ini ia tidak ingin terlalu banyak menuntut.
Harapannya hanya satu.
“Saya mohon bantuan berupa obat. Saya minta penyembuhan dulu," ujarnya.
Sementara untuk rumah, harta benda, dan kerugian lainnya, ia memilih menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan berharap ada perhatian dari pemerintah serta pihak-pihak yang peduli.
Bagi korban gempa ini, setelah puluhan tahun membangun kehidupan, kehilangan harta memang terasa berat. Tetapi di tengah reruntuhan yang menyisakan luka, ia masih menggenggam satu hal yang jauh lebih berharga kesempatan untuk tetap hidup dan kembali sehat. (Iar)